Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 11 Sarapan pagi bertiga


__ADS_3

"Mar-Marcell?"


Betapa terkejutnya Vanya melihat Marcell yang saat ini tengah berdiri tegap di depan pintu itu. Detak jantung Vanya bertalu-talu kala melihat tatapan tajam dari kekasih sekaligus bosnya sendiri tersebut.


"Ngapain lama-lama di dalam?" tanya Marcell. Memang Vanya menghabiskan waktu hampir empat puluh lima menit di dalam kamar mandi. Sehingga membuat Marcell penasaran dengan apa yang dilakukan oleh wanitanya itu.


"Ti-tidak. A-aku tidak melakukan apa-apa. Tadi aku merasakan sakit perut," jawab Vanya berbohong dengan degup jantungnya yang masih memburu. Ia berusaha tetap tenang agar tidak menimbulkan rasa curiga untuk Marcell.


Sekali lagi Marcell memindai tubuh Vanya dari atas ke bawah lalu ia mengibaskan tangannya.


"Sudahlah, minggir. Aku mau mandi," Setelah mengatakan itu, Vanya menyingkirkan tubuhnya dan mempersilakan Marcell memasuki kamar mandi itu.


'Sabar, Nya. Percayalah, habis gelap terbitlah terang.' ucap Vanya dalam hati. Ia menyemangati dirinya sendiri.


Setelah Marcell menutup pintu, Vanya bergegas masuk ke dalam walk in closet nya dan berganti pakaian. Tak lupa pula ia menyiapkan pakaian ganti untuk Marcell. Karena ini hari Sabtu dan kantor libur, Vanya menyiapkan pakaian santai untuk Marcell.


Dengan mengoleskan sedikit makeup tipis, Vanya keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Karena sudah lewat pukul sembilan, ia pun hanya ingin membuat sarapan yang sederhana. Mengingat tubuhnya masih terasa lemas akibat permainan Marcell tadi.


Tak perlu membutuhkan waktu lama, tiga buah sandwich isi daging sapi sudah siap di atas meja. Selain itu Vanya juga menyiapkan secangkir kopi untuk Marcell dan dua gelas susu putih hangat untuk dirinya dan juga Danish.


Setelah meletakkan semua sarapan di atas meja, Vanya segera pergi ke dalam kamar yang satunya. Ia berencana membangunkan Danish untuk sarapan.


*ceklek


Ia bisa melihat sesosok bertubuh mungil yang sedang tidur tengkurap di atas ranjang besar itu. Sudut bibirnya terangkat melihat wajah damai anak kecil itu. Seakan tak ada beban sama sekali. Lagipula mana ada bocah kecil banyak pikiran? Ada-ada saja pikiran Vanya.


Ia pun menghampiri sisi kiri ranjang dan duduk di pinggiran. Melihat anak dari sahabatnya yang tertidur pulas itu, membuat Vanya tanpa sadar mengangkat tangan kanannya. Ia mengelus Surai hitam milik Danish.


Masih membekas di ingatannya kala dirinya masih berusia seperti Danish. Semenjak kecil, ia selalu membantu ibu panti mengurus adik-adiknya. Bahkan itu berlangsung hingga saat ini. Tak pernah terpikirkan oleh dirinya jika ia akan menjadi seperti ini.


Segera ia enyahkan pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam kepalanya.

__ADS_1


'Ini sudah takdirku. Bagaimanapun aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati,' ucap Vanya dalam hati. Ia selalu menanamkan kata-kata tersebut di dalam hatinya. Agar ia tidak mengeluh dan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.


"Danish?" panggil Vanya sambil membelai rambut nya.


"Danish, bangun sayang." ulang Vanya sambil menggoyangkan tubuh mungil Danish.


Eungh ....


Terlihat Danish mulai menggeliat sedikit. Tak menyerah, Vanya berusaha membangunkan anak tersebut. Hingga setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya Danish kini sudah ganteng dan siap untuk sarapan pagi. Keduanya pun bergegas menuju meja makan.


"Apa mommy belum datang, Aunty?" tanya Danish saat ia sudah duduk di kursi dengan bantuan Vanya.


"Sepertinya belum, sayang. Memangnya kenapa? Kamu jenuh ya disini?" tanya Vanya sambil membantu Danish memotong-motong sandwich nya agar mudah untuk dimakan.


"Iya, Aunty. Biasanya kan aku ikut mommy ke cafe," jawab Danish.


"Hallo, Boy," suara berat milik Marcell terdengar menyapa bocah itu. Membuat Vanya dan Danish mengalihkan pandangan mereka ke arah Marcell yang saat ini berjalan ke arah mereka.


Setibanya di meja makan, Marcell mengambil posisi tempat duduk tepat di sebelah kiri Danish. Karena Vanya saat ini duduk di sebelah kanan Danish.


"Em, Marcell?" panggil Vanya.


"Hm,"


"Nanti bolehkan aku pergi ke panti setelah mengantarkan Danish?" tanya Vanya.


Mendengar hal itu Marcell beralih memandang Vanya.


"Panti? Kamu mau ke panti?" Vanya hanya menganggukkan kepala mendengar pertanyaan dari Marcell. Lalu Marcell mengangguk kecil kemudian melanjutkan acara sarapannya.


"Jangan pulang terlalu sore. Malam ini temani aku pergi ke acara salah satu kolegaku," ucap Marcell. Vanya mengeryitkan dahinya mendengar ucapan tersebut.

__ADS_1


"Acara apaan? Dimana?" tanya Vanya penasaran.


"Acara ulang tahun teman lamaku. Acaranya di salah satu vilanya di pesisir pantai Utara," ucap Marcell.


"Malam ini? Jam berapa?" tanya Vanya.


"Acara dimulai jam sepuluh,"


"Baiklah,"


Ketiganya pun melanjutkan acara sarapan mereka. Tanpa adanya obrolan berarti hanya ada celotehan dari Danish dan Marcell sedangkan Vanya hanya menyimak dan sesekali menimpali.


----------------


di tempat lain


Terlihat seorang laki-laki yang masih tidur dalam posisi tengkurap tanpa menggunakan atasan. Hanya menggunakan bokser miliknya. tatto sayap di tengkuknya, dan beberapa di bagian lengannya membuat tubuh laki-laki itu terlihat macho. Sinar matahari yang masuk melalui celah tirai di jendelanya tak membuat laki-laki itu terusik. Hingga bunyi nyaring dari ponselnya membuatnya menggeliat.


*tringg


tringg


tringg*


Dengan malas ia meraba-raba nakasnya dan meraih ponsel milik nya.


"Hm," suara seraknya terdengar kala ia mengangkat panggilan tersebut.


"...."


"What the ...."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2