Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 6 Tatapan mata abu-abu


__ADS_3

Setelah acara peresmian pembukaan cafe ANDA selesai, para tamu undangan satu persatu meninggalkan cafe tersebut.


Kini tinggallah Anisa dan para sahabatnya yang masih berada di dalam cafe tersebut. Tak lupa juga para pelayan cafe yang tengah sibuk membereskan sisa-sisa dari acara tadi.


"Jadi bagaimana selanjutnya hubungan kalian?" tanya Alvin kepada Daniel dan juga Anisa. Anisa hanya diam sambil menoleh kearah laki-laki yang dicintainya itu.


"Of course gue akan segera melangsungkan pernikahan kami. Tapi sebelum itu, Nisa harus gue ajak ketemu sama Daddy and Mommy. Mereka harus tahu kalau mereka sudah mempunyai cucu yang selama ini mereka idam-idamkan," ucap Daniel sambil mengelus puncak kepala Danish yang tengah tertidur dipangkuan Anisa.


Anisa yang mendengarnya merasa semakin bersalah telah mengambil keputusan yang salah dulu. Memisahkan Danish dengan ayah kandungnya, bahkan tidak mengatakan keberadaannya.


"I'm so sorry, han," bisik Anisa.


"Buktikan permintaan maafmu dengan tulus nanti malam, bee.... cup" balas bisik Daniel sambil melabuhkan kecupan sayang di pucuk kepalanya. Anisa yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa tersipu malu sambil menundukkan kepala.


"Sepertinya ini sudah larut malam," ucap Alex menginterupsi semuanya yang ada di sana. Sontak mereka langsung memandangi jam tangan mereka masing-masing. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih.


" dimana rumah mu ? " tanya Daniel kepada Nisa.


" aku belum sempat menemukan tempat tinggal karena terlalu sibuk mengurus cafe ... selama ini aku tinggal bersama Vanya dan Rena di apartemen Vanya. " ucap Nisa menjelaskan keadaannya kepada Daniel.


" biarkan Danish malam ini bersama mereka.. kamu harus ikut dengan ku bee " ucap Daniel sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Anisa. Para wanita disana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Daniel.


"Ta-tapi .... " ucap Nisa terpotong karena Vanya yang menyela.


" biarkan Danish bersama kami ... kalian bersenang-senanglah " ucap Vanya sambil tersenyum penuh arti lalu mengangkat tubuh Danish yang sedang tertidur pulas di pangkuan Nisa.Ia tahu kalau sahabatnya itu butuh waktu berdua setelah sekian lama berpisah dengan kekasih hatinya.

__ADS_1


" kami pulang dulu ya kak " ucap Vale. Daniel hanya menganggukkan kepalanya.


kemudian Vale , Alex dan Angel pergi dari cafe itu.


" kami juga akan pulang " ucap Arga kepada Daniel.


" Han ... tapi bagaimana dengan Vanya ? dia harus membawa Danish pulang sedangkan ia tadi kesini menggunakan taksi.. bagaimana kalau kita Mengantar mereka ? " tanya Nisa yang bingung kepada Daniel berharap ia bisa menghindari malam ini. tapi Daniel sepertinya mengerti tentang pemikiran Nisa itu.


" tidak usah bee .... biarkan Arga yang mengantar nya " ucap Daniel. Laki-laki itu melemparkan tatapan matanya kepada sahabatnya.


" bisa kan ? " kini tanya Daniel kepada Arga sambil menatapnya tajam.


" haih .... baiklah .... kalau begitu ayo aku antar " ucap Arga sambil melihat ke arah Vanya. Vanya hanya bisa menunduk menghindari pandangan mata laki-laki itu.


'Aduh, kenapa harus diantar dia sih? Aku sangat risih melihat pandangan matanya yang sejak awal acara hingga sekarang selalu saja menatapku. Kenapa juga dengan tubuhku? Tubuhku rasanya tak nyaman mendapatkan tatapan tajam dari laki-laki bermata abu-abu terang itu," batin Vanya menjerit.


Sejenak Vanya menggelengkan kepalanya mengusir kata-kata setan yang berusaha mempengaruhi pikirannya. Arga yang melihat Vanya berjalan disampingnya sambil geleng-geleng kepala dibuat heran.


Tak sadar Vanya melamun sibuk dengan pikirannya, membuat dirinya tanpa sadar berjalan berbeda arah dengan Arga.


Arga yang mengetahui itu langsung menepuk pundak Vanya. Namun bukannya berhenti, justru Vanya tetap melangkahkan kakinya menuju pintu keluar halaman parkir mobil.


"Van-Vanya," panggil Arga. Lagi-lagi Vanya tak menggubrisnya.


Arga yang sudah kehabisan kata-kata langsung merengkuh pinggang Vanya sambil sedikit meremasnya hingga membuat Vanya tersadar dari lamunannya dan berhenti di tempat. Tubuhnya menegang kala merasakan sebuah tangan yang menyentuh pinggangnya bahkan ia bisa merasakan remasan disana.

__ADS_1


"Vanya,?" panggil Arga lagi.


"I-iya," jawab Vanya terbata sambil menundukkan kepala.


"Are you okay?" tanya Arga.


"Hm," Vanya hanya bergumam menjawabnya.


"Mobilku ada di sebelah sana," ucap Arga sambil menunjuk kearah belakang mereka.


Vanya yang tersadar langsung mengedarkan pandangannya. Benar saja, ia kini berjalan ke arah pintu exit halaman parkir.


'Bodohnya aku," runtuk Vanya dalam hati.


"Astaga, sorry," ucap Vanya kepada Arga. Arga yang mendengarnya hanya bisa tersenyum tipis.


"sepertinya kamu lelah, Van. Sini, Danish berikan padaku," ucap Arga yang mau mengambil alih Danish dari gendongan Vanya.


"Ta-tapi,"


"Sudahlah, sini." ucap Arga yang memotong perkataan dari Vanya. Mau tak mau Vanya memberikan Danish kepada Arga.


Setelah keduanya sampai di samping pintu mobil milik Arga, Vanya membantu membukakan pintu belakang untuk Arga.


Melihat Vanya yang mau mengambil alih Danish, seketika mendapatkan tatapan mata dari Arga.

__ADS_1


"Mau apa?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2