Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 114 Arga yang sekarang


__ADS_3

Wijaya Group


Wajah dingin terpancar dari seorang laki-laki yang merupakan pewaris sah dari perusahaan tersebut. Hampir tak pernah terlihat lagi senyuman yang dulu sempat menjadi daya tarik Arga Putra Wijaya. Semenjak kepergian sang kekasih tercinta - Vanya, Arga berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sosok seorang laki-laki yang dingin dan tak tersentuh. Seluruh karyawan baik laki-laki maupun perempuan sangat takut terhadapnya.


Arga mendedikasikan hidupnya pada perusahaan miliknya. Tak ada lagi Arga sang Cassanova, yang ada kini Arga yang sangat sibuk bekerja dengan keras demi memajukan perusahaannya hingga kini bisa berada sejajar dengan perusahaan milik sahabatnya - Alexander Dominic.


Tak pernah lagi Arga menginjakkan kakinya ke club'. Bahkan Blue Moon club' miliknya sudah hampir tiga tahun sudah berganti pemilik. Ia benar-benar ingin memulai lagi hidupnya dengan baik. Meski sudah tak pernah lagi bertemu dengan Vanya, namun Arga yakin jika memang suatu saat mereka pasti bertemu. Oleh karena itu, Arga mempersiapkan segalanya. Ia belajar meninggalkan semua kebiasaan buruknya selama ini. Jangankan masuk club', minum wine pun ia hanya meminumnya jika ia sedang bersama dengan sahabat-sahabatnya.


"I'm here still love you very much, honey. And miss you so much, (aku disini masih sangat mencintaimu, sayang. Dan sangat merindukanmu,)" gumam Arga sambil menatap lurus keluar jendela kantornya.


Saat ini ia masih berada di kantornya meski sudah menunjukkan pukul lima sore. Mungkin saat ini seluruh karyawannya sudah mulai meninggalkan tempat mereka bekerja.


*tok


tok


tok*


''Masuk,'' ucap Arga saat mendengar suara ketukan di pintu ruangannya.


''Sudah waktunya pulang, Tuan.'' suara Dinda terdengar di telinga Arga. Arga tak menyangka jika dirinya sudah berdiri hampir dua jam lamanya disana.


''Pulanglah, Din. Aku masih ingin disini,'' ucap Arga tanpa menoleh kearah asistennya tersebut. Ia masih betah dengan posisinya saat ini.

__ADS_1


Tampak Dinda menghela napasnya melihat Tuan-nya yang sekarang. Ia tahu bagaimana perasaan Arga.


'Dimanakah kau Vanya? Lihatlah bagaimana Arga saat ini. Aku sangat sedih melihat keterpurukan Arga setelah kepergian mu, Vanya. Dimanapun kamu berada saat ini, aku hanya ingin mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua,' ucap Dinda salam hati.


Ia tahu betul bagaimana Tuan-nya selama lima tahun ini. Tiga tahun pertama adalah tahun-tahun tersulit dalam hidup Arga. Kehilangan wanita yang dicintainya, membuat Arga seperti orang gila. Ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Vanya. Bahkan anak buah Alex juga membantu. Namun nihil. Tak ada jejak yang ditinggalkan oleh Vanya hingga membuat Arga benar-benar tak bisa melacaknya.


Disaat-saat itu, hanya Papa dan para sahabat yang selalu setia ada di samping Arga. Menguatkan dirinya, memberikannya semangat untuk bisa bangkit dari keterpurukannya. Arga sempat mengkonsumsi obat penenang agar bisa mengendalikan emosi dan perasaan nya yang tak karuan kala itu.


Beruntung Arga memiliki orang - orang yang menyayanginya. Hingga membuatnya bisa bangkit kembali seperti sekarang. Meski kini Arga tak lagi ramah seperti dulu. Ucapan dan pandangannya selalu datar. Sekalipun itu dengan Sahabat dan juga keluarganya.


Namun semua orang sudah sangat bersyukur dengan keadaan Arga sekarang. Alex dan para sahabat yang lain juga heran. Mereka semua tak ada yang bisa menemukan Vanya. Tak ada satu petunjuk pun yang ditinggalkan oleh wanita itu.


