
*tok
tok
tok*
Terdengar suara ketukan pintu. Seorang wanita yang tengah menghias dirinya, seketika berhenti dan beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan menuju pintu dan membukanya.
''Good morning, baby.'' Sapa seorang laki-laki yang kemudian memberikan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala wanita itu. Seketika senyuman terpatri di wajah cantik wanita itu.
''Good morning, brother. Come in,'' ajak wanita itu pada laki-laki yang merupakan kakaknya sendiri. Laki-laki itu tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mewah adik perempuannya.
''Apa tidurmu nyenyak, Ell?'' tanya laki-laki yang tak lain adalah Leon. Ia mendatangi kamar adiknya itu karena ingin melihat keadaannya. Vanya hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Setelah kakaknya duduk di sofa, wanita itu kembali meneruskan riasannya tadi. Wanita itu dengan lihai mengaplikasikan make-up nya di wajah cantiknya. Bahkan memar yang tadinya ada di beberapa bagian di wajah dan tubuhnya kini tersamarkan oleh permainan makeup nya.
''Sebentar lagi kita akan berangkat. Apa kamu sudah siap, baby? Kakak sudah mengabari Daddy. Dia sangat bahagia mendengar kabarmu,'' ucap Leon. Vanya segera meringkas semua peralatan tempurnya. Setelah itu ia berganti pakaian di kamar mandi yang ada di sana.
Tak beberapa lama kemudian Vanya terlihat keluar dari sana dengan sudah berganti pakaian.
Menggunakan setelan formalnya, Vanya terlihat anggun. Aura cantiknya keluar begitu saja meski riasan yang digunakan Vanya hanya natural seperti biasanya ia gunakan sehari-hari.
__ADS_1
''You look so gorgeous, baby.'' puji Leon saat melihat penampilan adik perempuannya itu. Vanya hanya tersenyum menanggapi pujian dari kakaknya.
Saat keduanya tengah mengobrol santai, terdengar suara ketukan dari luar pintu. Vanya segera membukanya, ternyata adalah Brian - orang kepercayaan Leon yang datang.
''Maaf, Tuan. Saatnya berangkat sekarang,'' ucap Brian. Leon yang mendengarnya langsung menatap ke arah jam tangannya.
''Baiklah, come on, baby. Pesawat kita sudah menunggu,'' ajak Leon pada Vanya. Vanya hanya mengangguk lalu ia mengambil tasnya yang ada di meja rias. Pandangan matanya tertuju pada dua buah amplop putih disana. Ia pun teringat tentang hal itu. Bergegas ia memakai tas dan membawa dua buah amplop tersebut bersamanya.
''Kak?'' panggil Vanya.
''Ya, baby?'' jawab Leon.
''Bisakah aku minta tolong antarkan dua amplop ini ke alamat yang ada di sini?'' tanya Vanya. Leon sekilas menatap dua buah amplop itu, kemudian ia menganggukkan kepala sambil tersenyum.
''Apa kau pernah ke Perancis, Ell?'' tanya Leon saat mereka berada dalam perjalanan menuju bandara. Vanya mulai membiasakan diri dengan nama dan panggilan tersebut. Wanita itu tampak menggelengkan kepala mendengar pertanyaan itu.
''Belum pernah,'' jawabnya.
''Kita akan menetap disana, Ell. Apa kamu keberatan dengan itu?'' tanya Leon.
''Hm, aku belum tahu Kak.'' jawab lirih Vanya. Ia masih belum sepenuhnya memantapkan dirinya saat ini. Masih ada keraguan di dalam hatinya yang tentu hanya ia saja yang tahu. Tak mungkin juga ia menceritakan semuanya pada sang Kakak.
__ADS_1
''It's okay. Pelan-pelan saja. Setelah kamu berada di sana, kamu pasti akan bisa menyesuaikan diri di sana.'' ucap Leon sambil mengelus pucuk kepala Vanya. Vanya bahagia mendapatkan dan bertemu dengan seorang kakak yang sangat menyayanginya meski keduanya baru saja bertemu. Saat Vanya kembali memikirkan perjalanan hidupnya, ingatannya kembali pada adik-adiknya yang ada di panti. Seketika membuat wanita itu menatap ke arah Leon.
''Kak? Bagaimana dengan panti? Selama ini aku di besarkan di sana,'' tanya Vanya. Ia khawatir jika Marcell berbuat sesuatu dengan adik-adiknya yang ada di sana. Leon yang mendengarnya langsung merangkul tubuh Vanya dan memeluknya.
