
Baruna kembali ke Goa miliknya bersama Snowy.
Kitty di biarkannya berlari di dalam Goa setelah Snowy memberinya minum air segar.
"Aku akan mencari buah untukmu. Kau tidak menyentuh makanan di istana tadi"
Ucap Snowy yang memang sangat memperhatikan Baruna.
"Baiklah. Hati-hati"
Ucap Baruna.
Snowy mengangguk paham dan segera mencarikan buah - buah an segar di sekitar Goa untuk Baruna.
Baruna tampak bermain sebentar dengan Kitty lalu mengajak kucing itu mandi bersama.
"Ayo kita mandi. Kau sudah bagian dari ku. Maka Kau akan di lindungi"
Ucap Baruna yang membawa Kitty berendam bersama.
Biasanya kucing akan ketakutan dengan air namun berbeda dengan Kitty. Dia sangat anteng dan menurut.
Hal itu membuat Baruna semakin percaya perkataan Raja ubur-ubur jika Kitty kucing pembawa keberuntungan. Dia memang berbeda.
Beruntung Snowy menyelamatkan Kitty di waktu yang tepat. Sehingga kini hidup Kitty akan selalu aman bersama Baruna dan Snowy.
"Entah Kau yang beruntung bertemu kami atau kami yang beruntung menemukan mu Kitty"
Ucap Baruna pada Kitty yang tentu di balas dengan suara mengeong dari kucing itu.
Setelahnya Baruna membawa Kitty keluar dari kolam dan dengan sekali gerakan tangan keluar angin hangat yang langsung mengeringkan tubuh Kitty.
"Wah kau sangat bersih sekarang"
Ucap Baruna sambil mengelus lembut kepala Kitty.
Tak lama Snowy kembali sambil menenteng beberapa jenis buah untuk Baruna.
Mereka tampak makan bersama dan Kitty juga mau menikmati buah semangka yang ada. Malah terlihat kucing kecil itu sangat lahap menikmati buah semangka.
"Kucing aneh. Doyan semangka"
Ucap Snowy mengomentari Kitty.
"Biarkan saja"
Ucap Baruna yang juga tampak asyik dengan buah di tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
Tanya Snowy pada Baruna yang membuat Baruna menatapnya dalam sambil menghela nafas.
"Tetap fokus dengan membalas semua orang kejam itu sambil mencari tau di mana mutiara itu berada. Kita harus mengambilnya kembali sesuai perintah. Biarpun harus membantai banyak manusia dan makhluk yang terlibat dalam mengambil mutiara itu"
"Kau benar. Perintah mereka adalah vonis mutlak bukan?"
Ucap Snowy menatap Baruna yang mengangguk membenarkan perkataan Snowy.
"Ayo istirahat. Besok kita harus kembali ke dunia manusia. Masih banyak yang harus kita selesaikan di sana"
Ucap Baruna pada Snowy.
Snowy mengangguk dan mengajak kitty ikut bersamanya ke ruangan lain tempat Snowy beristirahat di Goa itu.
Baruna juga menuju ke ruangan tidurnya dan merebahkan diri di ranjang miliknya. Dia begitu cepat tertidur dan masuk ke dalam dunia mimpi.
Dalam mimpinya dia kembali bertemu dengan Pangeran Arvie. Dia tidak lagi menolak saat pangeran memanggilnya Kaimana setelah mendengar perkataan Raja Naga Qiulong.
Tapi masih banyak yang menjadi beban di pikiran Baruna. Apa sebenarnya hubungan Kaimana dengan Pangeran Arvie dan kenapa sang pangeran sangat bersedih bahkan meninggal setelah banyak melukis wajah Kaimana di setiap kertas dan sudut ruangan kamar khusus Pangeran Arvie.
"Sebenarnya takdir gila apa yang sedang terjadi antaraku dengan Ethan. Semua akan baik - baik saja bukan?"
Gumam Baruna dalam mimpinya.
Dia di bawa berjalan - jalan oleh Pangeran Arvie di dalam mimpi itu.
"Kaimana. Ke mana pun kau pergi, Aku akan ada di sana. Di dunia mana pun Kau berada, Aku akan ikuti. Aku akan selalu mencintaimu"
Ucapan Pangeran Arvie membuat Baruna terbangun setelahnya.
Pagi telah menyongsong. Baruna membersihkan diri di dalam kolam teratainya sambil bersemadi sebentar.
