Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Bertemu Orang Tua Baruna...


__ADS_3

Ethan menyerahkan sebuah amplop coklat besar yang cukup tebal kepada kedua orang tua Baruna.


Pak Mustofa dan Bu Duma saling berpandangan. Keduanya menerima amplop itu dan membukanya. Mata keduanya terkejut melihat isi di dalam amplop itu. Uang pecahan 100 ribu-an sejumlah 100 juta rupiah.


"I-ini maksudnya apa?" Tanya Pak Mustofa yang masih terkejut.


"Ini sebagian dari hasil kerjasama saya dan Baruna di usaha kami Bu. Seharusnya saya menyerahkannya lebih cepat. Namun karena satu dan lain hal saya baru bisa ke tanah air. Saya juga tidak bisa menghubungi Baruna" Ucap Ethan menjelaskan se rasional mungkin meskipun dia tengah berbohong.


Dia hanya tidak tega setelah mengetahui kondisi orang tua Baruna yang sudah di usir oleh adik Pak Mustofa yang mengatahan keluarga Pak Mustofa merupakan aib besar bagi keluarga besar mereka. Seluruh rumah bahkan uang Pak Mustofa di ambil paksa oleh adik kandungnya sendiri dengan dalih semua itu peninggalan orang tua, tidak ingin Pak Mustofa menghancurkan peninggalan almarhum ayah mereka nantinya.


Padahal seluruh uang milik Pak Mustofa adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Meskipun rumah itu memang milik sang ayah namun Pak Mustofa lah yang sebenarnya berhak atas rumah itu dalam kondisi apapun. Namun karena tidak ingin bertengkar serta tetangga mereka semua terus bergunjing dan mengata-ngatai keluarga nya, Pak Mustofa memilih mengalah dan pergi dari sana.


"Astaga... Baruna...." Bu Duma menangis sesenggukan, dia teringat sang putri yang entah kemana tanpa kabar hingga saat ini. Entah masih hidup atau mati, entah sehat atau sakit. Tak ada kabar beritanya.


"Maaf Pak, Bu. Ini ada apa?" Tanya Ethan berpura-pura tidak tahu.


"Maaf Nak Ethan. Baruna menghilang sudah setengah tahun. Kami tidak ada yang bisa menemukannya" Ucap Pak Mustofa dengan mata berkaca-kaca.


"Memangnya ada masalah apa Pak? Kenapa Baruna bisa hilang?" Tanya Ethan melanjytkan aktingnya dengan baik.


"Dia di tipu temannya. Seluruh uangnya juga uang investor habis tidak bersisa. Kami juga berusaha membantunya mengembalikan dana milik investor, tapi entah mengapa dia menghilang bahkan ada yang menyebarkan rumor dia seorang wanita malam dan merusak keluarga orang" Ucap Pak Mustofa yang tak kuasa lagi menahan air matanya.


"Baruna bukan gadis seperti itu Pak" Ucap Ethan dengan rasa tercekat di tenggorokannya.


Ya karena Ethan sendiri pernah menuduh Baruna wanita tidak benar yang menjajakan diri bagi pria hidung belang namun sangat sombong dan angkuh.

__ADS_1


"Kami juga percaya itu tidak benar. Kami yang merawatnya dari dia masih di kandungan. Tidak mungkin Baruna seperti itu. Dia anak yang bahkan berpakaian saja selalu sopan dan selalu berusaha tidak menunjukkannya lekuk tubuhnya pada lawan jenis. Jadi tidak mungkin dia sehina itu" Ucap Pak Mustofa yang paham sekali dengan karakter Baruna.


Ethan menghela nafas berat. Seandainya dia lebih cepat, atau seandainya dia tidak membiarkan Baruna pergi hari itu. Mungkin Baruna masih berkumpul dengan keluarganya. Mungkin Baruna tidak akan menjadi mahluk setengah manusia dan setengah mahluk dunia lain. Mungkin Baruna juga bisa berkumpul dengan keluarganya.


..."Baruna harus merelakan tidak bisa berkumpul dengan keluarganya dan akan hidup diantara dunia manusia dan dunia lain. Dia harus mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada penolongnya. Dan dia tidak bisa lagi reinkarnasi. Itu harga yang harus dia bayarkan demi mengembalikan kehormatan keluarganya dan menyelesaikan dendamnya"...


