
''Lepaskan, Hon. Aku harus pergi sekarang,'' ucap Vanya pada Arga. Laki-laki itu saat ini masih memeluk tubuh Vanya di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya.
''Lima menit lagi, baby.'' sahut Arga masih dengan mata yang terpejam.
''No. Kamu sudah menahanku lebih dari empat jam, Honey. Aku harus segera pulang sebelum Marcell datang.'' ucap Vanya.
Mendengar nama itu disebut, seketika membuat Arga meradang. Ia merasa tak dianggap jika sudah menyangkut Marcell. Dan Arga tak menyukai itu.
*Sh***
Dalam hati Arga mengumpat saat teringat dengan kenyataan jika dirinya hanyalah tak lebih dari seorang kekasih gelap Vanya. Dengan cepat Arga membalik tubuh Vanya dan menindihnya.
''Lakukan sekali lagi. Lalu aku akan melepas mu pergi,'' ucap Arga dengan tatapan tajam nya. Vanya menghela napas saat menyadari perubahan sikap Arga setelah ia menyebut nama Marcell saat bersamanya.
''Baiklah. I'm yours, Honey. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan pada diriku ini,'' ucap Vanya dengan nada menggoda nya. Tak lupa ia melingkar kedua tangannya di leher Arga. Mendengar hal itu membuat Arga seketika berbinar lalu ia pun memulai permainan panasnya lagi dengan Vanya.
Ceklek
Vanya berjalan gontai memasuki apartemen miliknya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar dan segera memasuki kamar mandinya.
''Uh, segarnya.'' ucap Vanya setelah ia menyelesaikan ritual mandinya. Tubuhnya terasa pegal-pegal setelah melayani buasnya Arga tehadap tubuhnya.
Bahkan hingga saat ini Vanya masih merasakan sedikit ngilu di area sensitifnya akibat permainan panas Arga. Namun ia tak menampik jika dirinya juga menyukainya.
''Dia memang sangat buas. Melebihi buasnya serigala malam.'' ucap Vanya sambil geleng-geleng kepala saat melihat pantulan dirinya di cermin.
Banyak sekali tanda cinta yang ada pada tubuhnya sekitar leher dan dadanya.
Vanya mengambil salah satu concealer miliknya dan mengaplikasikannya pada bagian tubuhnya yang terdapat bekas ciuman itu. Setelah selesai, Vanya kembali memakai bathrobe nya dan berjalan menuju walking closet miliknya.
Kini Vanya sudah berganti pakaian. Lalu ia segera memoles sedikit wajahnya dengan rangkaian skincare miliknya. Setelah selesai, Vanya segera keluar dari kamar. Berjalan menuju ke dapur dan membuka kulkas raksasa setibanya di sana.
''Kosong,'' ucap Vanya saat melihat kulkasnya kosong tak berisi bahan masakan. Vanya menghela napas lalu kembali menutup pintu kulkas.
__ADS_1
Vanya berjalan menuju kamarnya kembali dan beberapa saat kemudian ia keluar sambil membawa ponselnya.
''Sembari menunggu makanan datang, aku mau nonton dulu, ah.'' ucap Vanya lalu ia menyalakan televisi besar yang ada di ruang tamunya.
Di tempat lain
*tok
tok*
''Masuk,''
Seorang wanita seksi memasuki ruangan milik Marcell. Marcell yang melihat kedatangan wanita itu tampak cuek sambil kembali mengerjakan pekerjaannya.
''Ada apa?'' tanya Marcell datar. Sedangkan wanita itu tampak cemberut mendengar Marcell yang tak terlalu menanggapinya.
'Sial. Dia mengabaikan ku. Kita lihat saja nanti, pasti kamu akan terkejut melihat apa yang akan aku tunjukan padamu, Marcell.' batin wanita itu.
Masih terbayang dengan jelas bagaimana permainan panas Marcell padanya saat keduanya tak sengaja bertemu kemarin lusa di salah satu club' malam. Saat itu Marcell mabuk berat hingga ia tak sadar memakai seorang wanita dan sialnya wanita itu merupakan wanita yang selama ini terus menerus mengejarnya.
Dengan sekuat tenaga Marcell menahan diri agar tak sampai menerjang wanita itu mengingat bagaimana sepak terjangnya di dunia keartisan ini.
''Jika tak ada yang penting, keluar saja. Aku sibuk,'' sahut Marcell masih berkutat dengan berkas-berkas miliknya. Wanita itu tampak mengepalkan kedua tangannya saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Marcell - laki-laki yang selama ini ia puja-puja.
'Kau tak akan mampu menolak ku, Marcell.' batin wanita itu lagi seraya menurunkan penutup miliknya. Penutup yang hanya berbentuk tali berwarna merah kini berada di tangan kanan wanita itu.
