Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 86 Ketahuan


__ADS_3

Vanya saat ini tengah menikmati burger king nya sambil menonton film Korea kesukaannya. Tadi ia memesan satu paket burger king dari salah satu restoran cepat saji yang berada di sekitar apartemen miliknya.


*kring


kring*


Saat Vanya tengah menikmati makanan nya itu, terdengar suara panggilan yang masuk di ponselnya. Vanya meletakkan burgernya lalu meminum cola terlebih dahulu sebelum ia mengangkat panggilan tersebut.


'Marcell? Ada apa dia telepon sekarang? Bukannya nanti dia akan kesini?' batin Vanya bertanya saat melihat nama kekasihnya itu kini tengah menghubunginya.


''Ha...'' belum sempat Vanya meneruskan ucapannya, suara dingin Marcell terlebih dahulu menyela.


''Datanglah ke rumahku sekarang,'' setelah mengatakan itu, Marcell langsung mematikan sambungan telepon itu. Vanya tentu heran melihat tingkah Marcell saat ini.


'Aneh. Ada apa dengannya? Kenapa kedengarannya dia sangat marah? Ck, entahlah. Nunggu aku habisin ini dulu baru aku akan pergi ke sana.' batin Vanya sambil melanjutkan makannya.


Setelah tiga puluh menit kemudian, Vanya selesai dengan makan sorenya. Lalu ia bergegas bersiap-siap sebelum pergi menuju mansion milik Marcell.


Mengendarai mobil miliknya, Vanya kini sampai di mansion milik Marcell setelah hampir empat puluh menit di perjalanan.


''Marcell dimana, Bi?'' tanya Vanya kepada Bibi pelayan disana.


''Tuan ada di kamarnya, Nona.'' ucap Bibi itu.


''Kalau begitu, aku ke atas dulu Bi.'' setelah mengatakan itu Vanya segera bergegas menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Marcell.


tok..tok


''Masuk'' setelah mendengar suara Marcell, Vanya pun membuka pintu itu.


Vanya bisa melihat Marcell tengah berdiri dengan posisi berdiri membelakanginya serara menatap keluar dinding yang menampilkan pemandangan yang belakangan mansion Marcell.


Vanya tau jika ada yang tak beres dengan kekasihnya itu. Tak biasanya ia bersikap dingin seperti ini jika Vanya tak memiliki salah.


''Ma-Marcell?'' Panggil Vanya. Wanita itu masih berdiri di belakang tubuh Marcell. Vanya berdiri dengan jarak tiga meter dari Marcell.


Vanya sedikit bergidik saat melihat Marcell yang seperti memiliki dendam padanya. Apalagi kini Marcell perlahan berbalik dan menatapnya.


*deg

__ADS_1


deg*


Detak jantung Vanya berdetak lebih kencang saat ini. Melihat aura dingin yang terpancar dari tubuh Marcell. Vanya bahkan dibuat kesusahan saat ia ingin menelan ludahnya sendiri sekarang akibat ditatap oleh Leon.


''Apa hubunganmu dengan Arga?''


Duar


Seakan tersambar petir, tubuh Vanya seketika membeku. Bergetar saat dirinya menyadari jika Marcell saat ini mencurigai hubungannya dengan Arga. Bahkan debaran jantung Vanya sekarang kian tak menentu akibat satu kalimat yang terucap dari mulut Marcell. Satu kalimat yang mampu membuat bangun sisi gelap Marcell selama ini.


'Ini kah saatnya semuanya terbongkar ?'' tanya Vanya dalam hati. Meski sebenarnya ia juga tahu jika lambat lain hubungan gelapnya dengan Arga pasti ketahuan oleh Marcell. Namun disisi lain ia juga ingin mengakhiri hubungan dirinya dengan Marcell.


''A-apa maksud mu, Marcell? A-aku tak mengerti.'' ucap Vanya berkilah. Meski ia tahu arti dari ucapan Marcell, di depan Marcell ia mengeluarkan. bakar aktingnya.


Srak


Marcell mengambil beberapa foto di atas mejanya dan membuang foto itu ke arah Vanya hingga membuat beberapa foto itu berterbangan. Hingga akhirnya foto-foto itu tersebar di udara dan jantung di bawah kaki Vanya.


