
"Masih bagus dan bersih. Harusnya enggak perlu suruh orang beresin deh ya"
Ucap Ethan memperhatikan sekeliling ruangan bangunan kosong yang akan di jadikan kantor untuk rencana Baruna.
Ruangan yang terletak di salah satu Gedung perkantoran yang besar dan luas hang memang di sewakan dan di jual untuk para pengusaha yang butuh tempat workshop atau kantor.
Terlebih tempat itu menjaga privasi dan tidak banyak yang ikut campur urusan satu sama lain. Apalagi Ethan menyewa satu lantai gedung itu untuk digunakan Baruna.
"Okey selesai ini. Apa aku harus mencari penjaga khusus ya? " Ucap Ethan bimbang.
Tiga orang muda tampak keluar dari lift dan mendekati Ethan.
"Salam Pangeran" Ucap ketiga orang itu bebarengan menyapa Ethan.
Ethan terkejut melihat ketiga orang itu menunduk menghormat dan menyapanya sebagai Pangeran.
"Hah? Siapa kalian? " Ucap Ethan terkejut.
Ketiga orang itu menegakkan kepala mereka menatap Ethan dengan senyuman.
Terlihat cahaya berbentuk bunga teratai di dahi ketiga orang itu.
... "Kau akan bisa mengenali suruhan ku. Hanya kau yang bisa melihat tanda mereka"...
Tiba-tiba Ethan teringat perkataan Baruna tentang suruhannya yang akan beraktivitas di lantai gedung itu.
"Ah kalian suruhan Baruna? " Tanya Ethan memastikan.
"Benar Pangeran. Maaf membuat Pangeran terkejut" Ucap salah satu di antara ketiga orang itu dengan sopan dan hormat.
"Pangeran? Kenapa kalian memanggilku Pangeran?? " Tanya Ethan heran.
Ketiga makhluk berwujud manusia itu saling berpandangan satu sama lain. Mereka malah heran mendengar pertanyaan Ethan.
"Tentu kami harus memanggil Anda dengan Pangeran. Pangeran Arvie" Ucap salah satu diantara mereka dengan pandangan heran.
"Pangeran Arvie?? " Ucap Ethan terkejut.
Bagaimana tidak. Arvie adalah nama pria yang selalu di jngat Ethan karena mimpinya melihat wanita berwajah Baruna yang terbunuh oleh pria berwajah sama dengan Ethan di dalam mimpinya itu.
__ADS_1
"Iya Pangeran" Ucap ketiga makhluk itu berbarengan.
Ethan tampak berpikir keras. Entah apa maksudnya ini. Apa dia memang benar-benar pria yang ada di dalam mimpinya. Atau hanya kebetulan semata.
"Boleh aku tanya. Siapa itu Arvie? Apa aku Arvie? Atau wajah ku mirip dengan Pangeran Arvie yang kalian sebut? " Tanya Ethan merasa semakin penasaran.
Ketiga makhluk itu saling berpandangan sebelum berbicara.
"Maaf Pangeran. Kami hanya tau jika Anda harus di panggil Pangeran. Karena kami selalu di perlihatkan lukisan Pangeran dengan Putri Naga yang harus kami hormati. Maaf jika kami salah" Ucap salah satu diantara ketiga makhluk itu.
Ethan terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apapun karena pikirannya masih berusaha mencerna apa yang dia dengar.
"Baiklah. Kalau butuh apapun cari aku. Seharusnya Baruna memberi tahu kalian bisa mencari ku dimana. Aku tinggal dulu" Ucap Ethan lalu berlalu.
Ketiga makhluk itu memberi hormat mengantar kepergian Ethan.
Setelahnya entah apa yang dilakukan ketiga makhluk itu. Ethan sudah tidak mengetahui nya.
Ethan kembali berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
Ethan melanjutkan perjalanannya menuju kantor Papanya terlebih dahulu untuk membereskan pekerjaan di perusahaannya.
"Masih ada lagi? " Tanya Ethan pada asistennya.
"Iya. Aku akan ke showroom setelah itu mengunjungi suatu tempat sebelum pulang" Ucap Ethan.
"Baik Tuan. Saya yang akan mengurus semuanya" Ucap asisten itu tampak mengerti kesibukan Ethan untuk bisnisnya sendiri.
Ethan segera menuju showroom merangkap bengkel mobil miliknya itu. Memperhatikan satu persatu kegiatan karyawan nya.
Tentu kehadiran Ethan membuat para karyawan cukup syok. Ethan datang tanpa pemberitahuan. Selain itu bukan jadwal Ethan berkunjung di showroom hari itu. Entah angin apa yang membuat boss mereka muncul ke showroom hari itu.
