Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 84 Informasi tentang Vanya


__ADS_3

''Ta-tapi, Ar..'' belum sempat Vanya meneruskan ucapannya, Arga lebih dulu menyela.


''Ikuti langkahku, atau akan menggendongmu, hm?'' Vanya hanya bisa diam lalu menganggukkan kepala mendengar titah laki-laki itu. Entah kenapa ia tak bisa membantah ucapan dari Arga.


Tak mau membuat keributan yang akan memancing kerumunan orang - orang yang ada di apartemen, Vanya memilih untuk pergi mengikuti langkah Arga yang kini mengajaknya ke apartemen miliknya yang berada di lantai paling atas.


''Masuklah,'' perintah Arga sambil membukakan pintu untuk Vanya.


Vanya mengangguk lalu berjalan memasuki tempat itu. Tubuh Vanya membeku saat merasakan lengan kekar yang memeluk tubuhnya dari belakang.


''Kau tahu, Van. Kau sangat menyakiti hatiku,'' keluh Arga pada Vanya. Vanya hanya bisa diam sambil memejamkan mata, merasakan terpaan napas hangat yang menyentuh tengkuknya.


Cup


Sebuah kecupan mesra Arga layangkan untuk Vanya di kulit lehernya yang jenjang. Tubuh Vanya seakan tersengat akibat ulah dari kekasih tercintanya itu.


Arga yang melihat Vanya diam, perlahan ia melancarkan aksinya. Tangan kanan Arga mulai terulur menuju ke bawah. Membelai kulit mulus Vanya yang kini menggunakan rok mininya.


Eugh


Suara merdu Vanya mulai terdengar saat kedua tangan kekar milik Arga beraksi. Satu tangannya berada di bawah, sedang tangan satunya berada di atas. Bergantian bermain dengan buah favoritnya itu.


Vanya yang mulai terbakar akibat sentuhan itu langsung menarik kepala Arga dan menciumnya dari samping. Arga tentu bahagia dan senang hati menyambut baik ajakan Vanya.


Tak mampu lagi menahan diri, Vanya dan Arga segera melepaskan diri mereka. Dengan cepat keduanya saling melepaskan pakaian masing-masing dan sedikit berlarian menuju kamar yang ada di sana. Kamar yang menjadi saksi gelora cinta kedua insan yang tengah di mabuk asmara tersebut.


Di tempat lain


*tok


tok*


''Masuk,''


Seorang laki-laki berseragam hitam memasuki kamar perawatan milik Leon. Ia membawa sebuah map berwarna merah di tangan kanannya.

__ADS_1


''Ini, Tuan. Informasi yang anda inginkan,'' ucap laki-laki itu seraya mengulurkan map itu kepada Leon.


''Thanks, Brian.'' ucap Leon menerima map tersebut. Hanya anggukan yang ditunjukkan oleh Brian padanya.


Brian Orlando. Asisten sekaligus tangan kanan Leon yang selalu ada dimanapun ia berada. Saat kecelakaan kemarin, Brian tengah melakukan pertemuan dengan seorang relasi bisnis Leon menggantikan dirinya.


Hari itu memang Leon memiliki dua pertemuan pada jam yang sama. Oleh sebab itu, mau tak mau Leon akhirnya menyuruh asistennya tersebut untuk menggantikannya.


Deg


''Apakah ini valid?'' tanya Leon. Ia terkejut saat melihat informasi tentang Vanya tersebut.


''Benar, Tuan. Saya menyewa seorang detektif untuk menyelidiki semua yang berkaitan dengan Nona Vanya.'' jawab Brian.


Kedua tangan Leon terkepal erat kala melihat kehidupan Vanya yang sangat mengejutkan sekaligus menyedihkan baginya. Hatinya sakit saat melihat kehidupan Vanya selama ini.


''Marcell Darwin? Siapa dia?'' tanya Leon.


''Pemilik agency tempat Nona Vanya bekerja, Tuan. M.D ENTERTAINMENT.'' jawab Brian.


'' Pemilik perusahaan Wijaya group dan juga Blue moon club' , Tuan. Saat ini Nona Vanya juga menjalin kasih dengan laki-laki bernama Arga ini. Laki-laki ini juga membeli apartemen yang sama dengan milik Nona Vanya.'' jelas Brian. Leon hanya bisa menahan diri untuk tak meluapkan amarahnya saat ini. Keadaannya yang masih terbaring di rumah sakit itu membuat geraknya terbatas. Apalagi memang fisiknya masih lemah jika memaksakan kehendaknya saat ini.


