Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 34 Bertengkar lagi


__ADS_3

Plak


Sebuah tam..paran keras dilayangkan oleh Marcell di pipi kanan Vanya. Bahkan saking kerasnya membuat sudut bibirnya tampak mengeluarkan bercak darah.


Saat ini keduanya berada di apartemen milik Vanya. Setelah pemotretan tadi berakhir, Marcell menyuruh Vanya langsung pulang. Disinilah mereka berada.


''Apa hubunganmu dengan laki-laki itu, hah?'' tanya Marcell sambil kedua matanya melotot kearah Vanya. Vanya tampak santai menghadapinya, seakan tak merasakan sakit pada pipinya. Sudah terlalu sering ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Senyuman tipis tercipta di kedua sudut bibir Vanya yang memerah. Ia menatap sekilas ke arah Marcell.


''Tak ada apa-apa. Kami hanya ngobrol biasa,'' jawab Vanya santai sambil melangkahkan kakinya melewati Marcell menuju ke arah dapur. Tadinya ia baru saja masuk ke dalam apartemen, namun tak di sangka langsung mendapatkan perlakuan kasar Marcell. Ia bahkan menjawab pertanyaan dari Marcell tanpa melihat kearahnya. Tentu itu semakin membuat Marcell kesal padanya.


''Nggak mungkin. Asal kamu tahu dia bukan orang sembarangan, Vanya. Darimana kamu mengenalnya, hah? Jangan-jangan kalian memang main-main dibelakang ku selama ini, iya? Jawab, Vanya!'' Bentak Marcell sambil menarik tangan kiri Vanya yang sedang menenggak minuman miliknya didepannya. Membuat Vanya memutar tubuhnya hingga keduanya kini berhadapan.


Prang


Gelas yang berisi air putih itu terjatuh dan hancur seketika. Itu dikarenakan tarikan tangan Marcell yang membuat Vanya terkejut hingga pegangan tangannya terlepas dari gelas kaca tersebut. Kesabaran Vanya sudah menipis, tangannya mengepal kuat. Bukan karena pecahan kaca yang mengenai ujung jari kakinya, tapi karena ucapan Marcell yang membuat luka dalam hatinya kembali menganga.


''Bermain-main? Dengar! Aku bukan kamu, Marcell. Ingat! Aku bukan dirimu. Yang bahkan dengan tidak tahu malunya menung..gangi wanita lain di depan kedua mataku. Dan paling parahnya tidak hanya satu dua kali saja, bahkan aku sudah muak menghitungnya. Sekarang kamu mencurigai ku hanya karena aku mengobrol dengan laki-laki lain. Oh God. Sebaiknya kamu ngaca, Marcell. Pantaskah kau menuduhku seperti itu sedangkan kelakuanmu sendiri tak lebih dari seekor bina..tang?'' ucap Vanya dengan wajahnya yang terlihat memerah. Bahkan kedua mata Vanya berair dan memerah, memancarkan amarah yang tak pernah Marcell lihat sebelumnya. Marcell pun terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Vanya.


Bugh

__ADS_1


"Bina..tang kamu bilang, hah? Kita itu sama, Vanya. Jangan kamu berlagak suci disini. Bahkan dulu pertama kali aku memakaimu, kamu sudah tidak per...awan lagi, Vanya. Kamu ingat kan? Kita itu tak ada bedanya. Jadi jangan Berani-beraninya kamu mengataiku seperti ini," Bentak Marcell setelah ia melayangkan Bogeman mentah di rahang kiri Vanya. Ia tak terima Vanya mengatainya seperti itu. Baginya, dia dan Vanya itu sama. Bedanya, Marcell masih saja bermain-main hingga sekarang, sedangkan Vanya tidak. Marcell menganggap Vanya tak lebih dari seorang ja.. lang seperti yang lainnya.


"Selalu itu yang kamu jadikan acuan, Marcell. Sejak dulu hingga sekarang. Sudah berapa kali aku bilang jika dulu aku itu korban pemer..kosaan. Tapi apa? Kamu itu tidak pernah percaya dengan ucapan ku." balas Vanya dengan tak kalah tingginya. Napasnya ikut memburu seperti Marcell.


*Plak


plak*


Marcell yang kesal dengan nada tinggi Vanya langsung melayangkan beberapa kali tam..paran di kedua pipi Vanya. Vanya hanya bisa berlinangan air mata sambil membalas tatapan tajam Marcell. Sudah cukup bagi Vanya. Ia sudah lelah.


grep


Namun Vanya kelihatannya tak takut sedikitpun dengan Marcell. Ia bahkan menatap tajam balik kedua mata Marcell, meski buliran air mata mengalir dari sudut matanya.


''Kenapa? Mau pukul lagi, hah? AYO, PUKUL AKU MARCELL. PUKUL LAGI NIH,'' Teriak Vanya sambil memberikan pipi kanannya kepada Marcell. Marcell yang diprovokasi seperti itu langsung bereaksi, napasnya kian memburu, kedua matanya tampaknya kian memerah.


Bugh


Dengan keras Marcell menghempaskan tubuh ramping Vanya kebelakang, hingga membuat pinggang Vanya terkena pinggiran meja dapurnya. Ingin rasanya Vanya memekik kesakitan, namun sekuat tenaga ia menahannya. Ia terduduk di bawah sana.

__ADS_1


*bugh


bugh


bugh*


''Si...alan! Ini balasannya kalau kamu berani sama aku, Vanya. Rasakan ini, hah." ucap Marcell disela-sela ia memukuli tubuh Vanya. Tak ada balasan dari Vanya, ia hanya diam menerima semua perlakuan kasar dari kekasihnya itu.


Argh


Deru napas Marcell memburu setelah ia melampiaskan semua amarahnya kepada Vanya. Tak ada rasa belas kasihan Marcell melihat wajah Vanya yang kini sudah babak belur akibat ulahnya itu sendiri. Ia menjambak kuat rambutnya, melampiaskan kekesalan yang masih tertinggal di dalam dirinya tersebut.


Tak mungkin ia memukuli Vanya lagi. Ia masih waras untuk tidak membunuh Vanya saat ini.


Marcell berjalan meninggalkan Vanya di sana. Namun belum sempat ia melangkah jauh, ia mendengar suara lirih Vanya yang membuat Marcell menghentikan langkahnya.


''Kita akhiri saja hubungan toxic ini, Marcell. Kita tidak mungkin bisa bersatu. Aku sudah lelah.''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2