Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Sesuai Rencana...


__ADS_3

Snowy menuju ke arah pantai. Namun bukan pantai timur tempat Gua (Baca : Goa-red) milik Baruna berada.


Snowy menuju pantai yang cukup banyak pengunjung datang dan menikmati seafood di sana. Terlihat Baruna juga duduk di antara yang lainnya dengan wujud wanita asia yang cantik.


Baruna sengaja mengunakan wujud lain untuk melindungi nama Avisa. Dia tidak bisa menggunakan wujud biasanya untuk menemui Snowy.


"Sudah lama? " Tanya Snowy menyapa Baruna.


"Baru aja. Aku sudah pesan jus dan cemilan" Ucap Baruna.


"Cemilan? " Tanya Snowy heran.


"Biasa Udang dan kerang" Jawab Baruna singkat.


"Okay" Jawab Snowy dengan santainya.


Keduanya menatap jauh ke arah laut. Banyak terlihat kapal berlalu lalang. Dan banyak di antaranya kapal besar penangkap hasil laut, juga kapal barang.


"Bagaimana? " Tanya Baruna tanpa basa basi.


"Not Bad. Ikan yang datang sendiri ke jaring" Ucap Snowy sambil menikmati udang bakar yang di pesan Baruna.


Makanan yang di pesan Baruna sangat segar. Tempat itu memang sangat terkenal dengan hasil olahan laut yang segar.


"Jangan terlalu dekat dengannya. Biarkan dia yang mengejar mu terus" Ucap Baruna.


"I know. Jadi bagaimana semuanya? " Tanya Snowy memastikan persiapan permulaan untuk menjebak Zaky.


"Gampang. Kau melepas pengawas di dekatnya juga? " Tanya Baruna menatap Snowy.


"Tidak sempat tadi" Jawab Snowy jujur.


"Sepertinya dia juga pecandu" Ucap Baruna yang membuat Snowy cukup terkejut.


"Kau tau dari mana? " Tanya Snowy heran.


Semakin hari insting Baruna semakin tajam dan mengerikan.


"Aroma darahnya berbau. Dan matanya juga berbeda meskipun orang lain tidak akan menyadarinya" Ucap Baruna.


Snowy hanya mengangguk paham.


"Perlu aku suruh ada yang awasi dia? " Tanya Snowy lagi.


"Tidak perlu. Aku sudah melepas dua kelabang mengawasi nya dari dekat" Ucap Baruna yang memang selalu penuh persiapan.


"Setelah ini harus bagaimana? " Tanya Snowy memastikan.


"Seperti biasa saja. Besok ikut aku ke beberapa panti asuhan. Jadwal rutin. Sekaligus aku ingin membeli sesuatu" Ucap Baruna.

__ADS_1


"Untuk? " Tanya Snowy penasaran.


"Orang tua ku" Ucap Baruna sambil menghela nafas berat.


Berdasarkan informasi Ethan, Papa Baruna sudah di perbolehkan pulang dan di rawat dirumah. Hanya belum di ijinkan kembali mengendarai motor.


Baruna sudah memberitahi Ethan jika dia ingin membelikan sesuatu untuk keluarganya dan Ethan yang akan memberikan barang barang itu.


Selesai menghabiskan cemilan mereka. Keduanya kembali ke apartemen dengan mengendarai mobil masing-masing.


Tampak Baruna masih merasakan kesedihan mendalam saat memikirkan kedua orang tuanya.


"Akan aku hancurkan kalian. Manusia-manusia laknat. Jangan harap aku akan memaafkan kalian meskipun nyawaku taruhannya" Ucap Baruna penuh amarah.


Dendam berkobar di mata Baruna. Kemarahannya membuat ombak dan angin berderu kencang seolah badai besar akan terjadi.


Semakin hari kekuatan Baruna semakin mengerikan.


Cenayang Jill yang kebetulan melewati daerah pantai itu merasakan energi kuat Baruna.


"Sang Pewaris Dewi Laut sudah terlahir kembali. Kini dia bukan hanya penguasa laut. Dia juga menguasai tanah, angin bahkan semua elemen bumi dan langit" Ucap Cenayang Jill.


Salah seorang murid dari cenayang Jill merasa bingung dengan ucapan Cenayang Jill.


"Apa maksud guru? " Tanya anak laki-laki itu.


"Kau masih terlalu dini untuk mengerti. Yang penting ingatlah. Apa yang kau miliki saat ini dan apa yang kau pelajari, jangan pernah di gunakan untuk menyakiti ataupun menyesatkan orang. Paham? " Ucap Cenayang Jill tegas menasehati.


Cenayang Jill menatap ke sekeliling mencari sumber dimana sang pewaris. Namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya.


