
''Awasi Vanya, Bi. Jangan biarkan dia keluar dari kamar. Bukalah kamarnya jika sudah waktunya makan.'' Ucap Marcell setelah ia selesai dengan sarapannya.
Semalam suntuk ia menggarap tubuh Vanya hingga membuat wanita itu meminta ampun bahkan pingsan akibat permainan kasar Marcell.
Kali ini Marcell bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia mengurung Vanya di dalam kamarnya. Tak ada alat komunikasi di dalamnya. Ia ingin memberi efek jera pada Vanya agar tak membuatnya marah, apalagi berusaha pergi darinya.
''Baik, Tuan.'' sahut Bibi pelayan.
Setelah itu Marcell segera pergi meninggalkan mansionnya. Jika biasanya Marcell langsung menuju ke kantornya, hari ini ia memiliki tujuan yang lain. Setelah mengendarai hampir satu jam lamanya, akhirnya mobil mewah milik Marcell berhenti di depan lobi sebuah perusahaan besar. WIJAYA GROUP. Papan nama yang terpampang di depan lobi perusahaan tersebut.
Setibanya di sana, Marcell bergegas masuk dan menghampiri meja resepsionis yang ada tak jauh dari pintu masuk.
''Ada yang bisa kamu bantu, Tuan ?'' seorang wanita muda bertanya kepada Marcell.
''Saya ingin bertemu dengan Arga.'' jawab Marcell.
''Sudah membuat janji, Tuan?'' tanya wanita itu lagi.
''Belum. Bilang saja namaku Marcell ingin bertemu dengannya,'' sahut Marcell dingin.
''Tunggu sebentar, Tuan.'' setelah mengatakan itu, wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu segera mengangkat gagang telepon dan menghubungi pihak atasannya. Tak lupa juga ia memberitahukan jika Marcell datang dan ingin bertemu.
''Silakan naik ke lantai tiga puluh delapan, Tuan. Nanti Tuan akan di sambut asisten Tuan Arga,'' ucap resepsionis itu dan hanya diangguki oleh Marcell.
Tak mau menunggu lebih lama lagi, Marcell segera menghampiri lift dan naik menuju ke lantai dimana Arga berada.
Ting
Suara lift berbunyi dan Marcell segera keluar ketika pintu lift terbuka. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah meja yang tak jauh dari lift itu berada.
''Selamat datang,Tuan. Silakan masuk dulu. Tuan Arga akan segera kembali setelah menyelesaikan meeting.'' ucap Dinda - asisten Arga.
Marcell hanya menganggukkan kepala sambil mengikuti langkah Dinda yang memasuki ruangan kerja milik Arga.
Mewah. Kesan pertama yang langsung terlintas di benak Marcell saat melihat bagaimana interior design dari ruangan tersebut. Marcell mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu hingga suara Dinda membuyarkan pandangannya.
__ADS_1
''Silakan duduk, Tuan.'' ucap Dinda. Marcell pun mengangguk sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
Setelah menyajikan secangkir teh hangat, Dinda pun pergi meninggalkan Marcell sendirian di sana.
'Takkan ku biarkan kau merebut wanitaku, brengsek.' batin Marcell saat menatap sebuah pigura besar berisi foto Arga yang tampak gagah menggunakan setelan formalnya.
Ceklek
Setelah sekian lama menunggu akhirnya orang yang ditunggu Marcell telah kembali menampakkan batang hidungnya. Marcell seketika mengepalkan kedua tangannya kala teringat tentang hubungan Vanya dengan laki-laki itu dibelakangnya.
Arga tampak berjalan menghampiri Marcell diikuti oleh Dinda di belakangnya. Melihat hal itu, Marcell pun ikut beranjak dan berjalan menghampiri Arga.
''Selamat datang, Tuan Mar...'' belum sempat Arga menyambut kedatangan Marcell, ia terlebih dulu mendapatkan bogeman mentah di rahang kirinya.
''Tuan,'' teriak Dinda yang terkejut melihat hal itu. Arga seketika menghentikan Dinda yang ingin membantunya. Karena memang Marcell memukul rahang Arga dengan sangat keras hingga membuat Arga terhuyung dan hampir jatuh jika tak mampu menahan beban tubuhnya.
''Keluarlah, Dinda. Ini urusan pribadiku,'' titah Arga yang membuat Dinda mau tak mau hanya bisa menurut.
