Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 64 Botol Wine


__ADS_3

Sambil menunggu pesanan makanan datang, Arga membersihkan serpihan kaca gelas yang berserakan di lantai bawah. Tadinya Vanya sendiri yang akan membersihkannya, namun dicegah oleh Arga. Lalu akhirnya ia sendiri yang turun tangan mengambil sapu dan peralatan lainnya untuk membersihkan lantai itu. Demi menghilangkan rasa bosannya, Vanya mengambil remote control dan menyalakan televisi yang ada di sana.


Ting tong


Setelah menunggu beberapa saat kemudian terdengar suara bel berbunyi. Arga segera bergegas membuka pintu kamar tersebut dan mengambil alih troli yang berisi makanan itu lalu membawanya masuk ke dalam kamar.


''Ayo makan kita dulu, baby.'' ucap Arga seraya membawa troli itu menuju meja sofa itu. Vanya pun menganggukkan kepala dan lekas membantu Arga menaruh piring-piring yang berisi makanan itu ke atas meja.


''Let's eat,'' ajak Arga lalu keduanya pun menikmati makan malam mereka meski saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam.


''Apa kamu tidak takut gendut, Van? Biasanya para wanita sangat menjaga pola makan mereka. Apalagi disaat malam-malam seperti ini,'' tanya Arga disela-sela aktivitas mereka.


Vanya menggelengkan kepalanya tanda tidak akan pertanyaan yang diberikan padanya.


''No. Aku dan Renata memang sejak dulu seperti ini. Mungkin kami sudah ditakdirkan dari sananya mempunyai bentuk tubuh yang ideal sehingga tidak perlu susah payah diet ketat untuk mendapatkan bentuk tubuh seperti ini. Hm, mungkin karena dari dulu kami juga rajin olahraga ringan setiap hari meski hanya 30menit sebelum beraktivitas. '' ujar Vanya sambil terus menikmati steak daging miliknya. Arga hanya mengamati setiap gerak-gerik Vanya yang menikmati makanannya itu. Sangat elegan dan berkelas. Tak terdengar dentingan suara garpu atau pisau disana, Vanya menyantap hidangan itu dengan sopan dan lembut.


''Bentuk tubuh?'' ucap Arga seketika pandangannya memicing kearah Vanya. Tatapan mata tajamnya menelisik mengamati seluruh tubuh Vanya dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah ia sedang memindai ke dalam pakaian Vanya yang saat ini ia gunakan.


Vanya yang menyadari arti tatapan mata Arga seketika dibuat melotot. Dengan cepat ia meraih bantal sofa disana dan melemparkannya ke arah Arga dan mengenai muka Arga yang saat ini tengah menatap ke arah bagian atas Vanya.


bugh


''Hei, itu pelanggaran, baby. Kenapa memukulku,'' gerutu Arga yang tak terima karena di lempari bantal oleh Vanya. Sedangkan Vanya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya.


''Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, Tuan. Ck, menyebalkan.'' ucap Vanya lalu ia kembali menikmati makanannya tanpa menghiraukan celotehan Arga.


Sedangkan Arga hanya bisa tertawa dalam hati melihat wajah kesal yang diperlihatkan oleh Vanya padanya. Ia merasa terhibur dengan kehadiran Vanya di hidupnya.

__ADS_1


Tak mau merusak momen dinner malam ini, Arga dan Vanya kembali menikmati makan malam mereka dengan santai sambil menonton serial drama yang sejak tadi ditonton oleh Vanya. Meski Arga tidak menyimak film itu, tapi ia menemani Vanya disana.


Setelah makan malam itu berakhir, kini Arga dan Vanya kembali menikmati minuman yang tadi sempat terhenti. Arga pun juga sudah mengambilkan gelas kaca baru untuk Vanya. Namun yang berbeda, kali ini keduanya menikmati minuman mereka di balkon kamar sambil menikmati pemandangan malam disana.


Arga pun memberikan jasnya untuk dipakai oleh Vanya. Mengingat dirinya menggunakan gaun pesta yang terbuka bagian bahunya. Vanya hanya tersenyum saat melihat bagaimana Arga memakaikannya jas besar itu di tubuh rampingnya.


''Pemandangan disini sangat indah,'' ucap Vanya sambil berdiri di pinggir balkon menatap ke bawah sana. Lampu-lampu kota terlihat sangat indah Dimata, apalagi kendaraan-kendaraan lalu lalang dibawah sana yang semakin membuat mata Vanya dimanjakan.


