
Siang ini Baruna mengunjungi lahan luas di ujung kota yang akan dia bangun menjadi rumah singgah bagi anak-anak yang tidak memiliki orang tua atau sanak keluarga yang mau mengasuh mereka.
Baruna tidak menyebut tempat itu panti asuhan, dirinya lebih senang menyebut tempat itu hanya rumah singgah karena dia berharap anak anak itu hanya singgah sementara untuk mendapat masa depan yang lebih baik nantinya.
Tanah luas yang akan dibangunnya itu akan menjadi tempat persinggahan bagi anak-anak tanpa memandang kewarganegaraan, agama, suku ataupun gender. Baruna juga mendirikan sebuah rumah ibadah untuk tiap-tiap agama kepercayaan orang-orang di negara itu.
Seorang pengacara terkenal di negeri itu tampak bersama Baruna.
"Semua surat sudah di urus. Juga kepemilikan tanah di kalimantan sudah diurus atas nama mu. Beberapa aset lainnya masih dalam proses. Juga uang dari rekening Papa mu sudah Om bereskan" Jelas Hilman Paris -pengacara ternama juga sahabat Papa Avisa.
"Terima kasih Om" Jawab Baruna sambil tersenyum.
"Kau banyak berubah Avisa. Om seperti melihat sisi mu yang berbeda. Padahal dulu kau hanya anak manja yang tidak berani melakukan apapun. Juga tidak pernah bergaul dengan siapapun" Jelas Hilman Paris yang memang terkejut melihat perubahan putri sahabatnya yang tentu dia kenal sejak kecil.
"Semua orang ada waktunya berubah Om" Jelas Baruna singkat. Meskipun Hilman merasa bahwa Avisa yang sekarang berbeda dengan yang dia kenali , tetap saja Hilman merasa itu jauh lebih baik karena apa yang dilakukan Avisa sekarang banyak membantu orang-orang yang kekurangan dan membutuhkan uluran tangannya.
"Tapi jujur Om senang. Kau berubah menjadi lebih baik. Itu hal yang bagus" Ucap Hilman Paris mendukung gadis di sampingnya itu.
Baruna hanya tersenyum menanggapi perkataan Hilman.
"Baiklah Om. Aku harus ketempat lain lagi. Salam buat Tante ya. Lain kali aku akan mengunjungi Tante" Ucap Baruna berpamitan .
"Ya sudah. Hati hati di jalan" Ucap Hilman.
Baruna melajukan mobilnya menuju sebuah toko yang menjual aroma wewangian dupa. Dirinya baru tersadar dupa khusus para Naga telah habis.
Baruna masuk kedalam toko itu dan disambut dengan hangat.
"Hai Avisa apa kabar. Lama tidak kemari ya" Sapa pemilik toko itu.
"Iya Cik. Baru balik dari Jerman juga" Jawab Baruna sambil tersenyum.
"Butuh apa? Dupa wangi lagi?" Tanya si pemilik toko.
"Iya. Seperti biasa ya Cik" Ucap Baruna.
"Okey lah. Sebentar ya" Si pemilik toko segera mengambilkan dupa yang biasa dibeli Baruna.
__ADS_1
Baruna melihat beberapa patung terhias di toko. Salah satu patung Naga menyita perhatian Baruna.
"Itu barang baru masuk dari negara Cina. Katanya batu alam asli yang ada ukiran Naganya. Jadi di buat sama mereka membentuk Naga beneran. Bagus tuh batunya" Jelas si pemilik toko saat menyadari Baruna tampak menyukai patung Naha itu.
"Cik sekalian bungkuskan patung Naga itu ya. Aku mau" Ucap Baruna tanpa menanyakan harga.
"Okey cintaku" Ucap si pemilik toko sambil tertawa.
"Ah ya sebenarnya Avisa agama apa sih? " Tanya si pemilik toko. Dia memang bingung karena yang dia lihat sosok Avisa berwajah blasteran bule. Tapi dirinya menyukai wewangian dupa juga patung patung dewa.
"Apapun agama kita yang penting kita selalu ingat punya Tuhan Cik" Jawab Baruna ambigu.
"Iya sih bener juga. Ya udah nih semua barang mu. Totalnya 3.125.000" Ucap si pemilik toko.