Setelahnya dia membangunkan Snowy dan mengajaknya kembali ke apartemen agar bisa memberikan Kitty makanan juga.
Snowy setuju dan meminta ijin untuk mandi terlebih dulu di mata air dekat Goa.
Setelah bersiap mereka kembali ke apartemen dalam sekali terbang.
__ADS_1
Tiba di apartemen hal pertama yang di lakukan Snowy adalah menyiapkan makanan untuk dia dan Baruna juga untuk Kitty tentunya.
"Setelah ini Kau mau ke mana?"
Tanya Baruna pada Snowy.
"Di rumah saja. Muak terlalu sering bertemu manusia itu. Kenapa?"
Tanya Snowy sambil menatap Baruna.
"Okey. Semalam Aku sudah memerintahkan makhluk di sana untuk tetap beraktivitas selama 5 hari ke depan agar tidak mencurigakan"
Jelas Baruna.
"Oh baiklah. Mungkin weekend nanti Aku akan memulai rencana ku"
Jelas Snowy pada Baruna.
"Kau mau melakukan apa?"
Tanya Baruna penasaran.
"Tenang saja. Akan sangat menarik dan dia akan menganggap sosok Hans yang dia kenal sudah mati nantinya. Aku akan membuat semua serapi mungkin sampai dia di anggap sudah banyak mengonsumsi obat-obatan sehingga otaknya rusak"
Jelas Snowy sambil tersenyum menyeringai. Dia sudah sangat tidak sabar mau menghukum Zaky.
Terlebih saat melihat sikap Zaky yang tega menendang kucing liar yang hanya kebetulan lewat di hadapan mereka.
Hal itu menambah kebencian Snowy pada Zaky tentunya.
"Dia akan sangat menyesal dan berujung gila. Akan Aku pastikan hidup dia menderita. Kau cukup duduk dan nikmati saja film yang ku buat untuknya"
Tambah Snowy.
Dia memang terlihat sangat membenci Zaky. Bagaimana jika Snowy bertemu Dea Sari yang tingkat menyebalkannya tentu jauh di atas Zaky itu. Apa Snowy akan langsung mematahkan leher perempuan toxic dan sombong itu saat berbicara? Baruna penasaran akan hal itu.
Baruna teringat dia juga belum memberitahu Snowy dia akan pergi ke desa Wanjiru weekend ini untuk melakukan kegiatan sosial seperti biasanya.
"Ah ya Aku juga harus ke desa Wanjiru weekend ini"
Baruna menatap Snowy. Anj1ng langit itu mengangguk paham. Memang Baruna akan menjalani kegiatannya sebagai Avisa seperti biasanya di luar tugas yang harus dia urus secara pribadi.
"Bagaimana dengan Kitty? Aku tidak bisa membawanya"
Tambah Baruna lagi.
Jelas Snowy dengan santai.
Baruna tidak lagi membahas hal itu. Dia yakin Snowy sudah dengan matang membuat rencana tanpa mengabaikan peliharaan mereka di dalam apartemen.
"Aku harus pergi sebentar. Banyak barang yang harus di sediakan untuk acara sosial kali ini"
Jelas Baruna pada Snowy.
"Oke. Hati - hati di jalan"
Ucap Snowy yang lalu membersihkan bekas makan mereka bertiga.
Sedangkan Baruna segera masuk kamar dan berganti pakaian lalu menyambar kunci mobil dan langsung keluar dari apartemen menuju lift.
Baruna segera menaiki mobilnya begitu tiba di basement parkiran. Dia memeriksa ponselnya dan tampak banyak panggilan masuk dari Ethan.
Baruna menekan tombol memanggil ke nomor Ethan dan langsung saja pria itu menyapa Baruna.
"Baruna. Kau baik - baik saja bukan?"
Suara Ethan di seberang sana terdengar sangat khawatir pada Baruna.
"Aku baik saja. jangan khawatir. Ada apa?"
"Tidak hanya mau bilang uang mu sudah setengah lebih aku berikan pada kedua orang tua mu. Sisanya aku berencana membelikan mereka lahan luas dan di bangun menjadi rumah juga kebun untuk mereka. Apa kau setuju?"
"Aku percayakan semua pada mu, Et. Lakukan apa yang menurut mu baik untuk mereka"
"Baiklah. Ah ya Sabtu nanti aku jemput ya. Kita satu mobil saja"
"Okey, oh ya Et. Aku-"
Baruna yang tadinya hendak menceritakan tentang Kaimana mendadak ragu dan mengurungkan niatnya. Dia merasa itu bukan waktu yang tepat membahas tentang Kaimana dan Pangeran Arvie.
