Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 112 Kehidupan Vanya setelah menjadi Ella


__ADS_3

Lima tahun kemudian


Seorang wanita cantik tengah berjalan memasuki sebuah restoran sendirian. Rambutnya yang pendek membuat wanita tersebut tampak seperti gadis seusia dua puluhan tahun. Namun meski dirinya cantik, tak ada senyuman di bibirnya. Ia terkesan dingin, sedingin salju yang ada di kutub bagian Utara.


Sesampainya di dalam sana, ia disambut oleh seorang pelayan restoran tersebut. Perlahan wanita itu melepaskan kacamata hitamnya yang sejak tadi menutupi paras cantiknya.


"Bienvenue au restaurant de style J, mademoiselle. Puis-je vous aider? Vous avez réservé une table ou pas Mademoiselle? (Selamat datang di restoran J-style, nona. Dapatkah saya membantu Anda? Anda sudah memesan meja atau tidak, Nona)" tanya pelayan itu pada wanita itu.


"Déjà. Table du nom de Leonard Nerotouw. (Sudah. Meja dengan nama Leonard Nerotouw.)" jawab wanita cantik itu.


Pelayan tersebut tampak menganggukkan kepala lalu ia mengarahkan tamunya itu menuju ke sebuah ruangan yang ada di salah satu sudut restoran tersebut.



"S'il vous plaît, mademoiselle. Monsieur Nerotouw est déjà à l'intérieur,(Silakan, Nona. Tuan Nerotouw sudah berada di dalam,)" wanita itu mengangguk lalu ia mengetuk sejenak pintu ruangan VVIP tersebut dan masuk kedalamnya.


"Kau sudah datang, Ella sayang?" tanya seorang wanita yang kemudian menghampiri wanita yang baru datang tersebut. Vanya (Ella) saat ini tengah mendatangi sebuah restoran karena suruhan sang kakak.


Namun setibanya disana ia begitu terkejut saat melihat tak hanya kakaknya disana. Daddy dan Mommy nya juga berada di sana.

__ADS_1


Lima tahun yang lalu Avril terbangun dari komanya. Seluruh orang sangat bahagia mendengar hal itu. Chris, Leon, dan Vanya (Ella) sampai tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis bahagia bersama. Akhirnya penderitaan mereka selama puluhan tahun berakhir sudah. Kembalinya Vanya (Ella) kepelukan mereka ditambah Avril yang juga akhirnya membuka matanya membuat Chris dan Leon tak henti-hentinya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Tak ada kebahagiaan yang lebih hakiki daripada kembalinya kedua wanita yang sangat mereka cintai dan sayangi itu.


Selama setahun penuh Vanya (Ella) mendampingi sang Mommy menjalani pemeriksaan serta terapi pasca komanya, demi membangkitkan urat syaraf yang telah lama mati. Avril pun juga semakin bersemangat karena dorongan dari orang-orang tercinta yang ada di sekitarnya. Hingga setelah menjalani semua proses penyembuhan itu semua, Avril bisa berjalan kembali seperti sedia kala setelah satu setengah tahun masa pemulihan dan terapinya.


Avril juga telah menceritakan bagaimana Vanya (Ella) bisa dibawa oleh pelayan mereka saat itu. Hanya karena sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Avril, membuat wanita itu menyuruh pelayan kepercayaan nya untuk membawa pergi Vanya (Ella) dari sana. Berulangkali Avril mengucapkan permintaan maafnya pada suami dan kedua putra-putri nya karena kebodohannya yang terlalu percaya dengan pesan yang tak jelas asal usulnya itu.


Chris, Leon, dan Vanya (Ella) bahkan tak menyalahkan Avril atas kejadian ini semua. Apalagi Avril juga selama ini sudah menderita dan berjuang sendirian di alam bawah sadarnya. Betapa beruntungnya Avril bisa memiliki ketiganya. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan selalu mendampingi dan mengutamakan kebahagiaan kedua putra-putri nya.


Lalu bagaimana dengan hidup Vanya (Ella) selama ini? Karena ia trauma dengan kehidupan seorang model dan selebriti, membuatnya memilih banting setir menjadi seorang pengusaha seperti Kakak dan juga Daddy-nya.


Setelah memastikan sang Mommy benar-benar sembuh total, Vanya (Ella) kembali menata hidupnya dengan belajar dunia bisnis pada kakaknya.


