
SPC - BAB 120
Setelah ketiga tamu itu pulang, Chris, Avril, Leon, dan juga Ella masih setia duduk di ruang tamu. Selama tamu itu berada di sana, tak ada obrolan antara Ella dan Edward. Ella terlihat seperti menghindar. Sedangkan Edward masih awkward untuk memulai mengobrol dengan Ella.
"Ell?" Panggil Avril.
"Ya, Mom?'' jawab Ella. Keempat orang tersebut saat ini tengah menonton serial drama televisi yang saat ini tengah ramai diperbincangkan di negara tersebut.
"Menurutmu, Edward itu bagaimana?" Tanya Avril penasaran.
''bagaimana apanya, Mom?" Tanya balik Ella. Meski ia tahu maksud dari ucapan sang Mommy, tapi ia enggan untuk menjawabnya.
"Apa dia tampan menurutmu?" Mendengar hal itu membuat Ella perlahan menganggukkan kepala. Memang Edward sosok laki-laki tampak dan berkharisma. Memiliki tubuh yang ideal dan paras yang tampan tentu menjadi idaman bagi para wanita.
Namun itu tidak berlaku bagi Ella. Entah mengapa ia tidak tertarik pada sosok Edward. Dalam hati ia masih membanding-bandingkan laki-laki itu dengan seseorang yang hingga kini masih merajai hati dan jiwanya.
"Mommy lihat, Edward itu anaknya baik dan juga ramah. Kamu tidak tertarik padanya, Ell? Sepertinya Edward itu suka sama kamu lho," ucap Avril mengompori Ella. Namun sekali lagi wanita itu nampak diam sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala perlahan.
"No, Mom. Ella masih belum ingin mencari pacar. Ella masih ingin belajar di perusahaan sama Daddy. Lagipula Mommy sok tahu. Bisa jadi laki-laki itu sudah memiliki kekasih," sahut Ella menolak secara halus. Avril tampak mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan dari putrinya.
Sedangkan Chris dan Leon sejenak saling pandang hingga akhirnya kedua laki-laki itu geleng-geleng kepala saat mendengar ucapan dari Ella.
"Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Sayang. Pikirkan juga masa depanmu. Pahadal dulu Mommy waktu nikah sama Daddy, umur Mommy dia puluh tahunan lho, Sayang. Bukankah tahun ini usiamu sudah tiga puluh satu kan? Sudah waktunya bagi mu untuk berumah tangga," semakin jauh saja ucapan Avril dari hari ke hari. Jika sebelumnya Avril hanya menyuruh Ella untuk mencari pacar, sekarang ia malah menyuruhnya untuk mencari seorang suami.
__ADS_1
Ella sampai menghela napas dibuatnya. Dalam hati ia juga menginginkan hidup bahagia bersama orang yang ia cintai. Tapi ia masih trauma untuk menjalin sebuah hubungan yang serius. Semua kenangan buruk yang ada di dalam pikirannya seolah-oleh selalu terngiang di kepalanya.
"Mom, please. Ella masih ingin sendiri. Daripada Mommy capek menyuruhku, lebih baik Mommy minta tuh Kak Leon nikah duluan. Dia kan sekarang sudah tua," ucap Ella dengan lirikan sinis kepada Leon. Leon sampai tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan Ella yang kini malah memojokkannya.
Uhuk
'Kenapa Ella malah membawa-bawa namaku? Aish,' gerutu Leon dalam hati. Ia tak menyangka jika sang adik kini malah mengarah padanya.
Avril yang mendengar ucapan Ella seketika beralih pada Leon. Ia lupa jika Leon juga belum memiliki seorang kekasih. Bahkan semenjak ia bangun dari tidurnya, tak pernah sekalipun Leon memperkenalkan seorang wanita padanya.
"Mana janjimu, Leon. Bukankah tahun lalu kamu bilang kalau tahun ini kamu bakal mengenalkan seorang wanita pada Mommy? Sekarang sudah bulan Oktober. Sebentar lagi sudah berada di penghujung tahun." Tanya Avril pada Leon. Leon terkesiap mendengar ucapan sang Mommy. Bahkan ia sendiri sampai lupa dengan janji yang pernah ia buat dengan mommy-nya.