Baruna langsung mengeluarkan kartu ATMnya dan membayar barang yang dia beli itu.
"Makasih ya Cik. Aku duluan" Ucap Baruna berpamitan.
"Sama-sama. Sering belanja lagi yah" Ucap pemilik toko itu.
Baruna masuk kedalam mobil dan meletakkan barang belanjaannya pada jok belakang mobilnya.
Hal itu membuat Baruna tumbuh besar tanpa menganut agama apapun juga. Dia tidak paham karena orang tuanya juga tidak bisa menjelaskan apapun padanya.
Malam itu malam purnama penuh. Baruna tidak keluar kemana pun. Dia harus berada di apartemen nya. Berbahaya jika dia keluar dari tempat itu.
Snowy pun tampak berwujud manusia. Wajah Snowy menyiratkan kecemasan.
"Apa perlu aku menggunakan kekuatan ku menahannya?" Tanya Snowy yang cemas.
"Tidak masalah. Aku mulai terbiasa dengan hal ini" Ucap Baruna lalu menyalakan dupa wewangian di atas sebuah kuningan kecil. Aroma teratai menyeruak seisi ruangan apartement.
Baruna duduk bersila di tengah ruangan apartement yang sofanya sudah dia singkirkan menempel pada dinding apartemen agar lebih luas.
Perlahan sosok Avisa berubah kembali menjadi sosok Baruna. Tubuh Baruna mengeluarkan cahaya hijau keemasan.
Tepat saat bulan penuh menunjukkan dirinya dengan sinar yang terang. Para Naga keluar dari tubuh Baruna.
__ADS_1
Seketika Baruna merasa lemas. Ya tubuh manusia Baruna sangat lemah. Hanya keberadaan Naga lah yang menguatkan tubuh lemah itu. Seluruh Tatto di tubuhnya tampak menghilang, itu menandakan para Naga itu tidak ada dalam tubuh Baruna.
Baruna berusaha fokus dan tetap bersemedi seperti hal yang sering dilakukannya.
Tak lama 7 Naga itu satu persatu masuk kembali ketubuh Baruna.
Ada yang masuk melalu kaki, tangan, dada, punggung, dan kepala Baruna.
Setiap Naga merasukinya saat itu pula Baruna akan merasa kesakitan yang luar biasa. Tubuh lemahnya harus menampung kekuatan sebesar itu.
Baruna terhempas saat Naga terakhir yaitu Naga Qiulong masuk ke dada Baruna. Baruna memuntahkan sedikit darah segar. Melihat itu Snowy bergegas memberikan air hangat untuk Baruna.
"Pelan pelan minumnya" Ucap Snowy sambil mengusap punggung Baruna.
"Hah.. Hah... Hah.... " Baruna terengah-engah. Perlahan rasa sakit itu menghilang dan tubuhnya kembali kuat dan segar. Itu harga yang harus dibayar Baruna karena Tubuhnya sudah pernah dikotori. Sehingga setiap bulan purnama penuh dirinya akan mendapat hukuman rasa sakit itu.
Jika saja Baruna masih suci maka dia akan terlepas dari hukuman itu. Hanya para Naga masih berpihak padanya. Sehingga dia bisa tetap melakukan apa yang dia inginkan namun harus menjalankan hukuman rasa sakit itu setiap bulan purnama.
"Kau bisa berdiri?" Tanya Snowy khawatir. Bagaimana juga Baruna selalu baik pada Snowy hal itu membuat Snowy selalu was was saat Baruna kesakitan akibat hukumannya.
"Aku baik baik saja" Jawab Baruna sambil mengatur nafasnya.
"Jangan kemanapun hingga lewat tengah hari besok. Kekuatan mu masih belum kembali semua. Bahaya kalau kau diserang mahluk lain" Ucap Snowy yang memang sangat paham dengan kondisi Baruna.
"Terima kasih. Aku ingin tidur sebentar" Jawab Baruna lalu melangkah masuk kedalam kamarnya.
Ponsel Baruna tampak berbunyi. Terlihat panggilan masuk dari Ethan.
"Untuk apa dia menelepon ku malam malam begini" Ucap Baruna melihat ponselnya yang berdering itu.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
__ADS_1
-linalim-