Vanya (Ella) mulai meniti karier nya di perusahaan milik sang Daddy. Selama tiga tahun lamanya Vanya (Ella) menjalani hidup seperti pekerja kantoran yang lain. Vanya (Ella) sangat menikmati hidupnya yang sekarang. Karier yang kini kian cemerlang, cinta kasih keluarganya yang dicurahkan padanya, membuat Vanya (Ella) bersyukur dan bahagia dengan semua pencapaian dalam hidupnya.


Vanya (Ella) juga menjadi lebih pendiam. Ia akan hangat hanya dengan keluarganya saja. Namun jika ada laki-laki yang mendekat padanya, ia akan seketika menjadi semakin pendiam bahkan terkesan dingin dan acuh dengan orang tersebut. Vanya (Ella) juga menjauhkan dirinya dari dunia maya. Ia tak memiliki akun sosial media selain miliknya yang dulu. Bahkan ia juga sudah menonaktifkan akunnya itu.


Lalu bagaimana dengan para sahabatnya yang berada di Indonesia? Vanya (Ella) memilih untuk tidak memberitahukan kehidupannya yang sekarang. Ia benar-benar memutuskan komunikasinya dengan mereka semua. Mengingat keluarganya tak ada satupun yang mengenal para sahabatnya, membuatnya semakin mudah. Meski dalam hatinya ia sangat kesepian karena tak memiliki tempat untuknya bercurah tentang suasana hatinya.


Saat ini Vanya (Ella) telah menjabat menjadi direktur keuangan di perusahan induk milik sang Daddy. Meski awalnya Vanya (Ella) sangat kuwalahan dengan pekerjaan-pekerjaannya, namun karena tekad dan gigihnya dalam bekerja, membuat Vanya (Ella) mampu menunjukkan kualitas akan dirinya. Apalagi mengingat dirinya dulunya merupakan siswi yang sangat cerdas, tak heran membuatnya mudah memahami segala pekerjaannya saat ini.

__ADS_1


"Ada acara apa ini, Mom? Kenapa bisa bersama-sama seperti ini disini? Apa akan ada pertemuan?" tanya Vanya (Ella) penasaran. Karena tak seperti biasanya sang Mommy mau diajak makan di luar rumah.


''Gak ada acara apa-apa, Sayang. Mommy hanya ingin quality time dengan kalian di luar rumah. Sudah lama kita tak menikmati ini semua bersama-sama. Apalagi semenjak kamu mulai bekerja, Mommy mulai merasa kesepian karena tak ada kamu yang menemani Mommy.'' ucap Avril seraya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sang putri tercinta.


''Ayo duduk dulu,'' ajar Avril seraya menuntun Vanya (Ella) untuk duduk di kursi samping kursinya. Vanya (Ella) hanya bisa menuruti kemauan sang Mommy tanpa ada bantahan.


''Bagaimana pekerjaan mu, Ell?'' tanya Leon pada Vanya (Ella). Saat ini ia tak lagi tinggal bersama keluarganya. Leon sudah setahun ini tinggal di kota sebelah karena memegang cabang perusahaan yang berada di sana.


''Good as always, Kak.'' jawab Vanya (Ella) sambil tersenyum tipis. Ia sangat bersyukur karena Leon tak menceritakan tentang kehidupannya dulu pada kedua orang tuanya. Vanya (Ella) takut jika nantinya kedua orang tuanya akan kecewa dan sedih jika mengetahui semuanya.


''Ell?'' panggil Avril. Terlihat jelas wajahnya yang tampak sangat berhati-hati saat memanggil putrinya tersebut.


''Ya, Mom?''jawab Vanya (Ella). Saat ini ia tengah menikmati dessert berupa puding cokelat favoritnya.


''Kamu sudah lama bekerja di kantor Daddy. Apa tidak ada seseorang yang dekat denganmu ?'' tanya Avril. Tangan Vanya (Ella) yang tadinya tengah menyendok puding itu seketika terhenti. Ia jelas tahu maksud dari ucapan sang Mommy.


''Tidak ada, Mom.'' sebisa mungkin Vanya (Ella) memperlihatkan senyum manisnya. Meski dalam hatinya ia tak nyaman dengan pertanyaan itu.


''Carilah kekasih, Sayang. Jangan seperti Kakakku itu. Bisa jadi Kakakmu itu bukan laki-laki normal.'' ucap Avril sambil melirik sekilas ke arah Leon. Leon yang tengah meminum minumannya, seketika tersedak mendengar ucapan sang Mommy.

__ADS_1


''MOM,''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2