
Dua hari berlalu sejak hari Rabu Legi. Ethan yang memang lebih sering menginap di apartemen Baruna semakin dekat dengan Snowy juga Baruna.
Ethan juga menyerahkan benda yang di berikan Rico padanya namun dia lupa menceritakan apa yang dia lihat dan dia rasakan saat berada di rumah Rico.
Baruna masih menunggu waktu yang tepat untuk memberi ganjaran yang lebih buruk bagi Frans. Baruna masih belum puas melihatnya begitu menderita di dalam sel tahanan.
"Sayang"
Ethan memeluk Baruna yang tampak merenung sendirian.
Mereka sedang berada di apartemen Baruna. Snowy sedang keluar ke shelter bersama Kitty.
Tinggallah kedua sejoli itu yang berbeda dunia itu. Keduanya tampak bersantai di weekend yang tenang.
"Maaf. Kau lapar? Mau aku buatkan makanan?" Tanya Baruna yang sadar jika waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
"Belum kok. Kenapa? Sepertinya ada yang membebani mu?" Tanya Ethan sambil merapikan anak rambut Baruna.
"Aku mau mengunjungi Frans" Ucap Baruna.
"Dengan wujud Avisa?" Tanya Ethan heran.
"Tidak. Dia harus melihat aku sebagai Baruna dalam wujud mengerikan agar dia mengharapkan kematian dalam hidupnya" Ucap Baruna dengan tatapan penuh amarah.
"Kapan kau mau ke sana?" Tanya Ethan.
"Hari ini. Malam ini Aku akan membuat kekacauan dalam bawah sadarnya. Aku akan membuat dia melihat siapa pun itu adalah Aku yang datang dan menuntut balas" Ucap Baruna.
Kebencian yang besar membuat Baruna sangat muak dengan Frans. Dia tidak mau melepaskannya sampai pria itu memilih untuk mati.
Ethan hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Baruna melakukan apa yang dia mau. Dendam besar itu tidak mungkin hilang begitu saja setelah apa yang Baruna alami selama ini.
"Duduklah. Aku akan memasak untuk kita" Ucap Baruna lalu berjalan ke arah dapur.
Ethan hanya bisa menatap punggung Baruna. Sedikitnya Ethan takut apabila Baruna tau jika di kehidupan lalu, Pangeran Arvie lah penyebab Kaimana meninggal.
__ADS_1
Dengan tangan dan pedangnya sendiri sang pangeran menghabisi nyawa kekasihnya itu. Walaupun kemudian Pangeran Arvie begitu menyesali perbuatannya hingga dia juga mati muda setelah melukis banyak kenangannya bersama Kaimana.
"Jika Kau tau hal yang terjadi di masa lalu, apa kau akan membenci ku juga?" Gumam Ervan sambil memperhatikan gerakan Baruna yang mulai memasakkan sesuatu.
Ethan mengusap kasar wajahnya. Dia tidak berani membayangkan kemarahan dan tatapan kebencian Baruna jika tau Kaimana meninggal di tangan Pangeran Arvie.
Ethan selalu berdoa agar Tuhan tidak membiarkan Baruna tau fakta itu, juga agar dia benar - benar bisa menjaga Baruna untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu.
.
.
Malam pun tiba. Ethan kembali ke rumahnya karena tidak ingin sang Mami tercinta terlalu khawatir dengannya. Sedangkan Baruna tetap pada tujuan awalnya yaitu membuat Frans gila.
Baruna mendatangi pos polisi dengan santainya. Dia tidak terlihat oleh siapa pun. Baruna melihat sel di mana Frans tertidur sendirian. Sel yang cukup rapi dan bersih untuknya karena dia belum masuk ke dalam rutan. Dia masih di tahan di sel khusus untuk sementara.
Frans yang sedang tidur tidak sadar jika Baruna ada di hadapannya. Rasa dingin mendadak begitu menusuk tulang Frans.
Suasana yang tadinya masih terdengar aktivitas beberapa polisi penjaga mendadak menjadi sepi dan tidak ada suara apa pun.
