Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Janji Ethan...


__ADS_3

Baruna kembali kedalam gua (baca: goa-red) terlihat Ethan dan Snowy sedang mengobrol sambil menikmati makanan.


"Loh. Cepat banget. Aku kirain bakal sampai pagi" Ucap Snowy meledek Baruna yang terlampau cepat dengan urusannya itu.


"Tidak ada jawaban yang pas. Tunggu beberapa waktu kalau sudah ketemu baru aku habisi" Ucap Baruna dengan santai duduk di antara Ethan dan Snowy.


"Habisi? Apaan?" Tanya Ethan tidak mengerti.


'Dia polos atau bodoh karena jatuh cinta sama kau?' Tanya Snowy melalui batin pada Baruna.


'Diam!' Balas Baruna.


"Bukan urusan mu!" Ucap Baruna tegas.


Baruna mengambil sepotong mangga yang manis dan melahapnya.


Tak sengaja Ethan melihat noda darah di tangan Baruna. Reflek Ethan meraih tangan Baruna dan membersihkannya.


"Apa?" Tanya Baruna heran.


"Ah enggak. Tadi aku lihat ada kotoran" Ucap Ethan sambil tersenyum.


Ethan mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan mahluk yang berbeda dengannya itu. Lagi pula tidak buruk menurutnya hidup didalam gua (baca :goa-red) yang nyaman itu. Bebas dari kebisingan dan hal lainnya.


Namun Ethan melupakan dirinya memiliki keluarga. Sang Mama sudah sangat kalut mencarinya karena tidak ada kabar.


Dirumah Ethan tampak Nyonya Christian memanggil lagi Cenayang Jill.


"Dimana anakku? Mobilnya ditemukan di jalan besar menuju pesisir oantai. Tapi sudah berhari-hari tidak ada yang bisa menemukanya" Tanya Nyonya Christian menahan tangisnya.


Tentu orang tua Ethan kalut atas kehilangan putranya yang mendadak. Bahkan sang putra tidak dapat dihubungi. Ponselnya tertinggal di dalam mobil dan orangnya tidak dapat ditemukan. Sudah hari ketiga bahkan tidak ada jejak dimana sang putra tersayangnya berada.


"Dia masih hidup Dia di selamatkan oleh gadis yang menyelamatkan Nyonya tempo hari" Ucap cenayang Jill saat mencoba melihat melalui mata batinnya.


"Kau yakin? Benarkah? Kenapa dia tidak kembali?" Tanya Nyonya Christian cemas.


"Dia akan kembali. Tenang lah Nyonya. Dia bersama mahluk yang tepat. Hanya gadis itu yang bisa melindungi putra Nyonya. Akan ada banyak kejadian lagi. Aku harap nyonya bersiap akan segala kemungkinan. Dan pesan saya kemarin tentang lukisan itu tolong segera dilaksanakan agar tidak ada lagi kejadian yang buruk menyerang keluarga nyonya. Hanya itu yang bisa melindungi keluarga nyonya" Ucap cenayang Jill.


"Baiklah. Akan aku urus segera. Siapa yang begitu tega mau mencelakakan keluarga kami? Padahal kami tidak pernah mencari musuh atau menyakiti siapapun" Ucap Nyonya Christian tidak habis pikir.


"Apapun bisa menjadi landasan orang membenci kita nyonya. Banyak hal yang bisa membuat orang membenci kita. Tapi sangat sulit membuat alasan agar kita bisa disukai" Jelas cenayang Jill.


Nyonya Christian hanya mampu percaya dengan perkataan cenayang Jill saat ini. Karena mau bagaimana pun dia mencari, mau sekuat apapun team di kerahkan. Tidak ada jawaban tentang keberadaan Ethan juga kondisinya. Nyonya Christian hanya berharap jika benar Ethan selamat. Dia akan berterima kasih dan melakukan apapun asal putranya baik baik saja.


.

__ADS_1


.


Hari kelima Ethan tinggal bersama Baruna dan Snowy. Tubuhnya tentu sangat membaik. Bahkan dia sudah mampu berolahraga sendiri di dalam gua (baca:goa-red).


"Sepertinya kau sudah sehat total. Sudah waktunya kau pergi dari sini" Ucap Baruna saat melihat Ethan sedang melakukan push up sendirian.


"Kau mengusirku?" Tanya Ethan risau. Dia takut jika pergi dari sana maka dia tidak akan bisa lagi bertemu dengan Baruna.


"Tempat mu bukan di alam ini. Kau manusia, bukan mahluk dari dunia lain" Ucap Baruna tegas.


"Lalu kau?" Ethan kembali bertanya pada Baruna.


"Aku bukan lagi manusia seutuhnya. Jangan terlalu jauh masuk kedalam dunia ku jika kau tidak ingin berakhir menjadi abu seperti mahluk kemarin itu" Ucap Baruna dingin.


Baruna meninggalkan Ethan sendirian di tempat itu. Terlalu lama bersama Ethan membuat sesuatu yang tidak dia pahami terasa sakit.


Jantung Baruna terasa tersayat sayat. Bukan lagi hatinya. Namun jantung baruna terasa sakit setiap terlalu lama berbicara dengan Ethan. Hal yang belum pernah dia alami sebelumnya.


Padahal saat pertama kali dia bertemu Ethan, Baruna tidak merasakan hal seperti ini. Kini semakin lama dia bertemu Ethan dirinya merasa sesuatu yang menyakitkan, entah apa itu bahkan Baruna sendiri tidak paham.


Baruna memilih berkeliling pantai dalam wujud yang lain. Menolong beberapa mahluk laut yang tersangkut akibat sampah yang dibuang manusia di laut.


