
''Dengar, Vanya. Sampai kapanpun aku tak akan melepas mu. Camkan itu!" ucap Marcell dingin sambil mencengkeram kuat rahang Vanya.
Wajah cantik Vanya kini berubah mengenaskan. Kedua sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat Tamparan keras yang diberikan oleh Marcell. Pelipis kirinya juga terdapat sedikit sobekan setelah Marcell menghempaskan tubuh Vanya hingga menabrak nakas yang ada di belakangnya.
*brakk
Tubuh ringkih Vanya* tersungkur di lantai. Vanya sampai meringis menahan sakit di area pinggangnya akibat benturan keras di pinggiran nakas.
"Kenapa, Marcell? Kenapa? Tak puaskah kau buat aku seperti ini, hah? Biarkan aku bebas," air mata Vanya sudah menggenang di kedua pipi mulus Vanya. Tubuhnya terasa sangat sakit akibat pukulan demi pukulan yang diterimanya tadi. Berulang kali juga ia memohon pada Marcell agar mau mengakhiri hubungan toxic keduanya. Namun itu semakin memancing amarah Marcell hingga membuatnya tega menyakiti tubuh ringkih Vanya.
"Karena aku mencintaimu, Vanya. Sangat mencintaimu. Tak mungkin aku bisa melepasmu dan melihatmu bersama laki-laki lain apalagi dengan laki-laki breng sek itu." Vanya menggelengkan kepalanya keras-keras saat mendengar ucapan Marcell. Ungkapan cinta Marcell yang membuat Vanya tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
''Itu bukan cinta, Marcell. Itu bukan cinta tapi obsesi. Kau hanya obsesi terhadap tubuhku. Menganggap ku tak lebih dari sebuah barang yang merupakan milikmu. Kalau memang kamu cinta sama aku, kamu gak akan mungkin tega menyakiti jiwa dan ragaku, Marcell. Tapi kenyataannya kamu berulangkali menyakitiku dengan amat sangat dalam. Aku sudah lelah, Marcell. Aku lelah, lepaskan aku.''ucap Vanya tak mau kalah dengan Marcell. Ia berupaya keras untuk menyadarkan tingkat pemikiran Marcell.
''Tidak. Jangan menyerah, Vanya. Aku tidak benar-benar melakukan semuanya. Hatiku hanya untukmu, Sayang. Hanya kamu yang ada di hatiku. Kamu ingin menikah bukan? Baiklah. Ayo kita menikah.'' ucap Marcell yang teringat kala dulu Vanya pernah mengatakan jika ia ingin Marcell menikahinya. Marcell berpikir inilah saatnya ia ingin mengikat Vanya agar tak bisa pergi darinya.
Vanya mulai berontak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Marcell. Ia berusaha bangkit dari duduknya yang tadi dilantai kini bersusah payah untuk bisa berdiri. Marcell hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Vanya. Tatapan mata Vanya tajam pada Marcell, sakit yang ada pada tubuhnya tak ia rasakan. Yang ada hanya rasa sakit hatinya karena diperlakukan sedemikian rupa oleh laki-laki yang merupakan kekasih nya sendiri.
''Mau kemana kamu, hah? Jangan sampai aku kehabisan kesabaran menghadapi mu, Vanya!" gertak Marcell sambil mencengkeram kuat lengan Vanya saat Vanya berjalan melewatinya.
Plak
Geram. Vanya sudah geram dan muak dengan segala yang ada pada diri Marcell. Vanya hanya ingin bebas, bebas dari hidupnya yang selama lima tahun belakangan ini terkekang dalam hubungan toxic dengan Marcell. Perlakuan kasar Marcell membuat rasa cinta Vanya padanya kian lama terkikis dan terganti oleh sosok Arga. Laki-laki yang beberapa bulan belakangan ini memperlakukan dirinya layaknya seorang kekasih.
*Plak
__ADS_1
plak*
Marcell seketika murka dan menampar kembali kedua pipi Vanya hingga membuat Vanya terjatuh di lantai. Marcell lalu berjongkok di hadapan Vanya dan menatapnya dengan tajam.
''Kamu sudah mulai berani ya sama aku, Vanya? Pasti gara-gara laki-laki itu kamu jadi begini, iya? Hah?'' bentak Marcell sambil mencengkeram kuat rahang Vanya hingga membuat Vanya mendongak dan meringis.