Ethan yang melakukan sidak di showroom hanya diam tampak dingin dan datar. Tidak lama Ethan berada di showroom nya. Ethan bergegas menuju tempat lain.
Ethan menjenguk kedua orang tua Baruna. Sesuai dengan permintaan Baruna dan janjinya Ethan pada Baruna.
Ethan selalu menyempatkan diri menjenguk kedua orang tua Baruna setiap sore sepulang kerja atau saat siang jam makan.
Kebiasaan yang Ethan lakukan itu tentu membuatnya dan keluarga Baruna semakin dekat.
__ADS_1
Ethan bahkan sudah berkenalan dengan Kedua Kakak Baruna. Mereka bahkan menganggap Ethan seperti saudara sendiri. Robert dan Dikson sangat bersemangat memiliki saudara sebaik Ethan yang juga sangat baik dan menyayangi orang tua mereka seperti orang tuanya sendiri.
Ya memang sebaik itulah keluarga Baruna terhadap siapapun yang bersikap baik kepada mereka. Namun kebaikan itu juga yang selalu dimanfaatkan orang-orang yang hanya ingin mendapat keuntungan dalam berhubungan dengan keluarga Baruna.
Tiba di depan rumah kecil keluarga Baruna. Tampak Ibu Duma - Mama Baruna sedang bersiap menyimpan barang barang dagangan nya.
"Ma.. " Sapa Ethan kepada Ibu Duma.
"Ah. Nak Ethan sudah datang. Ayo masuk. Mama sudah masak untuk makan malam. Kita tunggu Robert dan Dickson sebentar ya" Ucap Ibu Duma yang tampak bahagia menyambut kehadiran Ethan.
Ibu Duma bahkan memeluk Ethan seperti memeluk anak kandung sendiri.
"Biar Ethan bantu bereskan. Mama istirahat saja" Ucap Ethan yang langsung membantu mengangkat barang barang jualan untuk di simpan di dalam gudang yang memang disediakan untuk menyimpan barang jualan.
"Baiklah" Ucap Ibu Duma sambil tersenyum lembut khas senyuman sayang seorang Ibu kepada anaknya.
Ethan segera membereskan barang-barang itu dengN sigap.
Tak lama Robert dan Dickson pun tiba dan menyapa Ethan serta memeluknya.
Rasa hangat keluarga itu begitu terasa. Ethan merasa seolah disambut keluarga sendiri. Bahkan keluarga Papa maupun Mamanya tidak pernah menyambut antar saudara dengan hangat seperti itu.
Keluarga besar Papa maupun Mama Ethan sibuk dengan bisnis mereka dan bahkan tega saling menjatuhkan hanya demi menaikan bisnis dan harta pribadi. Meskipun harus menjatuhkan keluarga sendiri tetap mereka tidak akan mundur.
Hal itu yang membuat Ethan merasa senang berada di sekitaran keluarga Baruna yang benar-benar hangat meskipun dalam kondisi sesulit apapun.
Sesuatu yang sangat jarang di temukan lagi. Bahkan keluarga Baruna tetap sangat baik dan membantu sesama meskipun dalam kondisi sulit. Tak sedikitoun Ethan mendengar keluhan dan umpatan dari orang tua Baruna maupun Kakak-Kakaknya kepada Tuhan Sang Pencipta.
Padahal banyak sekali masalah dan hal yang menimpa keluarga mereka. Tetap saja Mereka menerima dengan lapang dada dan menganggap itu hanya ujian yang harus mereka lalui. Serta terus berdoa agar Baruna tetap selamat dimana pun dia berada.
Ethan merasa sedih. Seandainya bisa, dirinya ingin sekali mempertemukan Baruna dengan keluarganya. Namun Baruna menolak, dia takut kelepasan dan menunjukkan jati dirinya yang bisa berakibat kemurkaan dari Raja Naga. Serta Ratu Pantai Selatan yang juga melarang Baruna menujukkan kemampuannya.
Jika ingin membalaskan dendamnya dan mengembalikan kehormatan keluarga nya. Baruna harus bertahan dan tidak boleh ketahuan.
"Ethan! Kenapa bengong. Ayo masuk, kita makan bareng" Ucap Robert yang melihat Ethan masih melamun di teras rumah mereka.
"Ayo Kak. " Ucap Ethan lalu masuk dan mengikuti Robert duduk bersama Pak Mustofa, Bu Duma, dan Dickson untuk makan malam bersama.
.
__ADS_1
.
.