"Kotor sekali manusia-manusia ini. Merusak laut saja!" Ucap Baruna kesal sambil memunguti beberapa sampah yang dia temukan.


Baruna mendengar suara suara ikan dan mahluk lain yang berterima kasih pada Baruna karena membersihkan laut untuk mereka.


"Sudah makan? Nih aku bawakan makanan untuk kita" Ucap Snowy yang memang menyempatkan diri membeli makanan manusia untuk Baruna dan Ethan.


"Kau sendiri? Sudah makan?" Tanya Ethan yang mulai akrab dengan Snowy. Hanya Snowy yang bisa dia ajak berolahraga dan berbincang santai karena Baruna selalu menghindarinya dan hanya berbicara seperlunya saja.


"Sudah sebelum kembali. Makanlah dulu. Manusia bisa mati kalau tidak makan dengan layak" Ucap Snowy meledek.


"Aku akan makan bersama Baruna. Dimana dia?" Tanya Ethan heran mencari cari Baruna di dalam gua (baca : goa-red) itu.


"Mungkin di luar melihat laut. Mau keluar? Jika sudah malam begini pantai timur sepi karena disini bukan objek wisata utama" Ucap Snowy menawarkan.


Selama berada disana Ethan belum pernah keluar dari gua(baca : goa-red). Baruna melarangnya keluar karena tempat itu paling aman untuk Ethan agar tidak diserang mahluk yang tidak di kenal.


"Boleh. Aku belum pernah menikmati laut malam" Ucap Ethan antusias.


Snowy membuka portal pintu gua (baca: goa-red) agar Ethan bisa keluar dari tempat itu. Keduanya berjalan dari ujung pantai. Terlihat Baruna berdiri menatap ke arah laut. Ombak terdengar tenang, angin juga tidak berhembus terlalu kencang tak berani menyentuh Baruna.


"Itu dia. Ah kalian bicara lah. Aku akan mencari kelapa muda. Haus!" Ucap Snowy meninggalkan Ethan lalu berlari kencang entah kemana.


Ethan berjalan perlahan mendekati Baruna takut menganggunya.

__ADS_1


"Ada apa kesini? Sudah ku katakan jangan sembarang keluar" Ucap Baruna yang tahu jika Ethan ada di sana.


"Maaf menganggu mu. Aku hanya ingin mengajak mu makan bersama" Ucap Ethan lembut.


"Aku belum lapar" Jawab Baruna singkat.


Keduanya terdiam bersama. Laut malam yang tampak indah di sinari cahaya bulan. Tentu sangat romantis jika dilihat oleh manusia biasa. Tapi jika dilihat oleh mata batin terlihat banyak sekali mahluk yang tak jelas wujudnya berada di sekitara sana. Hanya tak ada yang berani mendekat dan menganggu Baruna. Kecuali jika mereka ingin dihancurkan menjadi abu oleh Baruna.


"Besok kau harus kembali. Keluarga mu sudah mencari mu" Ucap Baruna. Dia mendengar beberapa orang di sekitaran pantai yang mencari pria muda yang meninggalkan mobilnya tak jauh dari pantai. Tentu sudah dapat ditebak bahwa yang mereka cari adalah Ethan.


"Mungkin mereka pembunuh lainnya" Ucap Ethan dengan santai.


"Tidak ada yang bisa melukai mu sesuka hatinya selama kau sudah ku tandai" Ucap Baruna.


Saat Ethan tertidur. Dia menandai Ethan mengunakan tetesan darahnya. Maka setiap Ethan didekati mahluk lain dan jika berbahaya maka akan ada yang melindungi Ethan.


Baruna tidak ingin melakukan itu. Tapi Ratu Merak mendesaknya dan berkata "Kau sudah bersumpah maka kau harus menepatinya".


Baruna tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Ratu Merak. Terlebih Naga Qiulong tampak tidak membantah perkataan Ratu Merak.


" Kau melindungi ku?" Tanya Ethan dengan mata berbinar. Tentu dia sangat senang jika Baruna melindunginya dari dekat.


"Terpaksa. Aku tidak bisa melawan perintah yang lebih kuat. Kau paham maksud ku? Jangan mengira aku melakukannya karena aku menyukaimu!" Ucap Baruna dengan tegas.


Baruna tidak ingin Ethan salah paham ataupun berharap yang tak mungkin. Selain Baruna tidak pernah menyukai Ethan, dia juga hanya sibuk dan fokus dengan urusan utamanya. Mereka juga sudah berbeda dunia. Hal yang salah jika Ethan berharap bisa dekat dengan Baruna.


"Apapun itu aku senang. Apa aku bisa mencari mu sewaktu-waktu?" Tanya Ethan berharap.


"Sudah ku katakan jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil. Kita berbeda alam. Ingat itu!" Tegas Baruna tak ingin di bantah.


Namun bukan Ethan jika dia tidak berusaha mengapai apa yang dia inginkan. Bahkan dengan kegigihannya kini dia bisa bertemu Baruna, meskipun harus berada di ambang kematian terlebih dahulu.


Ethan dengan nekad mencium bibir Baruna. Baruna terpaku sekian detik. Ombak tampak menderu kencang.


"Aku berjanji.. Ah tidak.. Aku bersumpah akan melindungi mu dengan nyawaku. Jangan menghindari ku dimana pun. Aku akan menjaga semua rahasia mu dan aku akan membantu mu untuk mencapai apa yang kau ingin kan" Ucap Ethan bersumpah.


Seberkas cahaya tampak keluar dari mata Ethan namun Ethan tidak menyadari bahkan tidak bisa merasakannya. Hanya Baruna yang bisa melihat itu. Baruna begitu terkejut, dia tidak mengerti apa yang terjadi.


"Kau...."


.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-


__ADS_2