Kedua mata cokelat Vanya membulat saat melihat foto-foto dirinya dengan Arga yang tengah bergandengan di dalam lorong hotel tempatnya menginap di Singapura.


'Bagaimana bisa foto-foto ini sampai pada Marcell? Siapa yang mengirimkannya?' batin Vanya bertanya-tanya siapa gerangan yang membuntutinya di Singapura. Marcell yang melihat keterdiaman Vanya seketika mengetatkan rahang nya.


Marcell melangkahkan kakinya menghampiri Vanya. Setibanya di depan Vanya, Marcell langsung mencengkeram kuat rahang Vanya hingga membuat wanita itu meringis.


''Sakit kau bilang, huh? Katakan padaku, Vanya. Ada hubungan apa kamu sama baji ngan itu, hah?'' bentak Marcell tepat di depan wajah Vanya hingga membuat Vanya memejamkan matanya.


Ting


Suara ponsel milik Vanya mengundang atensi keduanya. Vanya semakin dibuat was-was saat ia mendengar suara pesan masuk di ponselnya. Kedua mata Marcell kian memicing hingga ia melepaskan cengkeraman tangannya kemudian ia merampas tas hitam milik Vanya.


''Apa yang kau la...'' belum sempat Vanya meneruskan ucapannya, Marcell terlebih dulu sudah mengambil ponselnya dan melempar sembarang tas hitam itu hingga terpececer di lantai.


Marcell tampak tersenyum tipis saat melihat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel Vanya.


^^^*to : Vanya^^^


^^^Lagi dimana?^^^


^^^from : A*^^^

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Marcell menekan tombol panggil nomor tersebut hingga terdengar sambungan dari seberang sana.


'Halo? Lagi dimana, baby?'' tanya seorang laki-laki di seberang sana. Kedua mata Marcell menatap tajam ke arah manik mata Vanya. Mendapat tatapan mata tajam itu membuat nyali Vanya menciut. Ia hanya bisa menundukkan kepala tanpa bisa menjawab ucapannya.


''Halo?''


''Halo?''


''Van?''


Berulang kali suara di seberang sana terdengar. Namun Vanya dan Marcell masih setia dengan keterdiaman mereka. Beberapa saat kemudian Marcell pun mengakhiri panggilan tersebut lalu membanting ponsel mahal milik Vanya.


brakk


Suara ponsel Vanya yang dibanting hingga membuat ponsel itu rusak dan berhamburan di atas lantai. Vanya hanya bisa diam. Tak tahu harus berbuat apa saat ini.


''Kau menghianatiku, Vanya? Huh?'' Bentak Marcell dengan suara kerasnya hingga membuat tubuh Vanya terlontar dan memejamkan matanya sejenak.


''A-aku bisa jelaskan, Marcell.'' ucap Vanya pertama kali saat ini. Marcell langsung mengulurkan tangannya pada leher jenjang Vanya dan mencekiknya.


''Apa, hm? Apa lagi yang akan kamu jelaskan, Vanya? Aku bisa membunuhmu saat ini juga, Vanya.'' desis Marcell tepat di depan wajah Vanya saat ini.


Vanya yang sudah muak, iapun memberanikan diri membalas tatapan mata Marcell.


''Bunuh, Cell . Ayo bunuh aku,'' ucap Vanya memprovokasi kekasihnya itu. Karena emosi Marcell mencengkeram kuat hingga beberapa saat kemudian ia menghempaskan tubuh yang tak berdaya di lantai bawah beralasan karpet bulu.


.hosh


hosh


hosh


"Itulah dirimu, Marcell. Tak pernah mau mendengarkan penjelasan dulu dariku,'' ucap Vanya sambil terus menetralkan detak jantung dan juga pernapasannya.


''Penjelasan? penjelasan apalagi yang akan kamu berikan? Bukti juga sudah ada di depan mata, hah?'' bentak Marcell dengan napasnya yang memburu. Kedua tangannya mencengkeram kuat menahan dirinya untuk tak meluapkan amarahnya pada Vanya.


''Memang benar. Aku ada hubungan dengan dia dan aku mencintainya. Bagiamana rasanya ? Itulah yang aku rasakan setiap memergoki mu dengan wanita lain diluaran sana.'' imbuh Vanya yang kian membuat Marcell terbakar api cemburu.


''Kurang a jar.''

__ADS_1


Brakk


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2