Wanita itu berjalan mendekati meja kerja Marcell lalu meletakkan tali itu di depan mata Marcell. Sontak perbuatannya mendapat tatapan tajam dari Marcell.
''Apa yang kau lakukan, Cynthia? Pergi keluar sekarang sebelum aku kesabaran ku habis,'' desis Marcell sambil menatap tajam ke arah Cynthia.
Cynthia yang berhasil menarik perhatian Marcell malah tersenyum manis.
''Yakin tak mau ini, Sayang?'' tanya Cynthia sambil menyibak rok mininya hingga menampilkan miliknya itu.
__ADS_1
*Fu***
Seketika Marcell mengumpat lalu dengan kasar ia berdiri dari duduknya. Menekan sebuah tombol yang ada di bawah bawahnya lalu berjalan menghampiri Cynthia yang masih dengan menampilkan tubuh bawahnya yang diekspos menggoda Marcell.
''Aku tau kau tak akan bisa menolak ku, Marcell. Hajar aku,'' ucap Cynthia tepat di depan Marcell saat laki-laki itu sudah berada di depannya. Rahang Marcell mengeras seketika, kedua matanya menggelap dibutakan oleh nafsu yang dipancing oleh wanita seperti Cynthia.
''Kau yang memintanya, bit**.'' Setelah mengatakan itu Marcell segera menyeret tubuh Cynthia dan menghempaskan nya di sofa Marcell.
Bukannya kesakitan, Cynthia justru tertawa sambil melebarkan kakinya menggoda Marcell. Tak perlu butuh waktu lama, Marcell pun menggarap wanita itu hingga suara jeritan demi jeritan memenuhi ruangan kerja tersebut.
Peluh membanjiri tubuh keduanya, suara kecipak yang dihasilkan dari penyatuan kedua tubuh insan itu terdengar sangat menggema di sana. Pakaian yang berserakan menjadi pemandangan pertama jika ada seseorang memasuki ruangan itu. Untung saja ruang kerja tersebut kedap suara, hingga jeritan dan era ngan kedua manusia itu tak sampai terdengar di luar ruangan tersebut.
Hampir dua jam lamanya Marcell menggarap tubuh Cynthia sampai membuat Cynthia merasa ampun-ampun. Namun ia juga sangat menyukai permainan Marcell yang sangat panas itu. Tak bisa ia pungkiri jika Marcell memiliki tubuh yang sempurna juga tenaganya yang besar hingga membuatnya merasa sangat puas. Ia sangat berterimakasih pada alkohol yang kemarin lusa membuat Marcell hilang kendali sampai menidurinya. Pengalaman pertamanya dengan Marcell dan oleh karena itu membuatnya tak bisa melupakannya.
''Pergilah, aku sibuk.'' ucap Marcell setelah ia kembali memakai pakaiannya. Lalu ia kembali berjalan menuju mejanya. Ia tak menghiraukan peluh yang masih membanjiri tubuhnya, karena memang pekerjaannya itu sangat penting sehingga ia harus menyelesaikannya hari ini juga.
Cynthia masih berada di sofa, mengatur napasnya yang masih terengah-engah akibat permainan Marcell beberapa saat yang lalu. Perlahan ia mulai memakai kembali pakaiannya.
''Aku punya kejutan untuk mu, Marcell. Kamu pasti tidak akan menyangka itu,'' ucap Cynthia sambil membenahi make-up nya yang pudar akibat permainan panas mereka. Marcell diam, tak menanggapi ucapan Cynthia.
'Kurang a jar. Dia masih saja dingin meski kami habis melakukannya,' batin Cynthia kesal.
Tak kehabisan akal, Cynthia segera membenahi riasannya. Setelah selesai ia beranjak dari sana dan kembali menghampiri meja Marcell.
''Keluar, Cynthia.'' suara datar Marcell kembali terdengar saat ia menyadari langkah Cynthia yang kini mulai mendekatinya kembali.
''Kau pikir Vanya itu wanita baik-baik, Marcell? Kau salah besar jika menganggapnya begitu. Bahkan aku punya bukti yang memperlihatkan bagaimana murahannya kekasihmu itu,'' ucap Cynthia sambil tersenyum penuh arti.
'Thanks, Sonia. Berkat mu aku bisa menghancurkan wanita itu,' batin Cynthia yang berterimakasih pada temannya karena kemarin temannya mengirimkan beberapa foto padanya.
''Apa maksud mu, Cynthia? Jangan bicara sembarangan. Lebih baik keluar dari ruangan ini, sebelum aku memanggil satpam.'' tegas Marcell sambil menatap tajam ke arah Cynthia. Cynthia memutar bola matanya jengah karena Marcell masih saja menyanjung Vanya. Lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam tas miliknya kemudian menyodorkan beberapa cetakan foto di hadapan Marcell.
''Lihat ini. Bukankah ini adalah kekasihmu - Vanya?''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...