Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 54 Arga si Pengganggu


__ADS_3

''Apa yang kamu pikirkan, honey ?'' tanya Arga sambil mencium tengkuk Vanya.


Vanya yang tadinya melamun langsung tersentak akibat ulah Arga itu.


''Tidak apa-apa. Hanya kepikiran tentang hubunganku dan Marcell,'' jawab Vanya jujur. Ia tak menutupi apa-apa dari Arga. Karena memang menurutnya Arga harus tahu tentang hubungannya dengan Marcell.


''Jangan terlalu dipikirkan, baby. Yang jelas aku akan selalu ada untuk mu kapanpun kamu mau, hm.'' Ucap Arga sambil mengeratkan pelukannya.


'Aku hanya takut jika nantinya akan berdampak buruk bagi kita semua, Arga. Aku tak bisa membayangkannya,' batin Vanya. Ia masih ragu dengan ucapan dan perlakuan Arga padanya. Apalagi mengingat Arga merupakan seorang Cassanova yang pastinya dalam hidupnya dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang selalu menggodanya.


Kedua insan itu kemudian saling diam dan memejamkan mata. Berusaha mengikuti alur yang terjadi di dalam hidup mereka, mempercayakan semuanya kepada takdir yang Tuhan berikan.


Sinar mentari pagi menyeruak masuk kedalam kamar milik Vanya melalui celah-celah kecil di balik korden jendelanya. Cahaya yang semakin terang itu membuat kedua mata Vanya perlahan-lahan bergerak. Tak lama kemudian kelopak matanya membuka, berusaha menyesuaikan pandangannya dengan sekitarnya.


Berulang kali Vanya berusaha membuka matanya, hingga membuat dirinya menggeser tubuhnya hingga terduduk dan bersandar di tepian ranjang miliknya. Namun belum sempat ia jauh menggeser tubuhnya, sebuah lengan kekar menahan tubuhnya. Seketika membuat gerak Vanya terhenti di tempat.


''Mau pergi kemana, baby? Tidurlah lagi,'' suara berat Arga terdengar menggoda ditelinga Vanya. Sekuat tenaga Vanya menahan has..ratnya akibat ucapan laki-laki itu.


''Kita harus bangun cepat, Arga. Dan aku harus segera mandi lalu pergi ke tempat makeup,'' ucap Vanya memberi pengertian untuk Arga. Mengingat hari ini adalah hari pernikahan sahabat mereka.


''Ck, aku masih ingin memelukmu,'' ucap Arga sambil menarik tubuh Vanya hingga membuat tubuh mereka menempel satu sama lain. Apalagi posisi tubuh Vanya yang membelakangi Arga, membuatnya bisa merasakan sesuatu yang keras yang kian terasa di belakang tubuhnya.


'Oh, my God. Aku harus pergi sebelum sesuatu hal terjadi diantara kami,' ucap Vanya dalam hati.


''Oh come on, Arga. sekarang sudah jam enam pagi. Aku harus segera mandi, oke? Jadi lepaskan aku,'' pinta Vanya sambil mengelus punggung tangan Arga yang ada di perutnya. Tak lama kemudian terdengar helaan napas dari Arga lalu perlahan ia mengendurkan pelukannya.


''Pergilah,'' ucap Arga lalu ia kembali tidur dengan menelungkup kan tubuhnya. Vanya hanya bisa geleng-geleng kepala lalu ia segera bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi tanpa mengenakan atasan dengan santainya.

__ADS_1


Setelah sekitar tiga puluh menit Vanya berada di kamar mandi, kini akhirnya ia keluar dengan menggunakan bathrobe lainnya yang tersedia di dalam buffet yang ada di dalam kamar mandi. Pandangan matanya tertuju pada Arga yang masih setia dengan tidurnya.


Tak mau mengganggu tidur Arga, Vanya berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya. Ia melihat ponselnya kehabisan baterai, lalu ia mengambil charger yang selalu tersedia di dalam tas miliknya.