"Kan sekarang masih Oktober, Mom. Masih ada dua bulan sebelum tahun ini habis. Kita tidak tahu kan apa yang akan terjadi besok. Bisa jadi besok Leon ketemu sama wanita yang akan menjadi jodohku. Kan kita tidak tahu," begitu lancarnya Leon mengucapkan hal tersebut. Avril sampai geleng-geleng kepala melihat dan mendengar Leon yang nyatanya masih bisa menjawab semua pertanyaan nya. Avril dibuat pusing dengan kedua anaknya, Chris yang berada di sana hanya bisa menghela napas.
"Baiklah, Mommy dan Daddy masuk dulu ya, Sayang. Jangan malam-malam kalau tidur," ucap Avril kepada kedua anaknya. Ia beranjak dari sana dan berjalan bersama Chris menaiki tangga menuju kamarnya.
"Siap, Mom." Sahut Leon dan Ella bersamaan. Setelah kedua orang tuanya itu menghilang dari pandangan keduanya, baik Leon dan Ella akhirnya bisa bernapas lega.
"Akhirnya," ucap Leon sambil menghempaskan tubuhnya ke belakang. Ella tersenyum tipis lalu ikut bersandar sambil memangku sebuah toples kaca berisi kacang Mede kesukaannya.
Leon yang tadinya memejamkan mata akhirnya membukanya karena merasa terganggu dengan suara mulut Ella yang tengah mengunyah kacang-kacang itu.
"Makan mulu, dek. Kalau gendut baru tahu rasa," cibir Leon pada sang adik. Ella yang mendengarnya tersenyum sinis. Ia dengan sengaja mengunyah kacang itu dengan mulut yang terbuka sehingga membuat suara remahan itu semakin keras terdengar.
__ADS_1
"Bilang aja kalau mau minta. Huh, ambil aja sendiri di dapur," ucap Ella yang tahu dengan tipu muslihat sang Kakak. Ia sudah berulang kali dibohongi Leon dengan hal-hal seperti itu. Awalnya mengatainya lalu akhirnya ia yang memakannya.
'Sial, ketahuan nih. Kelihatannya enak, tapi malas ambil di dapur.' batin Leon sambil sesekali melirik ke arah Ella yang tengah asyik menikmati kacangnya sambil menonton televisi.
Leon tampak berpikir keras bagaimana ia bisa merebut toples itu dari tangan Ella. Beberapa saat kemudian kedua mata Leon berbinar saat ia merasa menemukan cara yang paling ampuh untuk bisa merebut toples itu. Tiba-tiba Leon menoleh ke belakang.
"Ada apa, Mom? Kok datang lagi," mendengar sang Mommy kembali datang, dengan cepat Ella menyembunyikan toples itu di samping tubuhnya agak kebelakang. Selama ini sang Mommy selalu mengomel jika memergoki putri kecilnya itu makan saat sudah larut malam. Entah itu hanya camilan, atau makan nasi, Avril selalu memarahinya. Avril beranggapan makan terlalu malam bisa membuat tubuh ramping Ella bisa melar.
"Mom?" Melihat Ella yang dengan cepat menaruh toples itu, dengan gerakan cepat pula Leon mengambilnya dan membawa lari toples itu dari sana. Sepersekian detik kemudian Ella baru menyadari jika ia lagi-lagi tertipu oleh sang kakak.
"KAK LEON," teriak Ella seraya beranjak dari tempat duduknya. Ia segera meraih ponselnya dan berlari mengejar sang kakak. Namun sayang, Leon dengan cepat berlari dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak lupa juga ia mengunci pintunya.
Dok
Dok
Dok
Dengan kepalan tangan, Ella menggedor-gedor pintu kamar milik sang Kakak yang berada tepat di samping kamarnya. Berulang kali menggedor namun tak ada sahutan dari dalam sana.
"AWAS SAJA KAMU, KAK. TUNGGU PEMBALASANKU," teriak Ella dengan napasnya memburu. Lalu dengan wajah yang menahan amarah, Ella pergi dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1