Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 77 Kilat sebelum berpisah


__ADS_3

Waktu yang seharusnya hanya seminggu disana, diperpanjang menjadi sepuluh hari karena rayuan maut Arga.


Keduanya sangat memanfaatkan waktu mereka selama disana. Berjalan bersama, makan bersama, bahkan tidur di kamar yang sama. Bahkan Arga sudah menutup mulut kedua asisten Vanya agar tak membocorkan hubungan keduanya. Arga sampai mengancam keduanya dan keluarga mereka jika sampai mereka berani buka mulut kepada siapapun.


Tentu Asti dan Gita tak berani melakukan hal itu. Keduanya sampai bersumpah tak akan menyebarkan hubungan gelap Vanya dan Arga.


''Stop, Hon. Singkirkan tanganmu dari tubuhku,'' sentak Vanya sambil melepaskan tangan Arga yang berada di atas salah satu gundukan miliknya.


Arga Terkekeh mendengarnya.


''Kau tahu aku sangat menyukainya, baby.'' sahut Arga sambil kembali merengkuh tubuh polos Vanya dari belakang hingga punggungnya menempel sempurna di dada Arga.


''Ck, jangan menggangguku, Ar. Aku sangat lelah. Kau menghajar ku semalam suntuk, bahkan tak memberiku jeda untuk istirahat sama sekali,'' ucap Vanya sambil mencoba memejamkan matanya meski mentari pagi kian menampakkan sinarnya.


Arga hanya bisa terkekeh mendengar keluh kesah Vanya yang merasa kewalahan menghadapi nafsu cintanya yang begitu besar itu.


Tak mau mengganggu tidur sang wanita, Arga pun ikut memejamkan matanya.


...----------------...


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit. Suara perut Vanya membangunkan wanita cantik itu dari mimpi indahnya.


Eungh


Lenguhan dari bibir Vanya serta kedua tangannya yang terangkat keatas meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku membuat fokus Arga yang tadinya pada ponselnya terusik.


Bibirnya melengkung keatas melihat wanita yang dicintainya itu mulai menggeliat di sana.


''Sudah bangun, baby?'' tanya Arga sambil menyandarkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari ranjang itu.


Kedua mata Vanya menyipit, lalu ia bisa melihat Arga yang sudah berpakaian rapi dengan setelan formalnya.


''Hm. Where are you going to, Hon?'' tanya Vanya ingin tahu.


''Sorry, baby. Ada kendala di perusahaan yang membuatku harus berangkat lebih dulu. Kita tak bisa berangkat bersama-sama. Gak papa, kan?'' tanya Arga.


Mendengar ucapan Arga seketika membuat Vanya senang dalam hati. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum tipisnya. Tapi sialnya itu ditangkap oleh kedua netra abu-abu Arga walaupun hanya sekilas.

__ADS_1


'Akhirnya aku bebas dari terkaman singa gila itu,' batin Vanya bersorak.


Seakan tahu apa yang ada di pikiran Vanya, membuat Arga melihat ke arah jam tangannya.


''Masih ada waktu sekitar empat puluh menit lagi, baby. Masih sempat,'' ucap Arga tersenyum menyeringai. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Vanya yang saat ini bersandar pada headboard ranjang sambil memegang selimut itu.


''Ma-maksudnya apa, Hon?'' tanya Vanya gelagapan. Apalagi melihat Arga mulai melepas sabuk celananya semakin membuat detak jantung Vanya berdetak lebih kencang dari biasanya.


''You know what i want, baby. Come on,'' ucap Arga sambil menyibak kuat selimut itu hingga menampakkan tubuh seksi Vanya yang masih polos itu.


''A-Arga?'' panggil Vanya.


''Sssttt ... Honey, baby. Just call me honey saat kita sedang bersama seperti sekarang, oke?'' ucap Arga seraya menurunkan resleting dan celananya.


Vanya bisa melihat milik Arga yang sudah berdiri kokoh di balik penutupnya. Bahkan kepalanya terlihat menyembul disana, tingginya hampir menyamai pusarnya.


Glek


Vanya hanya bisa meneguk ludah kasarnya melihat pemandangan yang juga mendebarkan jiwa dan raganya.


'Oh, sh**. Padahal aku sudah menikmatinya berkali-kali, tapi masih saja berdebar saat melihatnya seperti itu,' batin Vanya yang melihat pemandangan indah itu.


Vanya kemudian tersenyum menggoda kepada Arga. Lalu perlahan ia membuka kedua kakinya lebar-lebar ke arah Arga.