''Baik, Tuan.'' sahut Dinda. Lalu wanita itu pergi meninggalkan ruangan itu setelah ia menatap nyalang kepada Marcell.
''Ada apa ini, Tuan Marcell? Kenapa anda datang-datang langsung memukul saya?'' tanya Arga santai. Marcell kian meradang melihat raut wajah santai Arga setelah mendapatkan pukulan darinya.
''Jauhi Vanya. Atau aku akan menghancurkan mu!" desis Marcell. Arga yang mulai mengerti akan maksud kedatangan Marcell padanya.
Kini ia malah tengah khawatir dengan keadaan Vanya, apalagi ia tahu persis bagaimana perlakuan Marcell padanya selama ini.
"Kalau saya tidak mau?" tantang Arga. Kini ia pun tak akan merelakan jika Vanya jatuh di tangan laki-laki brengsek seperti Marcell. Sudah cukup penderitaan Vanya selama ini. Kini sudah saatnya ia membahagiakan wanita yang mampu mencuri hatinya tersebut.
grep
Dengan kasar Marcell meraih kerah kemeja putih milik Arga dan menatapnya tajam.
''Takkan kubiarkan kau mengambil Vanya dariku. Kau tak bisa lagi menghubunginya. Karena aku sudah memutus segala komunikasi Vanya dengan siapapun.'' ucap Marcell dingin.
'Dimana kamu, baby? Aku sangat menghawatirkan mu. Semoga kamu baik - baik saja, baby.' batin Arga yang kini semakin menghawatirkan keselamatan Vanya. Apalagi melihat peringai Marcell saat ini. Arga yakin Marcell telah melakukan sesuatu terhadap wanita itu. Dan itu mampu membangunkan sisi kejam Arga.
__ADS_1
''Apa yang sudah kau lakukan padanya, brengsek? Jangan sekali-kali kau menyakiti wanitaku,'' sentak Arga sambil mencengkeram kuat kerah kemeja biru Marcell.
bugh..
Sebuah pukulan Marcell layangkan di pipi kiri Arga hingga membuat sudut bibirnya tampak mengeluarkan bercak darah. Arga sampai mundur beberapa langkah akibat pukulan itu.
bugh
Arga pun membalas pukulan dari Marcell dengan tak kalah kerasnya.
Akhirnya kedua laki-laki itu terlihat adu jotos selama beberapa saat hingga Dinda harus memanggil pihak keamanan untuk menyelamatkan atasannya.
''Kuperingatkan sekali lagi kau, Arga. Jangan pernah berani menyentuh Vanya atau aku akan menghancurkan mu. Ingat itu!'' Sentak Marcell saat kedua tangannya dicekal oleh dua bodyguard Arga.
Sedangkan Arga tampak santai sambil mengelap sudut bibirnya yang terasa asin akibat darah yang mengalir disana. Ia pun tampak tersenyum tipis mendengar ucapan dari Marcell.
Arga berjalan menghampiri Marcell sambil mengibas-ibaskan tangannya di lengan jasnya, seperti tengah membersihkan debu disana. Setibanya di depan wajah Marcell, Arga memasukkan kedua tangannya di saku celana panjang nya.
''Sebelum kau hancurkan aku, aku akan lebih dulu menghancurkan mu dan juga seluruh keluarga mu, sialan!" desis Arga dengan tatapan mata tajamnya.
Marcell terlihat ingin berontak saat mendengar ucapan Arga. Ia merasa tak terima jika Arga tak mau menjauhi Vanya. Marcell sampai berteriak memerintahkan kedua bodyguard itu agar melepaskannya.
"Lepas! Lepaskan!" teriak Marcell pada kedua orang berbaju hitam-hitam tersebut.
''Bawa laki-laki brengsek ini keluar dari ruangan saya. Pastikan laki-laki ini tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sini lagi.'' titah Arga yang kemudian diangguki oleh kedua bodyguard nya.
''Lepaskan! Lepaskan saya! Awas kau Arga! Tunggu pembalasanku!'' teriak Marcell saat dirinya di seret keluar oleh kedua bodyguard Arga.
''Anda tidak apa-apa, Tuan?'' tanya Dinda.
''Gak apa-apa. Keluarlah, Din. Jangan ganggu aku dulu,'' titah Arga seraya berjalan menuju meja kerjanya.
''Baik, Tuan.'' Dinda pun mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
''Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.''
__ADS_1
''Sialan,''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...