Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 66 I Want You


__ADS_3

"No longer like. But I'm so crazy about your beautiful lips, baby.(Bukan lagi suka. Tapi aku sangat tergila-gila dengan bibir indah mu, baby.)" ucap Arga lalu ******* bibir milik Vanya.


Vanya saat ini merasa tersanjung karena dirinya dipuja-puja oleh seorang sekelas Arga. Laki-laki yang tentunya dikelilingi oleh banyak wanita, tapi kenyataannya malah menyukai dirinya.


Apakah Vanya murahan? Tidak. Ia hanya mengikuti apa kata hatinya. Ia tak mau ambil pusing dengan segala apa yang akan terjadi dikemudian hari. Yang terpenting baginya saat ini adalah kebahagiaan nya. Ya, ia bahagia saat ini bersama Arga. Laki-laki yang ternyata adalah yang pertama baginya.


'Aku sudah tidak peduli. Aku hanya ingin bahagia, meski harus menerima segala konsekwensinya. Bersama dengan laki-laki ini aku bisa melupakan sementara segala beban pikiranku yang selama ini ku tanggung. Ya, Sepertinya aku sudah jatuh dalam pesonanya,' batin Vanya sambil tersenyum dalam ciumannya.


Setelah berciuman sekian lama, Arga pun melepaskannya dan berdiri dari atas Vanya. Lalu dengan cepat ia mengangkat tubuh Vanya ala bridal dan membawanya menuju kamar pribadi miliknya.


Vanya tak protes, hanya bisa tersenyum sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Arga. Ia juga menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga yang masih berbalut kemeja putih miliknya. Ia tak menampik jika saat ini ia juga menginginkannya. Sebagai seorang wanita yang sudah pernah melakukan itu, tentu saja ia membutuhkan kehangatan dan juga kenyamanan yang selalu ditawarkan Arga padanya.


Sesampainya di dalam kamar, Arga menurunkan tubuh Vanya dengan sangat pelan di ranjang empuk itu. Seolah-olah Vanya adalah barang berharga yang dapat pecah jika diletakkan dengan sembarangan.


Setelah memastikan Vanya terbaring di ranjang itu, Arga berdiri lagi lalu bergeser sedikit ke arah kaki Vanya. Vanya hanya bisa mengamati segala gerak-gerik Arga saat ini. Dengan lembut Arga meraih kaki mulus Vanya dan melepaskan satu persatu high heels dari sana. Vanya tersenyum melihat dirinya diperlakukan lembut seperti itu. Belum pernah ada orang yang mau melepaskan sepatunya, meski itu Marcell - kekasihnya sekalipun.


Cup


Sebuah kecupan dilayangkan Arga di punggung kaki kanan dan kiri Vanya. Vanya sampai memejamkan matanya merasakan hangatnya bibir Arga yang menyentuh kulit kakinya.


''Kakimu sangat indah, baby.'' ucap Arga sambil meletakkan kembali kedua kaki Vanya di atas ranjang. Setelah itu Arga kembali bergeser dan duduk di samping Vanya. Memiringkan tubuhnya menatap ke arah Vanya yang saat ini juga tengah melihatnya. Tangannya kanannya terulur menyentuh puncak kepala Vanya. Semakin turun menuju keningnya, semakin turun menuju mata dan pipinya, hingga berlabuh di bawah bibir sexy Vanya.


Dengan menggunakan jempol kanannya, Arga mengusap bibir Vanya dengan tatapan mata tajamnya. Vanya tersenyum lalu membuka matanya perlahan saat usapan jempol itu berhenti.


*deg


deg

__ADS_1


deg*


Detak jantung Vanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Pandangan matanya bertubrukan dengan mata elang milik Arga. Keduanya saling menatap dalam diam.


Perlahan Arga mendekatkan tubuhnya menunduk ke arah Vanya. Semakin lama wajah keduanya semakin dekat. Hingga kini berjarak hanya beberapa mili saja dari wajah keduanya. Bahkan Vanya bisa merasakan deru napas Arga yang masih memburu akibat tenaganya yang terkuras akibat tadi menggendongnya. Begitu pula dengan Arga. Dari tempatnya berada, ia bisa tetap bisa bagaimana cantiknya seorang Vanya Avriella.


