Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Bullying...


__ADS_3

Baruna menuju salah satu sekolah menengah atas. Dia di undang mengikuti acara pentas seni disana karena merupakan salah satu donatur untuk siswa kurang mampu yang berprestasi.


Snowy tidak ikut hari ini. Snowy ingin berjalan jalan sendiri mencari dimana lagi anjing anjing dan kucing liar yang terbengkalai hidupnya. Selama ini Snowy menampung dan merawat mereka di sebuah lahan yang di bangun oleh Baruna.


Baruna tiba di sekolah itu, acara baru akan dimulai sejam lagi. Baruna memilih tiba lebih cepat untuk sekedar berjalan jalan dan mengenang masa dia SMA dulu. Meskipun tak ada yang menarik karena dia dulu sering di bully dan hanya segelintir orang yang mau berteman dengannya. Hanya Hudson, Merry, Ajeng juga Agam yang mau menemani Baruna.


Langkah Baruna terhenti di taman belakang sekolah itu. Baruna menyembunyikan diri di antara dinding, terlihat seorang anak gadis yang sedang dirudung oleh gadis-gadis lain.


"Heh miskin! Jangan sok kecantikan ya lo! lo pikir gw enggak tau kalau lo ngegodain cowok gw?!" Bentak seorang gadis yang tampak menor dan seperti dari keluarga kaya.


"Maaf. Gw beneran enggak tau Cin. Gw enggak deketin cowok lo. Dia yang tiba-tiba sering ajak ngobrol" Ucap gadis yang dirudung itu ketakutan.


"Halah! Sampah macam lo tu gak pantes sekolah disini! Dasar j@lang!!!" Ucap gadis menornitu lalu menampar pipi gadis yang dirudungnya.


Mereka juga menyiramkan air kotor diatas kepala gadis itu. Gadis itu hanya bisa diam menangis pasrah di perlakukan begitu Pakaiannya untuk pentas seni kini kotor dan berbau.


"Mampus lo! Makanya jangan kegenitan jadi cewek!" Ucap gadis menor itu lalu meninggalkan gadis yang telah dirudungnya.


Baruna seketika mengingat kejadian saat dia di rudung hanya karena dia di sukai banyak anak pria di sekolahnya namun dia cendrung diam dan cuek menanggapi anak-anak itu. Dia juga termasuk pintar dalam akademis dan non akademis meskipun Baruna di ketahui berasal dari keluarga sederhana, sedangkan banyak anak anak perempuan di sana yang tingkat ekonominya di atas Baruna.


Baruna melepaskan jaket yang dia pakai lalu menutupi wajah gadis itu.


"Ikut aku" Ucap Baruna tak ingin di bantah.


Baruna membawa gadis itu masuk kedalam mobil mewahnya.


"Kak. Apa ada alas untuk saya?" Tanya gadis itu dengan suara pelan.


"Untuk?" Tanya Baruna heran.


"Baju saya kotor. Takut merusak mobil kakak" Ucap gadis itu dengan sopan.


"No problem. Duduk lah. Jika kotor aku hanya tinggal mengganti mobil saja" Ucap Baruna sambil tersenyum.


Gadis itu terpukau dengan kebaikan Baruna dan sikapnya yang tidak mencemooh orang lain.


Keduanya tiba di salah satu butik kenalan Mamanya Avisa. Tentu pemilik butik dan karyawannya mengenali sosok Avisa dengan baik.


Baruna mengajak gadis itu masuk kedalam butik dan memilih pakaian yang cocok dipakainya untuk oentas seni.


"Tolong pilihkan pakaian terbaik untuk anak itu" Ucap Baruna sambil tersenyum kepada karyawan butik di sana.


"Baik Nona Avisa.. Ayo sini Dik, biar saya bantu pilihkan" Ucap karyawan butik itu dengan sopan.


Baruna duduk dengan santai sambil menunggu. Dia tidak peduli jika harus terlambat datang ke pentas seni sekolah itu. Bahkan otaknya sudah memikirkan apa pertunjukkan indah yang akan dia pertontonkan di hadapan orang-orang disana.


"Akan sangat menarik" Gumam Baruna.


Tak lama gadis itu selesai berganti pakaian. Baruna membayar pakaian seharga jutaan itu. Mata gadis itu membola terkejut melihat harga yang di bayarkan Baruna.


Keduanya kembali ke sekolah tepat waktu sebelum pentas seni dimulai.


"Pergilah. Jika tidak salah jangan mau disalahkan. Semua manusia itu derajatnya sama. Kau boleh melawan jika kau tidak bersalah. Paham?" Ucap Baruna menasehati.