Sambil menunggu ponselnya mengisi, ia duduk di pinggiran ranjang sambil mengotak-atik ponselnya.


Vanya melihat beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab di ponselnya. Ia membuka pesan-pesan tersebut dan mulai membalasnya satu persatu. Disaat ia sedang sibuk dengan ponselnya, tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Arga. Vanya sudah tak terkejut lagi, ia sudah mulai berusaha membiasakan diri dengan serangan-serangan tak terduga dari Arga yang kini menjadi selingkuhannya.


Selingkuh dibalas selingkuh? Hanya orang gila yang melakukannya. Dan Vanya-lah orang gila itu yang saat ini melakukannya.


''Sudah bangun? Cepatlah bersiap, Arga. Aku akan pergi ke ruang make up Annisa.'' ucap Vanya. Arga hanya diam sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Vanya yang menyeruak masuk ke dalam Indra penciumannya.


''Aku suka harummu, baby.'' ucap Arga dengan suara seraknya khas orang yang baru bangun tidur.


*cup


Beberapa kali Arga mengecup basah tengkuk dan bahu Vanya yang terekspos sempurna di mata Arga. Tentu membuat Vanya risih akibat perbuatan Arga padanya.


''Stop it, Arga. We have to go,'' ucap Vanya berusaha melepaskan diri dari pelukan Arga. Namun bukannya terlepas, malah Arga mengeratkan pelukan itu hingga membuat Vanya memutar bola matanya.


'Aku tak menyangka ternyata dibalik sikapnya yang playboy, terdapat sifat manja yang membuatnya terlihat menggemaskan,' batin Vanya yang baru mengetahui sisi lain dari Arga yang menurutnya sangat menggemaskan.


*tring


tring*


Ponsel milik Vanya berdering memperlihatkan nama Renata yang saat ini berusaha menghubunginya.

__ADS_1


''Lepaskan, Arga. Aku harus mengangkat telepon dari Renata,'' ucap Vanya kepada Arga yang masih memeluknya dengan erat.


''Jawablah, aku akan mendengarkan saja.'' ucap Arga dengan santainya.


Ck,


Vanya hanya bisa berdecih, lalu ia mengangkat panggilan itu.


''Halo, Ren. Ada apa?'' tanya Vanya langsung.


''Loe dimana sekarang? Cepetan ke ruang make up yang ada di lantai bawah. Kita udah kumpul disini.'' sahut Renata. Vanya bisa mendengar suara-suara wanita yang berada di sekitar Renata.


''Masih dikamar. Memangnya Annisa sudah sampai kesini?'' tanya Vanya. Arga yang menyimak pembicaraan keduanya tampak jenuh lalu ia mulai melancarkan aksinya. Ia mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Vanya hingga napas hangatnya menerpa kulit putihnya. Vanya yang merasakan terpaan napas itu seketika dibuat merinding hingga bulu-bulu halus yang ada ditubuhnya berdiri.


Bahkan Vanya sampai memejamkan matanya, menahan gejolak yang kini melanda dirinya.


''Sudah. Keluarga Daniel juga sudah sampai disini semuanya.'' ucap Renata. Namun tak ada balasan dari Vanya.


''Nya? Vanya?'' panggil Renata. Mendengar panggilan dari Renata , membuat Vanya tersadar. Lalu ia membalik tubuhnya dan menatap tajam ke arah Arga. Sedangkan Arga? Ia malah terlihat tersenyum penuh arti menanggapi pelototan Vanya.


''Udah dulu ya, Ren. Aku kesana sebentar lagi,'' setelah mengatakan itu Vanya langsung memutus panggilan itu secara sepihak. Kemudian ia langsung berdiri dan berkacak pinggang sambil menatap tajam Arga.


Arga yang gemas dengan sikap Vanya langsung menarik tangannya hingga membuat tubuh Vanya limbung dan terjatuh menimpa dirinya.


*Ah,


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...

__ADS_1


__ADS_2