Sangat disayangkan untuk Marcell karena melukai Vanya. Karena bagi Arga Vanya merupakan seorang bidadari yang harus ia jaga dengan segenap jiwa dan raganya. Tak ada yang boleh menyentuh ataupun melukainya. Sekalipun itu Marcell, ia akan mulai memikirkan cara agar bisa menjadikan Vanya miliknya seutuhnya.


''I want you, baby.'' suara serak dan berat milik Arga mampu menggetarkan hati dan jiwa Vanya. Ia bisa melihat kedua manik mata Arga yang saat ini sudah berkabut gairah di sana.


Cup


Lagi-lagi Arga mencium bibir Vanya. Namun kali ini ciuman itu tak lagi lembut seperti sebelumnya. Ada gairah didalamnya sehingga membuat tubuh keduanya bagaikan terdengar aliran listrik bertegangan tinggi.


Eugh


Tak ada rasa canggung lagi diantara keduanya. Yang ada hanyalah nafsu dan cinta. Saling bekerjasama untuk mengejar kenikmatan sampai dititik tertinggi di angan-angan.


Hisapan kuat Arga menimbulkan bekas cinta yang berwarna merah kebiruan di permukaan tubuh Vanya. Apalagi disaat jambang kasar yang ada pada rahang Arga menyentuh kulit putihnya, seketika itu pula tubuh Vanya menggelinjang bak cacing yang kepanasan.


Kata-kata cinta selalu digaungkan oleh Arga kepada Vanya disetiap ia melancarkan aksinya. Malam yang tadinya dingin kini berubah menjadi panas. Sepanas gelora cinta yang membara di dalam kamar mewah tersebut.


Entah sudah berapa kali keduanya meraih puncak kepuasan mereka hingga tanpa terasa pagi menjelang. Seakan tak ada rasa bosan dan lelah yang menghinggapi keduanya, baik Arga dan Vanya kembali merengkuh bergelut mesra di atas ranjang yang kini sudah tak berbentuk lagi. Saling menyatukan tubuh, mendesah, hingga puncaknya kedua insan itu saling berpelukan dengan posisi setengah berdiri di atas ranjang.


*hosh


hosh

__ADS_1


hosh*


Deru napas keduanya memburu. Peluh membasahi tubuh keduanya, bermandikan keringat di malam yang dingin. Tubuh Vanya melemas di dekapan Arga karena sudah tak mampu lagi menopang berat badannya sendiri.


Cup


Arga melayangkan beberapa kali kecupan hangat di puncak kepala Vanya, menyalurkan rasa cintanya yang teramat sangat kepada wanita yang saat ini menjadi miliknya itu.


''I love you, baby. I am fucking love you,'' ucap Arga sambil mengusap punggung mulus Vanya. Bahkan hingga saat ini inti tubuh keduanya masing menyatu dibawah sana. Meski permainan panas mereka telah berakhir, namun sepertinya baik Arga dan Vanya masih enggan untuk melepaskannya.


''Hm,'' hanya deheman yang terdengar dari mulut yang kini sudah terasa kebas akibat permainan panas mereka malam ini. Permainan yang menjadi awal dari perjalanan kisah keduanya.


Akh,


Desah Vanya terdengar saat Arga dengan gerakan perlahan mencabut miliknya dari sarang milik Vanya. Vanya sampai memejamkan mata saat gerakan slow motion itu terjadi.


Setelah itu Vanya menghempaskan tubuhnya ke belakang, mengatur ulang deru napasnya yang hingga kini masih memburu karena kelelahan setelah mengarungi lautan asmara bersama Arga.


Melihat Vanya yang sudah tepar tanpa memperdulikan tubuhnya yang masih polos itu membuat Arga hanya bisa tersenyum. Ia tak menyangka jika Vanya mampu mengimbangi permainannya yang sangat perkasa dan lama itu.


Hanya Vanya, wanita satu-satunya yang bisa menjadi partner terbaik di ranjang panasnya.


''Let's sleep, baby. I Love you,'' ucap Arga sambil berbaring di belakang tubuh Vanya lalu memeluknya. Tak lupa juga ia mengecup bahu terbuka Vanya dan menyelimuti tubuh mereka agar nantinya tak merasa kedinginan.


*Cup


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...

__ADS_1


__ADS_2