"Ya kenapa Baruna? Una? Hallo? Una?"
Ethan terdengar cemas karena Baruna mendadak diam dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Tidak jadi. Nanti saja"
"Oh baiklah kalau begitu. Aku tutup teleponnya"
__ADS_1
"Ya"
Baruna memutus panggilan itu dan kembali fokus berkendara.
"Sudah lah, bukan saatnya membahas masalah Kaimana. Aku harus fokus untuk membalas orang - orang itu dulu"
Gumam Baruna yang sudah hampir tiba di salah satu toko grosir.
Dia segera turun dan membeli kekurangan barang yang dibutuhkan untuk kegiatan sosial Sabtu ini.
Sedang asyik berbincang dengan pemilik toko Grosir Baruna merasa ada yang menatapnya dari belakang. Reflek dia menoleh ke belakang.
Terlihat Rico di sana dengan beberapa orang yang entah siapa.
Rico menatap sosok Avisa dan tersenyum padanya. Rico tampak mendekati tempat Baruna berdiri.
Dengan kekuatannya Baruna menyembunyikan aroma nya sebisa mungkin dari cenayang satu itu.
Saat Rico semakin mendekat dia cukup bingung, aura Avisa tampak sangat minim dan aroma harum yang menarik perhatian hilang seketika.
"Hai Avisa"
"Hai Tuan"
Baruna membalas sapaan Rico dengan formal dan sesopan mungkin agar tidak mencurigakan.
"Kenapa panggil aku Tuan?"
"Karena Aku lupa nama Anda"
"Ah begitu. Nama ku Rico. Kau bisa panggil aku Ric seperti Frans dan yang lainnya"
"Baiklah"
Baruna tidak lupa nama Rico, dia hanya bersikap seolah memang lupa karena Rico tidak sempat mendekatinya selama ada Ethan.
Dan Rico juga tampak percaya dengan perkataan wanita yang dia incar itu. Dia merasa aura sosok Avisa bisa hilang timbul karena sesuatu. Itu membuatnya ingin mendapatkan Avisa juga agar bisa meneliti apa yang ada pada Avisa bisa membantunya menjadi semakin kuat atau tidak.
"Kau sedang apa di sini?"
Rico tampak tersenyum sambil melihat apa saja barang yang di beli Baruna di sana.
"Berbelanja sedikit keperluan"
Baruna menjawab dengan singkat. Lebih tepatnya dia malah tidak ingin berbincang dengan Rico. ingin sekali dia membunuh cenayang itu saat itu juga. Namun Baruna bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda.
Energi dari tubuh Rico terasa lebih kuat dari sebelumnya. Dan Baruna tidak mungkin berperang dengannya sekarang. Rencananya menjebak dan menghancurkan Frans akan berantakan dan pasti Frans akan bersembunyi dan mencari bantuan untuk menghindar dari Baruna.
"Oh begitu"
"Anda sendiri ada urusan apa di sini?"
"Ah. Hanya ada sesuatu. Tidak penting. Baiklah Aku pergi dulu. Teman - teman ku sudah menunggu"
Ucap Rico sambil menunjuk ke arah orang -orang yang bersamanya tadi.
"Okey"
"Semoga kita bisa bertemu lagi Nona Avisa. Kau sangat menarik"
Rico tidak segan - segan merayu sosok Avisa di tempat itu.
Baruna hanya membalas perkataannya dengan senyuman tipis.
Pemilik toko di sana sampai menggeleng heran melihat sikap Rico yang terang - terangan menggoda Baruna di sana.
Setelah Rico dan kelompoknya pergi, pemilik toko itu berbicara pada Baruna.
"Nona hati - hati dengan pria tadi ya"
Baruna menatap heran pada pemilik toko yang terlihat tidak suka dengan Rico.
"Kenapa?"
Tanya Baruna berpura - pura bodoh.
"Dia sangat berbahaya. Dia itu cenayang gila. Dia menuruni kemampuan Kakeknya sebagai cenayang. Tapi jauh berbeda dari Kakek dan leluhurnya yang merupakan cenayang putih"
Jelas pemilik toko itu pada Baruna.
"Cenayang putih?"
Baruna tampak heran dan berpikir
.
.
__ADS_1
.