
Frans tampak mencoba mendekati Baruna dengan menyodorkan sepiring sushi dari coveyer belt. Ethan mendorong pelan piring sushi yang hendak di berikan Frans pada Baruna.
"Dia hanya makan apa yang dia ambil dan aku ambil. Jangan memberikan apa pun padanya dengan tangan beracun mu Tuan Frans"
Ucap Ethan terdengar tegas dan serius. Mata Frans dan Ethan saling menatap tajam seolah ada sinar panas yang keluar dari mata masing-masing.
Tidak mau terjebak dan memusingkan kedua pria itu, Baruna memilih sendiri sushi yang tampak berjalan di conveyer belt itu dan melahapnya dengan cepat.
Melihat Baruna yang seperti itu membuat Ethan tersenyum. Dia tau jika Baruna memang tidak akan mau menerima makanan dari Frans. Namun untuk menjaga kesopanan pasti mau tidak mau dia akan menerima jika tidak segera Ethan cegah.
Mereka kembali makan dalam diam, Frans sesekali melirik sosok Avisa di sampingnya itu dengan mendamba. Seolah ada magnet yang sangat menarik dari sosok wanita cantik itu.
Ethan yang tau Frans terus menatap Baruna lantas mengajak Baruna segera pergi dari tempat itu dengan alasan pekerjaan.
Melihat wanita incarannya pergi begitu saja tentu membuat Frans geram pada Ethan. Dia sungguh tau jika Ethan berusaha menjauhkannya dari wanita cantik bernama Avisa itu.
Timbul rasa iri dan ingin melukai Ethan. Namun dia kembali ingat perkataan sepupunya jika Ethan memiliki penjaga. Dia di jaga oleh sosok tak kasat mata dan auranya sangat kuat. Semakin kuat di banding sebelumnya mereka pernah bertemu.
Jadi Frans di minta jangan bermain - main atau sengaja mencelakakan Ethan karena mereka tidak tau apa yang bisa terjadi jika sampai berani melukai Ethan. Apalagi jika Ethan tidak mengusik mereka.
"Sial! Gadis itu cantik sekali!"
Gumam Frans.
"Siapa sayang?"
__ADS_1
Tanya gadis muda yang bersama Frans itu. Dia memang kekasih baru Frans. Lebih tepatnya target Frans selanjutnya.
"Bukan apa - apa. Ayo di makan"
Ucap Frans sambil menyuapi sepotong telur gulung pada gadis muda itu dengan lembut.
Dia yakin akan mendapat kesempatan untuk mendekati wanita bernama Avisa itu suatu saat nanti.
.
.
Di dalam mobil Ethan wajahnya tampak kesal. Dia ingin makan siang dengan tenang bersama Baruna namun malah terganggu oleh kehadiran Frans.
Dia cukup heran Frans berani mendekati Baruna saat ada gadis lain bersamanya.
Umpat Ethan tanpa sadar. Hal itu membuat Baruna menatap heran pada Ethan. Sedetik kemudian Baruna ]aham maksud Ethan.
"Jika tidak gila maka Aku masih Baruna yang dulu. Yang lemah dan di sakiti terus"
Ucap Baruna menanggapi kekesalan Ethan.
Perkataan Baruna membuat Ethan sedikit tersentak. Dia hampir lupa saat ini sedang bersama gadis itu. Tak ada yang lebih membenci Frans selain Baruna.
Dan memang Frans segila itu. Manusia paling gila dan berbahaya yang pernah Ethan ketahui.
__ADS_1
"Kasihan gadis itu pasti korbannya juga"
Ucap Baruna mengomentari gadis muda yang di bawa oleh Frans tadi.
"Tentu saja. Mana mungkin dia mengeluarkan uang untuk makan seorang gadis jika tidak ada benefit nya. Dia memang seperti itu sejak dulu. Untuk kami para pebisnis sudah sangat hafal dengan perlakuan Frans pada gadis - gadisnya. Mereka akan di jadikan hadiah untuk keuntungan pribadinya"
Penjelasan Ethan membuat Baruna menatapnya dalam. Merasa ada yang menatap tentu Ethan menoleh menatap Baruna kembali seolah bertanya kenapa.
"Berarti Kau juga sering mendapat pelayanan dari gadisnya ya. Ah aku hampir lupa jika dulu aku juga korban mu. Kalian sama saja"
Ucap Baruna dengan santai. Namun perkataan Baruna membuat Ethan gelagapan seolah sedang mendapat kemarahan dari istrinya.
Padahal Baruna hanya mengatakan fakta dan tidak berniat menakuti atau memarahi Ethan. Tapi bagi Ethan itu sebuah kalimat mengerikan dan vonis mematikan untuknya.
"Ma-Maaf. Aku yang dulu memang sebejad itu"
Ucap Ethan gelagapan.
"Tidak masalah. Toh sekarang Kau membantu ku"
Jawab Baruna dengan santai.
Ethan hanya bisa menghela nafas. Ingin merasa lega atau tidak dia juga tidak paham lagi.
Karena Ethan benar - benar jatuh cinta pada Baruna. Dia tidak ingin menjadi sosok yang buruk bagi Baruna.
__ADS_1
.
.