Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 24 We are done, Cell


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu


Seorang wanita berbaju hitam terlihat berjalan ke arah meja milik Marcell. Wanita itu tampak tersenyum penuh arti menatap laki-laki yang merupakan CEO dari M.D Entertainment.


Dengan langkah yang berlenggak lenggok, wanita tersebut tampak percaya diri menghampiri Marcell. Marcell yang saat itu tengah menikmati minumannya mengalihkan pandangannya. Seketika raut wajah laki-laki itu tampak tersenyum manis melihat kedatangan wanita itu.


"Kau hadir disini juga, Laura?'' tanya Marcell tak percaya kalau wanita itu mendapatkan undangan dari sepupunya.


Laura yang melihat raut wajah terkejut Marcell seketika terkekeh. Ia perlahan maju, mengikis jarak keduanya. Hingga saat sudah berada tepat di depan Marcell, ia mendudukkan tubuhnya di kursi milik Vanya.


"Tentu. Di setiap ada kamu pasti ada aku, sayang.'' bisik Laura tepat di telinga Marcell dengan nada yang ia buat se-sen..sual mungkin. Tak lupa ia menghadiahi jila...tan di cuping telinga Marcell.


Membuat tubuh laki-laki itu meremang tak karuan.


''Da...mn,'' umpat Marcell yang merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya akibat Li..dah panjang milik Laura.


Laura tersenyum penuh arti melihat reaksi tubuh Marcell. Perlahan tangan kirinya meraba paha Marcell. Marcell yang merasakan sentuhan dari Laura hanya bisa mendesis, tatkala jari-jari lentiknya makin lama makin merangkak naik ke atas.


"Jangan menggodaku, Laura.'' desis Marcell merasakan pening di kepalanya. Apalagi disaat tangan milik Laura mendarat tepat diatas miliknya yang masih berbalut celananya.

__ADS_1


Ouch ... sh...it ...


"Kamu tahu apa yang ku mau, Marcell." bisik Laura kala ia mendengar umpatan dari Marcell.


Setelah mengatakan itu Laura beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi Marcell. Marcell yang merasakan sesak di bawah sana dengan cepat ia menenggak minuman miliknya hingga tak tersisa.


Kadar alkohol dalam minumannya membuat dirinya semakin merasakan has...rat yang harus dituntaskan.


Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah kaki Laura yang kini menaiki tangga villa. Hingga saat dirinya merasa aman dari para tamu undangan, Marcell bergegas masuk kedalam salah satu kamar disana. Namun sayangnya, saking dirinya terburu-buru untuk bisa menuntaskan has....rat nya, ia tidak memperhatikan pintu kamar tersebut. Hingga kini perbuatannya diketahui oleh kekasihnya sendiri.


BRAK


Vanya bisa melihat Marcell tengah memompa milik Laura dengan posisi favorit nya, yaitu dog..gy style. Mengetahui keberadaan Vanya di dalam sana, Marcell buru-buru memakai bokser nya dan berdiri di samping ranjang itu. Sedangkan Laura langsung menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang ada di sana.


Ia memasang wajah tak sukanya melihat Vanya.


'Dasar, pengacau.' batin Laura yang merasa dirinya kehilangan kli...maksnya.


"Van-Vanya," ucap Marcell tergagap. Ia meruntuki kebodohannya sendiri. Ia lupa jika dirinya datang bersama sang kekasih. Alhasil ia tertangkap basah sedang melakukan itu dengan wanita lain.

__ADS_1


Vanya tak menyahuti ucapan Marcell. Ia memasang wajah datarnya menatap kedua orang itu secara bergantian. Bahkan Marcell bisa melihat tatapan dingin dari sang kekasih, ditambah lagi butiran bening yang menetes dari pelupuk mata indah Vanya.


"A-aku bisa je- jelaskan, Vanya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Marcell berusaha menenangkan Vanya. Namun sepertinya ia lupa, bahkan ini bukanlah kali pertama Vanya memergoki dirinya yang tengah memadu kasih dengan wanita lain.


"Puas?" tanya Vanya dengan pandangan jijiknya. Entah apa lagi yang harus ia perbuat agar bisa menghilangkan kebiasaan buruk kekasihnya itu.


Ia hanya takut, takut tertular penyakit kela...min karena Marcell yang sejak dulu suka main celap celup sembarangan.


Marcell hanya diam di tempatnya tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Sedangkan Vanya? Ia lelah. Lelah menjalani hidup yang seperti ini. Namun apa yang bisa ia perbuat? Nothing.


Disaat dirinya ingin menyerah dengan hidupnya, saat itu juga ia teringat dengan senyum anak-anak panti. Selama ini ia bekerja dengan keras tanpa mengenal lelah demi kelangsungan hidup adik-adiknya. Bahkan ia menyekolahkan adik-adiknya hingga tamat kuliah.


Baginya hidup anak-anak panti harus lebih baik dari dirinya. Maka dari itu ia tidak bisa lepas dari Marcell. Karena Marcell sendiri sudah menegaskan sejak awal jika dirinya tidak mau menurut padanya, ia akan dikeluarkan dari agency dan di blacklist dari duni permodelan. Tentu Vanya tidak menginginkannya. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar bisa mengirimkan padanya seseorang yang bisa membantunya lepas dari laki-laki seperti Marcell.


"Lanjutkan saja apa yang kau lakukan tadi. We are done, Cell." setelah mengatakan itu Vanya berbalik dan pergi meninggalkan kamar villa tersebut. Sedangkan Marcell? saat mendengar ucapan Vanya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Namun ia tidak mengejar kekasihnya. Justru ia kembali mengga...gahi Laura dan melampiaskan naf...su bercampur amarahnya pada dirinya.


'Lihat saja nanti, Vanya. Aku takkan pernah melepas mu,'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2