''Kamu mau mendengar cerita kakak?'' tanya Leon tiba-tiba. Vanya yang tadinya bertanya tentang adik-adiknya kini malah diminta untuk mendengarkan cerita Leon. Namun Vanya hanya bisa menuruti semua perkataan dari sang Kakak.
''Boleh,'' jawab Vanya. Leon mengawali ceritanya dengan helaan napas panjangnya.
''Dulu, sewaktu mommy hamil kamu, kami yakni Daddy, Mommy, dan aku mendatangi pulau Bali. Bali merupakan tempat bersejarah bagi Daddy dan juga Mommy, Ell. Oleh karena itu, mommy ingin saat melahirkan dirimu, ia memilih di sana. Tentu Daddy tak mempermasalahkan hal itu. Akhirnya kamu pindah ke sana saat kandungan Mommy menginjak usia tujuh bulanan.'' Leon mulai bercerita tentang awal mula peristiwa itu terjadi.
Vanya hanya diam menyimak setiap kata yang diucapkan oleh Leon.
''Kami bertiga sangat menikmati hari-hari kami seraya menanti kelahiran mu. Saat itu, sebenarnya Daddy sudah membatalkan niatnya untuk pergi menghadiri sebuah pertemuan penting mengingat kandungan Mommy yang hanya tinggal menunggu hari saja. Tapi karena Mommy memaksa karena memang perkiraan lahir masih dua Minggu akhirnya Daddy pun berangkat ke Surabaya. Namun naas, saat Daddy baru saja tiba di Surabaya Mommy dirumah merasakan kontraksi. Dibantu oleh beberapa pelayan dirumah, kami pergi ke rumah sakit terdekat tanpa Daddy. Setelah tiba di rumah sakit, Daddy baru dikabari oleh salah satu dari pelayan kami. Saat itu juga Daddy pergi meninggalkan urusannya demi bisa melihat dan memberi dukungan pada Mommy. Pada saat itu kakak masih berumur sekitar lima tahun.'' ujar Leon yang mulai menceritakan peristiwa tragis yang memisahkan mereka dengan Vanya. Vanya sampai dibuat deg-degan mendengar cerita tentang dirinya di masa lalu. Meski ada rasa takut, tapi ia juga penasaran bagaimana bisa dirinya sampai di sebuah panti asuhan.
''Lalu?'' tanya Vanya.
''Saat Daddy sudah sampai di rumah sakit, Mommy sudah selesai persalinan. Karena kondisi Mommy yang belakangan ini sering drop membuatnya mengalami pendarahan hebat saat setelah kelahiranmu. Entah bagaimana cerita, kamu tiba-tiba hilang dari ruangan bayi tepat di hari yang sama. Namun Daddy mendapat laporan jika sebelum itu terjadi, ada yang melihat mommy menangis sesenggukan bersama salah satu pelayan kami di dalam ruang bersalin. Dan kehilanganmu saat itu membuat kami panik bukan main. Bahkan aku ingat sekali saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat Daddy menangis kehilanganmu. Meski kakak belum mengerti dengan jelas, tapi kakak juga merasakan kehilangan pada saat itu. Apalagi dengan hilangnya kamu, membuat kondisi Mommy semakin hari semakin ngedrop membuat kami khawatir sekali.'' lanjut Leon. Vanya seketika memegang tangan kanan Leon untuk menguatkannya. Leon tampak tersenyum tipis sambil mengelus punggung Vanya dengan tangan kirinya.
''Selama lima tahun kami masih berada di sana. Aku bahkan sampai harus homeschooling demi pendidikan ku yang terhenti. Selama itu juga Daddy terus berusaha mencarimu, tapi nihil. Setiap malam aku jadi saksi bagaimana melihat Daddy menangis meraung sendirian di kegelapan malam. Daddy mengira saat itu aku sudah tidur, tapi sebenarnya belum. Aku mengintip dari celah pintu ruangan kerja Daddy. Lalu saat mendengar kabar perusahaan Daddy yang ada di Perancis membutuhkannya, Mau tak mau membuat Daddy harus mengambil keputusan yang berat saat itu. Daddy memutuskan untuk merelakan mu dan kembali ke Perancis bersama mommy dan aku. Bahkan Mommy sampai sekarang masih setia dengan tidur panjangnya, Ell. Dan itu membuat kami sakit hingga saat ini,'' Vanya seketika memeluk tubuh kekar sang Kakak. Ia menyalurkan rasa cintanya kepada laki-laki yang sangat menyayanginya itu.
''Aku tak menyangka jika semua ini terjadi pada kita, Kak.''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...