''Kapan aku akan keluar dari sini, Brian?'' tanya Leon sambil meletakkan map itu di nakas.


''Kalau menurut dokter, jika fisik Tuan membaik dengan cepat, butuh waktu seminggu lagi.'' jawab Brian.


sial


Leon hanya bisa mengumpat dalam hati. Namun disisi lain ia kini juga bahagia akhirnya semesta mempertemukan dirinya dengan adik yang selama ini ia cari. Kini ia sangat semangat sekali untuk segera sembuh. Leon ingin segera pergi menemui Vanya dan memeluknya.


''Dimana Daddy sekarang ?'' tanya Leon.


''Tuan besar saat ini sedang berada di hotel, Tuan.'' jawab Brian.


''Aku mau kamu segera menyelesaikan segala pekerjaan kita disini. Sebelum seminggu harus selesai. Setelah itu kita akan langsung pergi ke Indonesia menemui adikku.'' ucap Leon tegas. Ia meraih ponselnya dan membuka galeri fotonya.

__ADS_1


'Bersabarlah, Sayang. Kita akan segera bertemu. Kakak akan segera membawamu pulang menemui Mommy dan Daddy. Kakak akan melindungi mu agar tak ada lagi yang bisa menyakitimu. Kakak sangat menyayangimu, Ella.' batin Leon sambil mengelus ponselnya yang saat ini menampilkan foto wanita yang tak lain adalah Vanya Avriella atau Avriella Christofera Nerotouw. Adik satu-satunya yang telah lama menghilang kini akhirnya ketemu. Tak ada kebahagiaan yang lain selain mengetahui jika adiknya ternyata masih ada di dunia ini dan juga sudah bertemu dengannya. Meski ia belum pernah melihatnya secara langsung, tapi Vanya lebih dulu melihat Leon.


''Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan melanjutkan pekerjaan kit yang tertunda,'' ucap Brian.


''Hm, pergilah.'' sahut Leon sambil mengibas-ibaskan tangannya. Brian membungkukkan badannya lalu berlalu meninggalkan kamar perawatan milik Leon.


Sepeninggal Brian, Leon segera mencari kontak yang ada di dalam ponselnya. Setelah menemukannya, Leon segera menghubunginya.


*Tut


Tut*


"...."


''Aku ingin kau perintahkan anak buahnya untuk mengawasi adikku dari jauh. Selain itu awasi juga laki-laki bernama Marcell Darwin dan juga Arga Wijaya. Laporkan setiap pergerakan kedua laki-laki itu.'' ucap Leon dingin. Pandangannya tajam, menerawang membayangkan jika dirinya bertemu dengan kedua laki-laki yang berhubungan dengan adiknya itu.


Setelah mendapat sahutan dari seberang sana, Leon mengakhiri panggilan tersebut. Pikirannya kini melayang, membayangkan wajah cantik adiknya yang mirip dengan mamanya. Namun sayang, mamanya kini masih setia dengan tidur panjangnya. Setiap teringat dengan itu, hati Leon terasa sedih sekali.


'Aku akan membawa Ella pulang. Semoga dengan kembalinya Ella, Mommy bisa bangun dari tidurnya. Ya, semoga saja.' bayi. Leon yang menyemangati dirinya untuk segera sembuh agar bisa menemui Vanya di Indonesia saat ini.


Saat Leon masih asyik dengan lamunannya, terdengar suara pintu yang terbuka. Menginterupsi Leon hingga membuatnya menoleh ke arah sumber suara.


''Daddy?'' panggil Leon saat melihat Chris-lah yang memasuki ruangannya.


''Hm, bagaimana keadaan mu, Son?'' tanya Chris.


'' Baik, Dad. O iya, Dad. Aku ada berita bagus.'' ucap Leon sambil memperlihatkan senyum tipis nya.


''What is that?'' tanya Chris. Sebelum menjawab, Leon memberikan map tadi kepada Chris.


Chris yang masih bingung hanya bisa mengeryitkan dahinya sambil menerima map tersebut.


''Apa ini?'' tanya Chris penasaran.


''Ella,''

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2