
SPC 127
Keesokan harinya
Arga dan Vanya masih setia berada di bawah selimut hotel. Meski sinar mentari begitu menyeruak ke dalam kamar, nyatanya tak mampu membuat kedua insan itu merasa terusik. Terlihat jelas raut bahagia di wajah Arga maupun Vanya. Saling memeluk tubuh masing-masing, keduanya masih berada di alam mimpi indahnya.
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
Perlahan kelopak mata Arga bergerak, kala telinganya mendengar suara getaran dari sebuah ponsel. Entah itu ponsel miliknya atau milik wanitanya. Karena begitu menganggu pendengarnya, akhirnya membuat Arga mau tak mau harus membuka kedua matanya.
Eugh
Arga berusaha menggerakkan tubuhnya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Namun saat ia hendak merentangkan kedua tangannya, ia merasakan deru napas seseorang yang berada di dadanya. Ingatan Arga kemudian kembali pada malam indah yang ia lalui bersama wanita yang ia cintai itu. Wanita yang telah lama terpisah darinya kini sudah berada di depan matanya. Seketika membuat Arga tersenyum bahagia sambil kembali memeluk tubuh Vanya yang masih dengan keadaan polosnya.
Eugh
Terdengar suara lenguhan dari bibir tipis Vanya. Arga yang mendengarnya seketika memberikan sebuah kecupan hangat di pucuk kepalanya.
Cup
"Good morning, baby." Ucap Arga berbisik tepat di telinga Vanya.
Vanya yang mendengar suara berat yang ia rindukan selama ini hanya bisa tersenyum sambil kembali mendusel padanya. Mencari kehangatan yang telah lama ia inginkan.
"Morning too, Hon. Jam berapa sekarang?" Tanya Vanya tanpa membuka matanya. Ia masih betah bermanja-manja dengan Arga seperti disaat keduanya masih bersama dulu. Arga menoleh ke arah jam yang ada di atas nakas samping tubuhnya.
__ADS_1
"Jam setengah sembilan pagi," jawab Arga. Hari ini ia tak ingin kemana-mana. Ia ingin menghabiskan seharian ini bersama dengan Vanya. Sebenarnya Vanya ingin beranjak dari sana, tapi apa daya kedua matanya masih terasa berat sekali untuk membuka. Alhasil membuat Vanya hanya bisa menghela napasnya.
"Haih, sudah siang. Tapi aku tak punya cukup tenaga untuk dapat pergi ke toilet," ucap Vanya. Arga yang mendengar hal itu seketika menatap ke arah Vanya. Ia mendongakkan kepala Vanya.
"Kamu ingin ke kamar mandi, baby? Kenapa tak bilang? Ayo, aku bantu," Arga beranjak dari ranjang itu dan bersiap untuk mengangkat tubuh Vanya. Namun saat kedua tangannya meraih tubuh Vanya, dengan cepat wanita itu mencekal.
"Aku bisa sendiri. Kamu mandilah dulu, Hon. Aku disini dulu sambil mengembalikan nyawaku yang masih belum seutuhnya kembali," Arga yang mendengar ucapan itu hanya bisa mengangguk. Vanya tersenyum pada Arga.
"Baiklah, aku mandi dulu. Nanti kalau kamu mau menyusul, tak apa. Masuk saja, pintunya gak akan aku kunci." Dengan mengerlingkan sebelah matanya Arga mengatakan itu pada Vanya. Vanya seketika melotot kala mendengar ucapan dari Arga. Ia tak menyangka jika tenaga laki-laki itu benar-benar bagaikan seperti kuda yang tak kenal lelah sama sekali.
"Pergilah, Hon. Rasanya masih kebas setelah semalaman kau menghajar ku tanpa jeda." Keluh Vanya sambil mengusir sang kekasih dari hadapannya itu.
Sedangkan Arga hanya bisa terkekeh mendengar penuturan Vanya yang terdengar seperti orang yang sangat lemas tak bertenaga. Namun saat ia ingat-ingat lagi soal semalam, ia benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya jika sudah bersama dengan Vanya. Ia memang benar-benar melampiaskan semua hasratnya yang sudayselam lima tahun tak tersalurkan.
Arga juga ingat bagaimana Vanya meminta ampun meski diselingi dengan desa*han yang mampu merontokkan iman laki-laki manapun yang mendengarnya. Begitu pula dengan Arga, mendengar teriakan ampun bercampur desa*han dari mulut Vanya membuat Arga semakin menggila bagai kuda yang tengah mengikuti lomba pacunya.