Tangan kanannya terulur menyentuh mulutnya sendiri, meludahi jari jemarinya lalu menggeseknya di area miliknya dengan tatapan menggoda.


"Datanglah, Sayang. Eughh..." ucap Vanya dengan sedikit mendesah.


Arga yang di goda sedemikian rupa langsung menarik kedua kaki indah Vanya hingga tubuhnya mencapai pinggir ranjang.


"Oh, sh**. Kau menggodaku, baby? Kita main cepat," ucap Arga sambil memposisikan tubuh Vanya sedikit terangkat bagian bawah lalu dengan cepat ia mulai melancarkan aksinya.


Karena Vanya tadi sudah melumuri miliknya dengan air liurnya sendiri, membuat Arga dengan mudah memasukinya.


Tanpa melepas pakaiannya, Arga kembali menghentak tubuh indah Vanya hingga membuatnya melengkung sempurna. Bahkan kedua tangan Vanya meremas sendiri bukitnya karena kedua tangan Arga sibuk memegang pinggang Vanya agar tak berpindah posisi.


Setelah hampir dua puluh menit Arga bermain liar, ia langsung menyemburkan cairan cintanya ke dalam sana dengan derasnya. Napas keduanya memburu namun bibir keduanya saling tersenyum menatap satu sama lain. Merasakan cinta mereka yang semakin lama semakin besar.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian Arga melepaskan miliknya dan kembali membenahi penampilannya. Vanya pun segera beranjak dari ranjang itu dan berlarian menuju kamar mandi. Menumpahkan semua cairan yang memasuki tubuhnya. Setelah selesai, ia sekalian membersihkan dirinya dengan cepat.


Tak sampai lima belas menit, Vanya selesai dengan ritual mandinya. Dengan menggunakan bathrobe hotel, ia keluar dari kamar mandi.


Vanya bisa melihat Arga mulai beranjak dari duduknya dan berjalan menghampirinya.


"Aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa di rumah, baby. Cup" ucap Arga sambil memberikan kecupan mesra di bibir Vanya.


"Take care, Hon. I miss you," ucap Vanya sambil tersenyum dan mengelus rahang Arga yang ditumbuhi jambang itu. Tampak menyeramkan namun percayalah itu adalah salah satu kesukaan Vanya. Karena jambangnya itu yang membuat Vanya kian mendesah di bawah kendali Arga. Bulu-bulu kasar itu mampu menggetarkan tubuhnya saat menyentuh permukaan kulit putihnya. Sedangkan Arga sejenak memejamkan mata merasakan tangan lembut Vanya yang membelai wajahnya.


"Hm, i miss you too, baby." sahut Arga. Lalu dengan berat hati Vanya melepas kepergian Arga yang beberapa hari belakangan ini selalu menemaninya.


''Hah, aku akan kembali tidur. Masih ada waktu tiga jam sebelum keberangkatan ku nanti,'' ucap Vanya sambil menghempaskan tubuhnya kembali di ranjang.


Tak butuh waktu lama Vanya pun terlelap dalam tidurnya.


Tringgg


Suara dering ponsel mengejutkan Vanya yang tengah tertidur. Ia terbangun dari tidurnya dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo," ucap Vanya.


"Halo, Nona. Sekarang sudah pukul tiga sore, Nona. Satu jam lagi penerbangan kita."


"Baiklah. Aku akan segera bersiap," jawab Vanya lalu ia segera memutuskan panggilan tersebut.


Kemudian ia kembali beranjak dari sana dan kembali memasuki kamar mandi.


Karena tadi ia sudah mandi, ia pun hanya mencuci wajah dan menggosok giginya.


Setelah selesai ia segera kembali ke kamar dan bersiap-siap. Setelah dua puluh menit kemudian, ia telah selesai dan langsung mengambil tas dan koper kecilnya yang memang sudah ia siapkan sejak kemarin.


Vanya keluar dari kamar Arga dan langsung menuju lobi hotel karena kedua asistennya sudah menunggu disana.


Setelah memastikan ketiganya sudah check out, mereka pun segera pergi menuju bandara. Ketiganya menggunakan jasa sopir hotel dan menggunakan dua mobil. Mobil satu untuk kedua asisten beserta bawang bawaan mereka. Sedangkan mobil dua berisikan Vanya seorang.


Mobil yang dikendarai kedua asistennya tampak melaju di depan mobil Vanya. Hingga saat mencapai lampu merah, mobil milik Vanya terjebak disana. Saat mobil Vanya hendak kembali melaju, sebuah kecelakaan hebat terjadi di depan mobil Vanya.

__ADS_1


Brak


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2