''Kalau saya permisi pulang dulu, Tuan. Jangan terlalu malam,'' setelah mengatakan itu Dinda membungkukkan badannya lalu berlalu meninggalkan ruangan itu.


Namun belum sempat Dinda memutar knop pintu, terdengar suara berat Arga yang menghentikan langkahnya.


''Ya, Tuan?'' jawab Dinda seraya membalikkan tubuhnya. Ia masih melihat punggung besar Tuan-nya itu.


''Thank's for everything,'' untuk pertama kalinya Dinda mendengar ucapan tersebut dari mulut Arga setelah sekian lama tak terdengar lagi di telinganya. Dinda tampak tersenyum bahagia mendengarnya.


''You're welcome, Tuan. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Tuan. Permisi, Tuan.'' Arga hanya mengangguk mendengar ucapan dari sang asisten.


clek

__ADS_1


Terdengar suara pintu yang tertutup. Itu menandakan jika Dinda telah benar-benar pergi dari ruangan miliknya.


''Kebahagiaan? Bagaimana aku bisa bahagia sedangkan kebahagiaan ku hanya saat aku bersama dengannya.'' Arga memejamkan matanya saat mengucapkan kata-kata tersebut. Tanpa ia bisa cegah, dua tetes air mata keluar dari sudut matanya.


''Dimana kamu sekarang, Baby? Tidakkah cukup kau menghukumku selama ini? Apa kau masih mencintaiku? Atau sudah melupakanku? Bahkan sampai sekarang aku masih teringat bagaimana indahnya senyumanmu dulu,'' tak kuat menahan kesedihannya, Arga melangkahkan kakinya mundur dan berjalan menuju sofa dan menumpahkan segala kesedihannya di sana. Dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Arga menangisi wanita yang telah lama pergi meninggalkan dirinya.


Sakit tapi tak berdarah. Sesakit itu yang kini Arga rasakan. Memendam segala rasa sendirian. Rasa cintanya, rindunya, sedihnya, tak ada lagi yang bisa laki-laki itu lakukan selain menumpahkan semua dalam tangis diamnya. Sesekali ia memukul-mukul dada bidang nya sendiri merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hatinya.


Setelah ia puas menumpahkan semuanya, Arga beranjak dari sana dan pergi menuju ke kamar pribadinya. Setibanya di kamar, Arga menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk itu dengan posisi terlentang di sana. Terdiam sejenak hingga beberapa saat kemudian Arga pun memejamkan matanya hingga tertidur akibat lelah karena pekerjaan dan juga hatinya.


Dalam mimpinya, Arga kembali bertemu denga wanita itu. Wanita cantik itu tampak bahagia menikmati waktu menonton bersama dengannya di apartemen miliknya seperti dulu. Arga ikut tertawa saat melihat Vanya tertawa. Ia juga ikut bersedih kala wanita itu juga sedih karena tayangan film yang keduanya tonton.


''Hon?'' panggil Vanya saat keduany tengah berpelukan sambil menatap layar televisi.


''Hm?'' jawab Arga tanpa melihat ke arah Vanya. Ia masih fokus dengan objek yang ada di dalam serial film itu.


''Seandainya aku menjadi sepertinya dan pergi meninggalkan mu. Apa yang akan kamu lakukan, Hon?'' tanya Vanya. Ia ingin tahu reaksi dari Arga. Di dalam film itu, wanitanya juga meninggalkan sang kekasih karena permasalahan rumit yang terjadi dalam kehidupan mereka.


''it will never happen. I will never let you go from my life, baby. (itu tak akan pernah terjadi. Aku tak akan pernah membiarkan mu pergi dari hidupku, sayang.) setelah mengatakan itu, Arga mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah Vanya.


deg


Namun tak ada lagi wajah kekasih nya itu disamping nya. Arga seketika tersentak. Denga cepat ia berdiri dan mencari keberadaan sang kekasih. Tak ada. Disetiap penjuru kamarnya tak ia temukan batang hidung Vanya.

__ADS_1


''TIDAK,''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2