Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 70 Restoran


__ADS_3

''Harusnya tadi loe jangan halangi gue, Nya. Gue masih belom puas ngehajar tuh orang,'' ucap Renata sambil menggebu-gebu. Bahkan saking emosinya, kedua tangannya memegang erat sendok dan garpu nya.


Saat ini keduanya berada di salah satu restoran yang ada di dalam mall tersebut. Renata memesan semangkuk bakso jumbo dengan level kepedasan di nomor tujuh. Bayangkan saja bagaimana rasanya jika level satu saja menggunakan cabai lima. Berarti kalau level tujuh menggunakan cabai tiga puluh lima. Uh, pedasnya.


Sedangkan Vanya memesan seporsi burger king paket komplit. Sedangkan minumannya keduanya memilih memesan jus buah. Jus jeruk untuk Renata dan jus jambu merah untuk Vanya. Keduanya sangat menikmati waktu santai mereka dengan hal-hal biasa seperti ini.


''Dasar. Biarin aja sih, mau bilang apa mereka. Lagian inget posisi loe, Ren. Kalian itu dari dunia entertainment, pasti bakal kena sorotan media. Kita lihat aja ntar. Entah nanti atau besok, berita kalian pasti akan viral.'' ucap Vanya mengomel pada Renata. Sedangkan Renata hanya bisa mencebik kesal namun dalam hatinya ia membenarkan apa perkataan sahabatnya itu.


''Ish. Perasaan gue belain loe deh, Nya. Tapi kenapa jadi gue yang kena? Emangnya loe gak sakit hati apa? Dengerin ocehannya si nenek lampir itu, hah?'' tanya Renata heran karena sahabatnya itu tak bereaksi mendengar segala ucapan sampah yang dilontarkan oleh Cynthia padanya. Renata saja yang hanya sebagai sahabat kesalnya bukan main.


''Gue udah males banget ngadepin orang kayak dia, Ren. Biarkan anjing menggonggong, kafilah pasti akan berlalu. Itu pedoman gue dari dulu. Loe pasti tau itu,'' ucap Vanya santai sambil menikmati kentang goreng yang disajikan bersama burgernya.


''Ck, Loe tuh selalu begitu, Nya. Dih, kalau gue mah langsung hajar saja drpd dengerin ocehannya bikin pusing kepala.'' sahut Renata sambil terus menyendokkan potongan-potongan baksonya beserta kuahnya yang berwarna merah dan dipenuhi oleh biji cabai. Vanya yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Dari jaman sekolah hingga sekarang Vanya dan Renata selalu bersama. Menghabiskan masa remaja bersama, menikmati segala kuliner yang mereka temui sepanjang jalan, mendatangi berbagai tempat liburan idaman mereka, bahkan terjun di bidang modeling pun mereka masih tetap bersama.


Tak ada satupun diantara keduanya yang menyimpan rahasia. Keduanya saling terbuka satu sama lain. Bahkan kejadian Vanya lima tahun lalu itu Renata pun mengetahuinya. Karena memang dulu Renata - lah tempat curhat bagi Vanya. Begitu pula dengan Renata , Vanya merupakan tempatnya bersandar dan mencurahkan segala keresahan hatinya selama ini.


Oleh karena itu, kedua orang tua Renata pun selalu mendatangi Vanya pertama kali jika Renata tengah berseteru dengan Papa maupun Mamanya. Vanya pun selalu diterima baik jika ia tengah mendatangi kediaman orang tua Renata.


''Oh ya, anyway. Bukannya loe punya hutang penjelasan ya sama gue, hm?'' tanya Renata saat dirinya telah selesai dengan makanannya. Kini ia bersandar di kursinya sambil bersedekap menatap ke arah Vanya yang kini masih meminum jusnya.


''Ehem,'' deheman Vanya terdengar. Lalu ia menyelesaikan minumnya lalu kembali menegakkan tubuhnya menghadap ke arah Renata.


Vanya terlihat tengok kanan kirinya sebelum ia memberi kode kepada Renata untuk mendekat padanya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


''What?'' tanya Renata sedikit berbisik. Kini wajah Renata dan Vanya sudah dekat.


