
"Dia menuruni kemampuan Kakeknya yang cenayang putih. Tapi sifat dia tidak sebaik kakeknya"
Perkataan pemilik toko membuat Baruna mengernyit heran.
"Cenayang putih?"
Tanya Baruna penasaran.
"Iya. Kami dari daerah yang sama. Dia bukan orang asli sini. Saya juga. Kami anak daerah. Dan leluhur serta Kakeknya sudah di kenal sebagai orang yang sangat sakti dan baik. Mereka tidak mengerjakan sesuatu yang melanggar nurani dan kemanusiaan"
"Tapi entah lah anak itu mungkin terpengaruh dengan lingkungan dan menjadi sejahat itu. Hanya kata almarhum ibu ku, itu karena paman kakeknya yang mengajari hal tidak benar. Bisa di bilang keluarga mereka semua cenayang. Tapi paman kakeknya alias adik dari kakeknya itu mengambil aliran ajaran hitam dan suka melakukan guna - guna. Mungkin dia terpengaruh karena bayaran dari pekerjaan hitam lebih tinggi"
Penjelasan dari pemilik toko membuat Baruna paham kenapa pria muda seperti Rico bisa memiliki kemampuan cenayang seperti itu.
"Terima kasih. Aku akan berhati - hati"
Ucap Baruna pada pemilik toko itu sambil tersenyum ramah.
Setelah memastikan semua yang di beli sudah sesuai dan cukup. Mobil Baruna di ikuti mobil pick up pemilik toko menuju ke rumah Deni Margo dan Oliv Margo. Semua barang memang di taruh di sana agar mempermudah penyusunan paket.
Setelah tiba di lokasi rumah Deni dan Oliv, para karyawan toko membantu menurunkan barang - barang di bantu oleh karyawan Deni juga.
Baruna tampak memberi dua lembar uang 100.000 untuk karyawan toko. Mereka tampak tersenyum senang dan berterima kasih pada Baruna.
Baruna hanya membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman lembut. Dia memilih segera masuk ke dalam rumah Deni dan Oliv untuk membantu menyiapkan paket sembako bansos itu.
"Wah sudah selesai banyak ya?"
Tanya Baruna saat melihat banyak yang sudah selesai di bungkus rapi dan mulai di masukkan ke mobil pengangkut barang dengan rapi juga tertutup.
"Eh Avisa. Sini duduk"
Sambut Deni dan Oliv pada Baruna. Baruna di persilakan duduk dan di suguhkan minuman.
"Aku datang mau bantu. Biar cepat selesai yang di paketkan"
Jelas Baruna pada Deni dan Oliv.
"Sudah. Kau duduk saja. Ini sudah banyak yang kerja. Beres ini besok. Lusa bisa berangkat kita. Aman itu"
Ucap Deni dengan logat daerahnya yang masih agak kental.
"Kalau tambah satu orang lagi malah lebih cepat bukan?"
Ucap Baruna yang tidak bisa di cegah. Dengan lincah dia membantu karyawan di sana juga Oliv yang tampak sibuk menyusun barang agar rapi dan tidak terlalu berserakan karena satu rumah mereka hampir penuh barang.
Bahkan masih ada 3 mobil lain berisi barang yang belum di susun dalam bentuk paket. Mereka bergerak secepat mungkin. Deni juga tampak membantu mereka.
Hingga malam menjelang, Baruna di ajak makan bersama di rumah Deni dan Oliv sebelum pulang. Setelahnya Baruna kembali ke apartemennya.
Dia ingin sekali berendam. Ah jika ada di Goa dia bisa berendam sepuasnya saat ini.
__ADS_1
Ingin sekali dia menikmati ketenangan seperti ada di dalam Goa. Namun sayangnya ini adalah kota besar yang bahkan di malam harinya masih ada kehidupan di jalanan meskipun tidak seramai siang harinya.
.
.
.
Hari sabtu pun tiba.
Ethan pagi - pagi sudah tiba di apartemen Baruna. Sesuai janjinya akan menjemput Baruna untuk satu mobil berangkat bersama ke desa Wanjiru.
"Hati - hati di sana. Desa pedalaman masih banyak makhluk aneh. Jangan lepas ****** di hadapan manusia"
Snowy tampak khawatir membiarkan Baruna pergi sendiri ke desa itu. Harusnya dia ikut Baruna. Namun dia masih ada urusan terhadap Zaky.