''Lep-lepasin, Marcell. Sakit. Lep-lepas! Aku gak mau lagi sama kamu. LEPAS!" teriak Vanya sambil memukul-mukul kuat lengan Marcell yang masih mencengkeram rahangnya. Namun sayang, kekuatan Vanya tak seberapa dibanding Marcell.
cuih
Vanya yang sudah kehilangan akal, ia pun meludahi wajah Marcell hingga membuat laki-laki itu memejamkan matanya sejenak. Tak lama kemudian kedua mata Marcell terbuka dan menatap nyalang ke wajah Vanya. Rahangnya mengeras menahan emosi yang kini menguasai dirinya. Perlahan ia mengelap pipi kanannya yang terkena air liur milik Vanya.
''Kamu harus diberi pelajaran biar tahu diri. Sini kamu,'' geram Marcell lalu ia berdiri dan menarik tubuh Vanya kemudian menghempaskan tubuh ringkih itu di atas ranjangnya.
Ah
Marcell mulai melepaskan pakaiannya sendiri. Vanya yang melihat iku seketika merasa ketakutan. Ia menarik tubuhnya kebelakang hingga terbentur pada headboard ranjang itu.
''Jangan, Marcell. Jangan,'' ucap Vanya sambil menggelengkan kepala. Marcell yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis sambil terus melepaskan celananya hingga kini ia hanya menggunakan dalaman nya saja.
Vanya yang kebingungan seketika meraih lampu tidur dan mengarahkannya kepada Marcell. Apalagi melihat milik Marcell yang kini sudah on dan menyembul disana.
''Pergi, Marcell. Atau aku akan melemparkan ini padamu. Pergi!" teriak Vanya sambil mengacungkan tangan kanannya yang memegang lampu tidur berwarna abu-abu tersebut.
Dengan sekali tarik lampu itu kini sudah berada dalam genggaman tangan Marcell. Vanya tersentak melihatnya. Buliran air mata Vanya kini menetes membasahi kedua pipinya mulusnya.
__ADS_1
brakk
Lampu tidur itu dibuang sembarangan oleh Marcell hingga membuat lampu itu pecah dan berserakan di mana-mana. Tubuh Vanya kini bergetar ketakutan melihat wajah Marcell yang dipenuhi dengan aura iblis yang siap menerkamnya. Hanya gelengan kepala yang ditunjukkan oleh Vanya dan juga isakan tangisnya. Namun itu semua tak menggoyahkan niat Marcell untuk berhenti dari aksinya itu.
"Kamu memang harus diberi pelajaran, Vanya. Sini, kamu!" bentak Marcell kemudian ia menarik kedua kaki Vanya hingga menjuntai di bawahnya.
srakk
Dengan kasar Marcell menarik pakaian milik Vanya hingga terkoyak. Menampilkan kedua buah Vanya yang masih terbalut rapi oleh penutupnya yang berwarna navy. Senada dengan penutup milik aset sensitif Vanya.
Akh
''lihatlah. Bagaimana mungkin aku mau melepas tubuh indah ini, Sayang. Tubuhmu adalah canduku semenjak pertama kali aku menyentuhmu. Oh,'' Dengan kasar Marcell memasukkan miliknya ke dalam tubuh Vanya hingga membuat Vanya kesakitan.
Tak ada pemanasan, Marcell langsung bermain di permainan intinya. Bahkan kedua telinga Marcell seakan tak mendengar jerit tangis Vanya yang kesakitan karena ulah brutalnya itu.
'Sakit sekali, Tuhan. Sakit,' jerit Vanya dalam hati.
Tak ada kelembutan disana. Yang ada hanya perlakuan kasar Marcell terhadap tubuh Vanya seraya menghentak-hentak miliknya.
*Ouch
Ini sangat nikmat, Sayang*.
Disaat Marcell menikmati permainan yang diciptakan oleh nya itu hingga ia berteriak kenikmatan, berbeda dengan Vanya. Hanya Isak tangis dan deraian air mata yang tampak padanya. Sakit. Sakit diseluruh tubuh dan juga hatinya. Hingga akhirnya Vanya pingsan setelah Marcell menghajar tubuh ringkih itu lebih dari dua jam lamanya tanpa jeda.
__ADS_1
'Jika memang Engkau tak bisa membantuku, lebih baik bunuh aku, Tuhan. Aku sudah lelah menjalani kehidupan ini,'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...