Ada rasa deg-degan di dalam diri Renata dan juga Vanya. Keduanya takut jika nanti pembicaraan mereka itu sampai terdengar di telinga orang lain.


''Loe ingat kan waktu si Marcell pergi ke toilet itu?'' tanya Vanya berbisik. Renata mencoba mengingat-ingat, lalu ia pun menganggukkan kepala.


''Nah. Ternyata itu semua akal-akalan Arga agar bisa deketin gue,'' ucap Vanya. Seketika kedua mata Renata membulat sempurna. Ia tak menyangka jika kejadian itu bagian dari skenario yang di bikin oleh para laki-laki itu.


''Gila tuh, cowok. Terus-terus ? Siapa yang ngasih tau Loe soal itu? Loe di bawa kemana sama tuh cowok?'' tanya Renata penasaran.


''Kemarin gue dibawa ke salah satu kamar hotel yang ada di sana. Dia juga yang menceritakan semuanya.'' jawab Vanya.


''What? Tung-tunggu dulu. Jangan-jangan kalian...'' Renata tak meneruskan kalimatnya tapi ia menatap lekat ke arah mata Vanya seakan memberi kode padanya. Tak beberapa lama kemudian Vanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Seketika membuat Renata histeris saat mengetahuinya.


Vanya yang terkejut langsung beranjak dari duduknya dan membungkam mulut ember sahabatnya itu.


''Ren, loe waras gak sih? Jangan teriak-teriak gitu. Kita jadi bahan tontonan orang-orang,'' ucap Vanya sambil melirik ke arah sekitarnya. Renata pun mengikuti arah pandang Vanya seketika membuatnya mengacungkan jari peace nya. Melihat hal itu membuat Vanya melepaskan bungkamannya dan Renata langsung memperlihatkan senyum cengengesan nya.


''Sorry,'' ucap Renata. Vanya hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.


Kemudian Renata teringat tentang ucapan dari Vanya tadi. Lalu ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya.


''Loe jadian sama dia, kan? Pantesan beberapa kali gue sempat pergokin si doi lihatin loe mulu,'' ucap Renata yang kemudian ia teringat saat mereka beberapa kali bertemu.

__ADS_1


''Benarkah? Kapan?'' tanya Vanya yang penasaran karena ucapan sahabatnya itu.


Terlihat Renata menopang dagunya dengan telunjuk kanannya, menerawang berusaha mengingat-ingat kembali momen-momen tersebut.


''Setahuku pas kita di pantai, trus di villa waktu pernikahan Anisa, lalu kemarin pas di ballroom hotel sebelum kedatangan si Marcell. Loe lihat gak waktu si Marcell datang dan menghampiri loe itu?'' tanya Renata.


Vanya seketika menggeleng karena memang tidak memperhatikan sekitarnya.


''Wajahnya langsung suram banget, Nya. Kusut, kayak cucian yang kagak disetrika,'' ucap Renata mendramatisir perkataannya.


''Ck, bahasa loe, Ren.'' ucap Vanya sambil geleng-geleng kepala. Keduanya pun tampak tertawa bersama setelah itu.


''Eh, tuh kalung loe udah ketemu, Nya? Dimana?'' tanya Renata tiba-tiba saat pandangannya terpaku melihat sebuah kalung bermata biru milik Vanya yang dulu sempat hilang waktu dibali.


Mendengar perkataan itu membuat Vanya refleks memegang kalung tersebut sambil tersenyum lalu menganggukkan kepala.


''Hm, Dan gue yakin loe pasti akan terkejut dengan apa yang akan gue kasih tahu soal penemu kalung ini,'' ucap Vanya ambigu. Membuat Renata semakin dibakar rasa penasarannya.


''Please deh. Gak usah bertele-tele, Nya. Tinggal kasih tahu gue siapa yang nemuin? Secara dulu loe bilang kan sama gue kalau loe kehilangan itu kalung waktu kita liburan di Bali sama teman-teman satu angkatan,'' ucap Renata. Vanya masih betah dengan senyuman manisnya.


''Sini gue bisikin,'' ucap Vanya pada Renata.


Lalu Renata pun mendekatkan kembali wajahnya ke arah Vanya. Lalu Vanya pun juga mendekatkan wajahnya.


''Sebenarnya ....

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2