Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 25 Selalu memikirkannya


__ADS_3

*Hiks


Hiks


Hiks*


''Kenapa masih saja sakit hati ini, Tuhan? Padahal aku sudah mengalaminya berkali-kali. Sampai kapan aku harus menjalani hidup seperti ini, Tuhan? Aku sudah lelah. Aku lelah dan aku capek diperlakukan seperti ini. Tunjukkan padaku, Tuhan. Tunjukkan padaku bagaimana aku bisa melewati ini semua,'' jerit tangis Vanya disaat dirinya sudah sampai di apartemen miliknya.


Dibawah guyuran air shower miliknya, ia curahkan semua kegundahan, sakitnya, perihnya ia dikhianati oleh laki-laki yang katanya adalah kekasihnya. Da-danya terasa sangat sesak hingga membuatnya sulit untuk bernapas.


Setelah berada di dalam kamar mandi selama hampir satu jam, Vanya pun menyudahinya karena ia sudah merasa cukup tenang dan bisa mengendalikan emosi dan perasaan nya.


''Sudah cukup, Vanya. Sudah cukup kamu menangisi laki-laki breng...sek itu.'' gumamnya. Berusaha memberikan motivasi untuk dirinya sendiri.


Setelah berganti dengan piyama miliknya, iapun segera naik ke atas ranjang dan segera memejamkan matanya.


Sementara di tempat lain


''Kenapa loe tadi nggak ton..jok aja sih, Ga. Heran gue. Gue aja rasanya udah mau nyekik tuh anak. Dasar penghianat ulung,'' gerutu Alvin kepada Arga. Ia sangat kesal dengan Arga karena Arga tidak memberi pelajaran kepada Jonathan yang mulutnya sudah seperti kompor. Yang hanya bisa memanas-manasi dirinya dan Arga.

__ADS_1


Arga yang berada di sampingnya itu hanya bisa geleng-geleng sambil terus menikmati minumannya. Keduanya saat ini berada di salah satu ruang VVIP yang ada di dalam club' milik Arga.


Tak lupa dihadapan keduanya telah tersedia dua orang wanita sek...si yang hanya menggunakan dalaman saja. Kedua wanita sek...si itu sedang menari strip...tis untuk menghibur Arga dan Alvin. Pandangan mata Arga masih tertuju pada salah satu diantaranya yang menggunakan dalaman berwarna hitam, yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Sedangkan satunya menggunakan dalaman berwarna merah menyala.


Cih


Alvin hanya bisa mendecih karena tidak mendapat jawaban dari sahabatnya itu. Melihat Arga yang tetap fokus dengan objek di depan mereka itu, membuat Alvin jengah.


''Gue mau keluar, kali aja ada mangsa baru,'' ucap Alvin lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Arga hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Alvin. Sepeninggal Alvin, Arga pun memulai permainannya dengan menjentikkan jarinya kepada kedua wanita itu.


Arga pun meletakkan gelasnya sambil bersandar di sofa itu menyambut kedatangan kedua penari itu. Tanpa disuruh kedua wanita itu langsung menempatkan dirinya masing-masing di tempat yang seharusnya. Dengan berjalan berlenggak-lenggok, kedua wanita itu tampak antusias menghampiri sang Cassanova.


*Ouch ..... yes .... sssshh....ittt....


Ouch .... fu....ck* ....


Era...ngan demi era...ngan terdengar dari mulut Arga yang menikmati permainan mulut wanita itu. Sambil menikmati kenyalnya buah da...da wanita berdalaman merah itu, Arga mengulurkan tangan kirinya yang bebas itu meraih rambut wanita yang ada dibawahnya itu.


Dengan geraman yang tertahan, ia memaju mundurkan kepala wanita itu dengan ritme yang lebih cepat dari wanita itu mainkan.

__ADS_1


Akh ...... sssssttt.....


Setelah permainan mulut itu berlangsung hingga setengah jam kemudian, akhirnya lahar ken...tal milik Arga tumpah ruah di dalam mulut sang wanita.


Wanita itu dengan senang hati menelan semua cairan tersebut bahkan Arga bisa melihat kedua mata wanita itu tampak berkaca-kaca akibat permainan cepat yang Arga lakukan tadi. Namun wanita itu tampak tersenyum manis karena ia mampu membuat puas sang Cassanova itu.


''Keluarlah, kalian. Aku akan mentransfer uang ke rekening kalian nanti,'' ucap Arga sambil merapikan pakaian nya kembali. Setelah kedua wanitanya itu keluar, Arga mengambil bungkus rokoknya dan menyalakan satu diantaranya dan menghisapnya dalam-dalam lalu secara perlahan ia mengeluarkan asapnya.


fyuhhh


Sambil membawa gelas kaca miliknya, Arga beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri jendela besar yang ada di belakang sofa itu.


klik


Setelah menekan sebuah tombol yang ada di dinding, tirai coklat yang menghiasi jendela besar itu perlahan terbuka, menampilkan pemandangan malam kota metropolitan tersebut. Dari tempatnya berdiri, Arga bisa menyaksikan pemandangan indah itu dari ketinggian yang lebih dari dua ratus meter tersebut.


''Hah, wanita itu. Kenapa aku terus memikirkan wajahnya? Bahkan disaat aku bersama dengan ja...lang''ku, bayangan wajahnya selalu melintas dalam pikiran ku,'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2