Ethan tiba-tiba teringat perkataan Snowy saat mereka sedang berbincang di gua (baca : goa-red). Baruna menyerahkan kehidupannya demi kedua orang tuanya. Hal terakhir yang bisa Baruna lakukan.


"Maaf Pak, Bu jika saya lancang. Sementara ini biar saya mewakili Baruna untuk berbakti pada Bapak dan Ibu. Jika ada hal penting boleh hubungi saya di nomor ini Dan sebulan sekali saya akan datang mengantarkan pembagian keuntungan milik Baruna" Ucap Ethan sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomor ponselnya. Dia tidak bisa memberikan kartu namanya.


"Ah terima kasih nak. Terima kasih. Kalau ada kabar dari Baruna maka akan kami kabari Nak Ethan juga" Ucap Pak Mustofa.


"Iya Pak. Tapi saya yakin Baruna baik baik saja. Mungkin ada satu dan lain hal yang membuatnya tidak bisa kembali" Ucap Ethan berusaha menghibur kedua orang tua Baruna.


"Kami juga berharap begitu. Tidak apa jika dia belum bisa kembali tapi kami berharap dia selalu sehat dimana pun dia berada" Ucap Bu Duma menyuarakan isi hati seorang Ibu yang sangat khawatir dengan putrinya.


Pak Mustofa berpikir jika orang lain pasti akan menghindari keluarganya yang sedang terkena masalah. Bahkan bisa saja tidak perlu memberikan bagian keuntungan putrinya. Sedangkan sosok anak muda yang dia kenali ini sangat baik dan jujur tidak ingin mengambil yang bukan hak nya.


"Saya tinggal di kontrakan di daerah kota. Tidak usah repot repot Pak. Kalau begitu saya permisi dulum Bulan depan saya akan datang lagi" Ucap Ethan pamit kepada kedua orang tua Baruna.


"Baiklah. Hati hari ya Nak Ethan. Jika ada waktu singgah lah. Biar kami bisa menjamu mu dengan benar" Ucap Pak Mustofa dibarengi anggukan kepala dari Bu Duma tanda setuju perkataan sang suami.


"Baik Pak. Saya permisi dulu" Ucap Ethan lalu masuk kembaki kedalam mobil.


Di dalam mobil dia melihat wajah kedua orang tua Baruna yang bersyukur mendapat rejeki yang tidak mereka sangka. Dan tatapan sedih atas kehilangan Baruna begitu terasa dimata Ethan.

__ADS_1


"Sesuai janjiku Baruna. Aku akan membantumu. Jangan khawatir lagi, aku yang akan menjaga orang tua mu untukmu" Ucap Ethan laku melajukan mobil menjauh dari rumah orang tua Baruna.


Ethan juga memerintahkan orang-orang nya untuk menyewa pengawal yang menyamar menjadi tetangga orang tua Baruna agar bisa menjaga mereka dari perlakuan buruk orang jahat.


Ethan kembali ke kantornya. Saat masuk kedalam kantor dia terkejut melihat Snowy dalam wujud manusia sedang duduk menunggu di sofa.


"Kau... Snowy...." Ucap Ethan memelankan suaranya.


"Hai Bro! Kau sibuk? Darimana saja dengan pakaian begitu. Seperti tidak kerja saja" Ucap Snowy mengomentari pakaian casual Ethan.


"Aku ada urusan sebentar tadi. Kenapa Snowy? Apa ada masalah dengan Baruna?" Tanya Ethan cemas.


"Hei hei sabar. Tenanglah. Kau ini bucin jadi bodoh! Aku hanya bosan. Baruna sedang sibuk dengan urusannnya. Ah dan di luar jika bertemu wujudku yang begini panggil aku Langit!" Ucap Snowy mengingatkan.


"Ah iya maaf. Aku kelepasan. Jadi ada apa?" Tanya Ethan.


"Ikut aku. Kau akan tahu nanti!" Ucap Snowy lalu menarik tangan Ethan mengikutinya.


Ethan meminta asistennya mewakilinya mengurus kantor, jika ada yang urgent tinggal menghubungi Ethan. Tidak ada yang berani bertanya ataupun protes kepada anak pemilik perusahaan itu.


.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-


__ADS_2