Frans terbangun. Dia mengerjapkan matanya memandang sekeliling sel yang sangat dingin hawanya. Tidak ada satu suara pun terdengar. Hal itu sangat aneh menurut Frans karena tidak mungkin tidak ada penjaga sama sekali.
Suara Baruna terdengar dari belakang Frans.
Frans sontak menoleh dan terkejut melihat sosok Baruna ada di dalam sel bersamanya. Hal yang sangat aneh bagi Frans karena tempat itu terkunci rapat. Tidak mungkin ada yang bisa masuk ke dalam ruangan itu.
"K-Kau... Baruna... Kau masih hidup?" Ucap Frans setengah tidak percaya.
Dia merasa bingung akan keberadaan Baruna yang tiba - tiba muncul namun di satu sisi dia senang karena dengan Baruna masih hidup pasti hukumannya bisa di ringankan.
"Baruna. Aku minta maaf. Maafkan Aku " Ucap Frans yang berusaha membujuk sosok Baruna di hadapannya.
Dia yakin Baruna masih mencintainya seperti dulu. Dia cukup bersikap lemah dan harus di kasihani. Dia yakin hati lembut perempuan seperti Baruna akan terketuk. Itulah yang selalu Frans lakukan saat mendekati seseorang yang berhati tulus untuk di manfaatkan demi kepentingan pribadinya.
"Menurutmu aku masih hidup?" Tanya Baruna sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Te-Tentu. Kau terlihat sehat dan semakin cantik" Ucap Frans yang berusaha meraih Baruna.
Namun Baruna tidak bisa di sentuh. Tubuh Baruna seperti asap menghilang dan muncul di sisi lain di dalam ruangan itu.
"Baruna-"
"Kau tidak pantas hidup lebih lama lagi"
Mata Baruna memerah.. Sosok nya berubah sangat mengerikan dan menjijikan.
Mulutnya menganga dengan lendir bercampur darah. Tubuhnya tampak remuk dan kepalanya penuh darah. Hal itu membuat Frans mual dan muntah.
Dia merasa ketakutan. Menurutnya Baruna sudah mati dan akan menuntut balas padanya. Apalagi sekarang Rico tidak lagi melindunginya. Pasti banyak makhluk aneh yang berani mendekati dan mengganggu Frans.
"Ma-Maaf. To-Tolong!!!" Teriak Frans saat tangan Baruna mencengkeram leher Frans. Pria itu menjerit ketakutan.
Hingga tak lama Frans terkejut saat seseorang menepuknya dengan keras. Salah satu polisi masuk ke dalam ruang tahanan Frans karena pria itu menjerit - jerit seperti kesetanan.
"Hah... Hah.. Hah.. Tolong Aku pak. Ada hantu yang mau membunuh ku. Dia mencekik ku" Ucap Frans yang begitu ketakutan.
Namun wajah pak polisi itu mengernyit heran dengan ucapan Frans. Tidak ada siapa pun di ruangan itu.
"Kau sudah gila. Mana ada hantu yang mencekik mu. Kau sejak tadi mencekik diri sendiri. Lihat saja tangan mu juga masih di leher mu itu" Ucap Polisi itu sambil menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah Frans.
Frans baru menyadari perkataan polisi itu benar adanya. Tangannya masih mencengkram lehernya sendiri.
Melihat Frans yang baik - baik saja lantas membuat polisi itu keluar dari ruangan itu dan mengunci rapat kembali sel tahanan Frans.
Frans masih tidak percaya. Dia merasa itu bukan mimpi dan nyata sekali. Tidak mungkin dia tidak bisa merasakan bedanya mimpi dengan nyata.
Frans tampak menggaruk - garuk tubuhnya termasuk bagian di antara kedua pahanya. Entah mengapa dia merasa gatal sekali.
Tanpa Frans ketahui jika Baruna mengirimkan makhluk aneh yang menjilati dan menggigit tubuh Frans. Mulai dari paha hingga ke seluruh pinggulnya.
Hari ini Baruna cukup puas. Dia akan melanjutkan lagi besoknya. Perlahan dia akan menyiksa Frans dengan rasa takut dan sakit di tubuhnya itu.
__ADS_1
.
.