
Keesokan harinya
Seperti biasa, Vanya selalu bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan. Sarapan untuknya dan juga untuk Marcell. Ia yakin, Marcell pasti akan mendatangi dirinya pagi-pagi. Selalu seperti itu jika ia telah melakukan kesalahan pada Vanya.
*tit ... tit ... tit ...
Ceklek*
Saat Vanya tengah mengaduk supnya, ia mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Tak perlu ia pergi melihat, ia sudah tahu siapa yang saat ini tengah mendatanginya.
'Sabar, Vanya. Sabar,' batin Vanya.
Vanya tak mau ambil pusing lagi dengan semua tingkah laku Marcell di luaran sana. Daripada ia melawan, pasti ia akan mendapatkan pukulan darinya. Apalagi siang nanti ia harus menjalani pemotretan, jadi ia tak mau sampai ada orang yang tahu tentang memar di tubuhnya jika ia memang mendapatkan pukulan dari Marcell.
Setelah menunggu beberapa saat, Vanya tak merasakan kedatangan Marcell di dapur. Itu artinya Marcell tidak langsung menghampirinya tapi memilih untuk pergi ke kamarnya.
''Begitu lebih baik. Daripada aku harus mencium parfum milik wanita lain, itu akan membuatku semakin jijik padanya.'' gumam Vanya sambil mempersiapkan dan menata piring di meja makan. Setelah menata seluruh makanan di atas meja, ia beralih ke kamar untuk segera membersihkan diri.
Ceklek
__ADS_1
Pemandangan pertama yang dilihat oleh Vanya adalah punggung atletis Marcell yang saat ini tengah berdiri membelakanginya. Tampak ia baru saja selesai mandi karena masih menggunakan handuk di pinggangnya serta mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Vanya, Vanya melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandinya. Dibelakang Vanya, Marcell hanya melihat kepergian wanita itu dengan tatapan mata yang tak bisa di tebak.
Setelah mengeringkan rambut, Marcell segera menuju walk in closet dan memakai setelan yang tersedia disana. Setelah memastikan penampilannya, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vanya.
Ceklek
Vanya bernapas lega saat ia tak melihat batang hidung Marcell di dalam kamarnya. Tak mau ambil pusing, Vanya segera bersiap-siap. Dengan menggunakan jas berwarna biru bergaris dipadukan dengan celana panjang berwarna putih, membuat Vanya terlihat sangat cantik. Tak lupa dengan high heels nya yang tak terlalu tinggi dan berwarna transparan semakin menunjang penampilannya. Rambut coklatnya dibiarkan tergerai indah, riasan wajahnya yang tipis ditambah parfum favoritnya yang beraroma sangat lembut menjadikan penampilan Vanya paripurna hari ini.
''Done,'' ucap Vanya dengan riangnya sambil menatap penampilannya di cermin.
Dirasa penampilannya sudah sempurna, Vanya bergegas keluar dari kamarnya. Ia melangkahkan kakinya ke dapur untuk segera sarapan.
'Semiga dia sudah lebih dulu berangkat,' batin Vanya. Ia sungguh malas jika harus bertemu dengan Marcell pagi ini.
Namun sepertinya Dewi Fortuna tidak berpihak padanya kali ini. Ia melihat Marcell yang saat ini tengah duduk dan menikmati sarapannya, tanpa menunggu dirinya terlebih dahulu. Vanya mencoba menenangkan dirinya dengan menghela napas panjangnya sebelum ia melangkahkan kakinya menuju meja makan tersebut.
Tak mau menyapa lebih dulu, Vanya hanya diam dan ikut bergabung dengan Marcell lalu duduk di depannya. Hanya dentingan sendok dan garpu pada piring, yang terdengar di sana. Baik Vanya dan Marcell masih saja saling diam. Setelah beberapa saat kemudian terlihat Marcell lebih dulu selesai dengan sarapannya.
__ADS_1
''Van, aku berangkat dulu. Sampai ketemu di kantor,'' ucap Marcell sambil berdiri dari duduknya. Vanya hanya menganggukkan kepala tanpa melihat ke arah Marcell yang saat ini tengah memakai jasnya. Marcell tahu saat ini Vanya masih marah dengan dirinya. Tapi ia sendiri enggan untuk meminta maaf pada Vanya.
Merasa dirinya diabaikan oleh Vanya, Marcell memilih membiarkannya dulu dan segera berangkat ke kantor.
Sepeninggalan Marcell, Vanya pun bisa bernapas lega.
*drrrtt
drrrtt*
Vanya mendengar suara ponselnya yang bergetar di dalam tasnya. Setelah menghabiskan sarapannya, Vanya meraih tasnya dan mengambil ponselnya dari dalam sana. Nama Renata terpampang jelas di layar pipih itu, mengiriminya sebuah pesan.
Senyum merekah menghiasi wajah cantik Vanya saat ia melihat dan membaca pesan dari sahabatnya itu. Tak mau menunggu lebih lama lagi, ia beranjak dari duduknya dan segera membereskan meja makannya dan mencuci piring miliknya dan Marcell.
''Let's go! Lupakan masalah kemarin, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Semangat, Vanya." ucap Vanya pada dirinya sendiri. Baginya, siapa lagi yang mendukungnya selain dirinya sendiri. Setelah semuanya sudah beres, Vanya bergegas pergi meninggalkan apartemen miliknya.
*vroom
vroom
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...