Membayangkan bagaimana ia menghajar dan melahap seluruh tubuh Vanya, membuat intinya terasa berkedut-kedut ria. Sampai membuat Arga tanpa sadar mengumpat kesal.
Bergegas Arga kembali menghampiri Vanya yang masih setia bergelut dengan selimut tebalnya. Sesampainya di samping tubuh Vanya, dengan cepat Arga menyibak selimut itu dan terpampang lah pemandangan tubuh polos Vanya di depan kedua matanya. Arga sampai meneteskan air liur nya saat memandang itu.
"Ada apa, Hon?" Tanya Vanya masih tak sadar dengan tubuhnya sendiri yang masih polos. Vanya membuka matanya perlahan lalu ia bisa melihat tubuh kekar Arga yang berdiri disampingnya dengan hanya menggunakan cela na dalamnya saja.
'Astaga. Sudah berdiri saja tuh benda,' batin Vanya yang melihat senja*ta yang semalam mampu memporak-porandakan miliknya tersebut.
"Maafkan aku, baby. Tapi aku benar-benar tak bisa menahannya lagi," ucap Arga dengan suara beratnya. Tanpa menunggu jawaban dari Vanya, Arga langsung menaiki tubuh Vanya dan menyerang bibirnya.
Setelah menghabiskan waktu berdua sampai merasa puas, Arga pun mengajak Vanya keluar dari hotel tersebut.
Dengan wajahnya yang masih cemberut, Vanya melangkahkan kakinya mendahului Arga menuju ke arah parkir mobil. Arga yang melihatnya hanya bisa terkekeh sambil mempercepat jalannya hingga keduanya kini sudah berada di samping mobil yang dikendarai Arga .
__ADS_1
''Jangan cemberut terus, baby.'' Vanya hanya melirik sekilas saat mendengarnya. Arga geleng-geleng kepala seraya mulai menjalankan mobilnya.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah sampai di sebuah restoran. Dengan menggandeng tangan Vanya, Arga mengajak kekasihnya itu masuk ke dalam sana.
Karena masih kesal, Vanya dengan sengaja memesan banyak makanan untuk mereka berdua.
Setelah makanan datang Vanya langsung menyantapnya tanpa menghiraukan Arga yang masih memandangnya.
''Kau yakin bisa menghabiskan ini semua, baby?'' tanya Arga sambil ia mulai menyantap steak daging pesanannya. Vanya yang mendengar itu seketika melemparkan tatapan mematikannya kepada Arga.
''Okay, baby. Aku akan diam saja," dengan mengangkat kedua tangannya, Arga milih menyerah daripada harus melawan singa betinanya.
'Ah, menyeramkan juga Kalau sudah marah. Tapi juga masih ada imutnya,' batin Arga menatap Vanya yang lahap menikmati makanannya.
''Aku baru tahu sekarang kalau makanmu banyak sekali, baby.'' ucap Arga setelah keduanya selesai dengan makan siangnya. Vanya yang baru saja menyelesaikan makannya seketika menatap tajam Arga yang kini mengedipkan sebelah matanya sambil minum padanya.
''Ya, baru kali ini aku bisa makan makanan sebanyak ini. Mungkin karena aku habis berperang melawan kekuatan singa yang kelaparan dari semalam makanya membuatku sangat kelaparan.'' sahut Vanya dengan santainya.
Arga yang tengah minum seketika tersedak mendengar ucapan tersebut.
uhuk
''Singa? Kau mengatai ku singa, baby?'' tanya Arga yang tak terima dengan julukan yang diberikan oleh Vanya padanya.
''Salahkah? Lagian mana mungkin ada manusia normal yang bisa bermain di atas ranjang hingga lima belas jam lamanya, huh?'' Ucap Vanya yang tak ia sadari akibat ucapannya itu ia dan Arga menjadi pusat perhatian para pembeli yang ada di sekitarnya.
Arga yang mendengar sindiran Vanya hanya bisa tersenyum penuh arti. Bahkan ia tampak santai meski banyak pasang mata yang mengarah pada keduanya.
''Hei, baby. Bukankah kamu juga sama, hm?'' tanya Arga santai sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Vanya. Vanya terbelalak mendengarnya. Saat mulutnya akan kembali berucap, Vanya terkejut kala ekor matanya menangkap pandangan mata para orang-orang mengarah padanya.
__ADS_1
'A-apakah mereka mendengar ucapan ku?'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...