"Tenang saja. Aku akan memantaunya"
Ucap Ethan menenangkan Snowy yang memang terlihat cemas. Dia cukup kagum dengan kedekatan Baruna dan Snowy yang benar - benar saling melindungi.
"Aku percayakan pada mu Kak Et. Jangan sampai dia kelepasan. Gadis ini paling benci melihat ada orang lemah yang tersakiti. Dia bisa menyerang tanpa berpikir dua kali"
Jelas Snowy lagi yang membuat Baruna memutar bola matanya lelah.
Pasalnya sejak semalam hingga pagi tadi Snowy mengingatkan hal yang sama pada Baruna.
"Aku tau. Kau tenanglah. Kami jalan dulu. Takut nanti teman - teman Baruna menunggu"
"Teman Avisa"
Potong Baruna yang membenarkan perkataan Ethan. Ya memang orang - orang itu mengenal Avisa bukan Baruna.
Ethan hanya tersenyum mendengar itu lalu mengajak Baruna segera berjalan menuju lift.
Mereka turun ke basement dan langsung menaiki mobil Ethan. Ethan sengaja memilih mobil yang lebih besar dan bisa di ajak untuk off road memikirkan kemungkinan medan jalan di pedesaan itu akan kurang bagus.
Tidak butuh waktu lama mereka tiba di rumah Deni dan Oliv. Banyak juga yang ikut kegiatan bansos mereka.
Kemudian mereka membagi mobil. Mobil Ethan tentu ada Baruna, Oliv dan Deni memilih ikut mobil Ethan.
Setelah memastikan semuanya sudah lengkap dan siap berangkat. Mereka memulai perjalanan yang akan memakan waktu lebih kurang 4 jam dari kota itu untuk bisa tiba ke desa itu. Itu jika tidak macet dan jalan yang di tempuh tidak rusak.
Karena jika macet dan jalanan tidak bagus maka tentu akan memperlambat laju kendaraan mereka.
Sepanjang perjalanan Ethan sesekali berbincang dengan Deni. Deni duduk di sebelah kemudi menemani Ethan.
"Sorry Bro, Aku belum lancar bawa mobil"
Jelas Deni yang memang masih kaku membawa mobil apalagi mobil off road sebesar yang di bawa Ethan ini.
"Tidak masalah Kak. Aku sudah biasa bawa mobil jauh kok"
__ADS_1
Jawab Ethan. Kedua pria itu tampak asyik membahas masalah mobil, motor sampai bisnis lainnya.
Sedangkan Oliv dan Baruna kembali memastikan catatan kegiatan bansos itu. Sesekali Ethan memperhatikan Baruna melalui spion tengah.
"Kalau lapar di belakang itu ada tas isinya camilan. Ada juga minuman. Ambil saja"
Ucap Ethan tiba - tiba yang membuat Baruna dan Oliv menatap Ethan bersamaan.
Tanpa di suruh kedua perempuan cantik itu mengambil tas yang di maksud dan benar saja. Banyak sekali camilan, roti kering, roti basah bahkan banyak minuman kalengan yang tersedia termasuk air mineral.
"Kamu mau camping??"
Tanya Oliv yang membuat mereka tertawa bersama di dalam mobil.
"Gak Kak Oliv. Aku takut kalian lapar selama perjalanan. Soalnya cukup jauh kan"
Jelas Ethan dengan sopan.
"Halah! Bilang aja Kau takut Avisa kelaparan! Bawa - bawa kami segala!"
Ucap Deni yang membuat mereka kembali tertawa.
Oliv tampak tidak segan membuka salah satu snack dan menyuapi suaminya.
"Avisa. Nih suapin Ethan tuh"
Ucap Oliv dengan sengaja menyuruh Baruna menyuapi roti untuk Ethan.
Baruna melotot horor sedangkan Ethan berdeham menyesuaikan ekpresinya.
"Ah tidak usah aku tidak lapar Kak"
Ucap Ethan menyembunyikan wajah malunya.
Oliv terus memaksa Baruna dan membuat Baruna menyuapi Ethan sepotong roti yang sudah di olesi ovomaltine itu.
"Buka mulut mu"
Ucap Baruna pada Ethan yang langsung di turuti pria itu.
Ethan menggigit roti itu dan mengunyahnya hingga habis.
"Makasih"
Ucap Ethan yang kemudian menerima sodoran air putih dari Baruna.
Mereka kembali berbincang santai dan menikmati perjalanan itu.
.
.
__ADS_1
.