''Hm, sangat indah.'' sahut Arga. Namun pandangannya bukan kearah bawah, melainkan ke arah wajah Vanya yang saat ini tengah tersenyum melihat pemandangan dibawah.


Seakan tahu tentang Arga yang kini menatapnya, Vanya berdehem sebentar sambil mengalihkan pandangannya ke arah sudut lain yang ada di samping kirinya.


ehem


Pemandangan sama dengan yang ada di sebelah kanan Vanya. Demi menghilangkan rasa gugupnya, Vanya berulang kali menyesap minuman itu sedikit demi sedikit. Hingga tanpa ia sadari minuman miliknya kini telah habis.


Saat Vanya hendak meraih botol wine itu, Arga mencegahnya sambil menggelengkan kepala.


''No. Stop, Van. Jangan terlalu banyak,'' ucap Arga mencegah tangan Vanya yang ingin memegang botol wine itu.


Wajah Vanya saat ini sudah terlihat mulai memerah akibat minuman itu. Oleh karena itu Arga mencegahnya. Namun Vanya malah terlihat cemberut karena tidak diperbolehkan untuk mengambil wine itu.


''Tapi aku masih ingin minum, Ar.'' Tanpa sadar Vanya kembali memanggil Arga dengan panggilan Ar. Tak pernah ada orang lain yang memanggilnya dengan sebutan itu padanya. Arga tersenyum tipis mendengarnya.


Ia yakin saat ini Vanya telah mabuk akibat minuman itu.


''No, Van. Kamu sudah mabuk sekarang,'' ucap Arga sambil mengambil alih botol wine dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. Vanya yang melihatnya langsung menyergap tubuh Arga dan berusaha mengambil botol itu.

__ADS_1


''No. Berikan padaku, Ar. Aku masih mau minum,'' ucap Vanya dengan tubuhnya yang memeluk tubuh kekar Arga. Sedangkan Arga yang tadinya terpaku karena serangan dadakan dari Vanya langsung tersadar. Ia langsung meletakkan gelas kacanya di pinggir balkon dan berusaha menangkap kedua tangan Vanya yang kini berada di belakang tubuhnya.


grep


Arga berhasil menangkapnya dengan menggunakan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memegang botol wine itu.


Melihat kedua tangannya yang kini berada dalam genggaman tangan Arga, membuat Vanya berontak.


''Lepasin, ih. Aku mau wine-nya. Lepasin,'' ucap Vanya sambil menggoyangkan tubuhnya tanpa sadar. Namun justru karena gesekan tubuhnya di tubuh Arga membuat Arga seketika dibuat pusing tujuh keliling.


''Oh, sh...it!" umpat Arga. Ia sampai memejamkan matanya sejenak akibat ulah Vanya padanya. Sedangkan Vanya yang sudah mulai terbawa oleh kandungan wine itu merasa dirinya menghangat. Ia pun berusaha berontak dengan sekuat tenaga agar bisa melepaskan cengkeraman tangan Arga padanya.


Arga yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis. Ia hanya bisa geleng-geleng sambil terus melihat usaha Vanya yang ingin melepaskan diri darinya.


Vanya yang merasa lelah karena tidak bisa melawan kekuatan Arga akhirnya terdiam sambil mengatur napasnya yang memburu. Arga Terkekeh melihatnya.


''Sudah, hm?'' tanya Arga sambil menundukkan kepala menatap ke arah wajah Vanya. Vanya yang mendengarnya seketika mendongak. Ia bisa melihat Arga yang tengah menahan tawanya saat ini. Vanya yang kesal seketika mengerutkan bibirnya. Lalu beberapa saat kemudian ia tersenyum menyeringai kepada Arga. Arga yang melihatnya seketika dibuat bingung. Belum juga beberapa saat Arga mengamati senyum Vanya, ia dibuat terkejut sekaligus kesakitan akibat injakan kaki Vanya yang tengah menggunakan heels tersebut.


Argh


Keluh Arga seketika saat Vanya menginjak kaki Arga. Dan karena hal itu tanpa sadar ia melepaskan pegangan tangannya. Tak menunggu waktu lama lagi, Vanya langsung terlepas dari Arga lalu ia langsung menyerobot botol wine itu dari tangan Arga.


''Yes. I got it. wlekk ...'' ucap Vanya setelah mendapatkan botol itu. Tak lupa ia menjulurkan lidahnya kepada Arga lalu ia secepat kilat membawa pergi botol itu dari sana. Ia berlari ke dalam kamar tersebut sambil tertawa lebar.


''Awas kau, Vanya.''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2