Hal yang di takutkan Cenayang Jill jika sang Pewaris mengamuk atau pun terluka. Kehancuran dunia akan terjadi.


"Semoga kali ini kedua orang itu bertemu dan bisa menjaga kedamaian. Jangan sampai terjadi lagi tragedi yang sama" Ucap Cenayang Jill yang seolah tau kisah masa lalu itu.


.


.


.


Siang itu sesuai jadwal. Setelah membeli senua keperluan yang ingin dia berikan kepada keluarganya, Baruna segera menuju ke panti asuhan. Bukan hanya satu, tapi 5 panti asuhan sekaligus. Dia pergi di temani Snowy yang berwujud anjing husky dan juga beberapa teman artisnya.


"Avisa. Ini sudah semua untuk jatah panti yang ini? " Tanya Deni Margo membantu Baruna dan yahg lainnya menurunkan barang bawaan.


"Iya itu saja Kak. Sisanya untuk dua panti lain" Jawab Baruna sambil tersenyum.


Tentu kehadiran mereka di sambut dengan baik oleh pihak panti asuhan. Semua anak-anak juga tampak senang.


Meskipun begitu tak satupun dari mereka yang memotret kegiatan itu. Kegiatan itu rutin di lakukan oleh kelompok mereka untuk bernagi kepada sesama.

__ADS_1


Terkadang mereka berbagi di jalanan untuk para pedagang asongan, tukang sapu ojek, penulung, yang tampak bekerja keras namun masih kelelahan.


"Bulan ini panti sudah. Tinggal yang untuk jalanan ya" Ucap Deni Margo.


"Oh ya yang di jalanan aku kayaknya enggak bisa ikut. Minggu depan aku harus ke thailand" Ucap Iyan Gunawan.


"It's Okay Yan. Kita bisa urus itu" Ucap Dedy Costa.


"Kali ini mau di jalan apa rutenya? " Tanya Rey Oktavianus penasaran.


"Any idea? " Tanya Rina Runissa.


"Avisa ada ide mau di jalan mana? " Tanya Oliv Margo bertanya pada Baruna.


"Dimana saja aku okey kok Kak. Kalau soal jalan sepertinya aku kurang tau karena baru tidak lama aku kembali ke negara ini" Jawab Baruna berpura-pura tidak mengenali jalan di kota tempat tinggalnya itu.


"Oh iya juga. Kita tanya Avisa juga percuma" Ucap Deni Margo.


"Sorry, kita lupa" Tambah Dedy Costa yang juga baru ingat sosok Avisa itu besar di luar negeri.


"Kau tidak ada jadwal ke luar negri kan? " Tanya Oliv Margo memastikan kepada Baruna.


"Tidak dalam waktu dekat Kak. Aku lagi harus memantau banyak hal di sini" Ucap Baruna sambil tersenyum.


"Oh ya. Aku lihat kau di posting di beberapa akun kalau kau dekat dengan salah satu pembisnis dan pewaris perusahaan besar di negara ini. Siapa namanya itu... " Ucap Deni Margo mencoba mengingat sebuah nama.


"Ethan.. Ethan Ezra Christian. Pewaris Tunggal CPratamaJaya" Ucap Dedy Costa melanjutkan.


"Nah iya itu lah itu" Ucap Deni Margo.


"Iya aku sedang ada kerja sama dengan dia. Kalau soal dekat aku tidak tau maksud dekat yang bagaimana. Tapi intinya kedekatan kami hanya sebatas bisnis" Jawab Baruna dengan sebaik mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Bagus lahm Kasihan Rey bisa patah hati" Timpal Iyan Gunawan.


"Eh apaan sih bawa-bawa nama ku? " Ucal Rey Oktavianus merasa malu jika ketahuan menyukai sosok Avisa.


"Udah. Sekarang bahas dulu barang apa aja yang akan kita jadikan bingkisan" Ucap Rina Runissa menengahi.


Mereka sejua kembali fokus membahas kegiatan pembagian bingkisan untuk orang-orang di jalanan itu.


Ponsel Baruna tampak bergetar tanda pesan masuk.


'Sudah aku sampaikan kepada keluarga mu. Mereka sangat senang menerima pemberian itu. Maaf aku mengatakan itu dari ku dan beberapa teman yang mengenali mu dengan baik' -pesan masuk Ethan-


Baruna tampak tersenyum tipis. Meskipun keluarganya tidak tau jika itu barang pemberiannya. Setidaknya mereka bahagia menerima semua pemberian itu karena Baruna tau sekali semua hal yang di butuhkan dan di inginkan orang tuanya serta kakak-kakaknya sejak lama.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2