__ADS_1


"Paham. Terima kasih Kak. Nanti sehabis acara, saya akan kembalikan baju ini" Ucap Gadis itu dengan sopan


"Tidak usah. Baju ini untuk mu. Kau pantas untuk menghargai hidup mu. Jangan sia siakan hidupnmu hanya karena kau di anggap miskin. Paham?" Ucap Baruna lagi menasehati.


Gadis itu mengangguk pelan tanda paham. Matanya berbinas melihat sosok Avisa yang cantik juga baik hati itu.


Baruna melangkah menuju aula acara. Tampak Kepala Yayasan, Kepala sekolah dan beberapa staff juga guru menyambutnya. Mereka mengenali sosok Avisa.


Baruna duduk di sofa barisan depan. Acara dinmulai dari nyanyian lalu di lanjutkan dengan drama musical sederhana tentang korban pembullyan dan nasehat serta penanggulangan agar pembullyan dapat di hentikan.


Hal yang menarik bagi Baruna adalah, yang berperan sebagai korban pembullyan malah si gadis menor yang membully gadis lain itu. Sedangkan yang menjadi tersangka pembullyan adalah si gadis yang tadinya di bully. Sungguh hal yang lucu dan menarik bagi Baruna.


Gadis-gadis yang membully tadi terkejut melihat korban bullyan mereka bisa berganti pakaian secepat itu bahkan tampak cantik. Membuat gadis itu semakin cantik di mata orang-orang.


Raut wajah tidak senang dari gadis menor itu tentu di perhatikan oleh Baruna. Drama musical berjalan lancar. Terlihat adegan dimana si korban di dorong dan di caci maki. Di tinggalkan dan di kurung di sebuah ruangan. Tapi bagi Baruna itu kurang menarik. Setelah Drama selesai semua pelakon drama musical menghormat secara khusus kepada para tamu undangan.


Kepala Yayasan tampak memuji para pelakon drama musical itu lalu bertanya pada Baruna.


"Bagaimana Nona Avisa. Murid-murid disini cerdas dan memiliki kemampuan yang baik bukan? Semua disini juga bebas dari aksi bully membully. Ah itu adalah salah satu gadis yang menerima beasiswa dari anda. Dia mungkin dari keluarga kurang mampu tapi nilai akademis dan non akademisnya sangat bagus. Kami bangga sekali karena dia sering mewakili sekolah untuk ikut kejuaraan olimpiade" Ucap Kepala Yayasan itu sambil menunjuk gadis yang sudah di tolong Baruna.


Gadis itu terkejut melihat sosok Avisa yang menjadi malaikat penyelamatnya tadi. Gadis itu tersenyum hendak menyapa. Namun Baruna nemberi kode padanya agar diam terlebih dahulu. Gadis itu tanpak menuruti Baruna.


"Dan itu yang cantik itu yang berperan sebagai korban bullyan merupakan anak dari salah satu donatur kita juga. Yah meskipun tentu Nona Avisa donatur terbesar kami di sini. Tapi gadis itu juga menjadi contoh yang baik. Dia selalu membantu teman temannya yang kurang mampu. Saya berharap di masa depan dia bisa sesukses dan sedermawan Nona Avisa. Ah ya itu orang tua nya" Ucap kepala Yayasan mengenalkan mereka.


Orang tua si gadis menor itu tampak senang putrinya di puji di hadapan semua orang terutama di elukan bisa menjadi seperti sosok Avisa yang merupakan putri konglomerat juga di kenal dermawan itu.


Baruna tersenyum dan tertawa pelan. Membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Dia tidak mungkin bisa menjadi aku. Kami sangat berbeda dalam segala konsep. Aku juga tidak pintar melakukan drama sepertinya" Ucap Baruna sambil tersenyum smrik.


"Tapi sayang sekali. Aku berharap ada adegan menyiram air kotor pada wajah si korban. Kenapa tidak ada ya? Bukan kah kebiasaan pembully itu menyiramkan sesuatu ke wajah korbannya? Karena cemburu jika si korban jauh lebih cantik dan pintar daripada dirinya?" Tanya Baruna yang membuat gadis yang dibully itu terkejut.


Baruna seolah ingin si gadis menor dinsiram juga oleh korban bullyannya.


"Ah aku ada menyiapkan air itu tadi. Sepertinya menarik bukan. Aku ingin tau bagaimana reaksi dan ekspresi dari korban. Mungkin bisa semua orang lihat bagaimana rasanya jika dia menjadi korban bullyan" Ucap Baruna lalu berdiri menuju pentas dengan sebotol air kotor yang entah kapan dia sediakan itu.


Tanpa ragu dia langsung menuangkan air itu di kepala gadis menor itu.


"Ahhhh!! Apa-apa ini. Lo ternyata gak sebaik yang di beritakan! Lihat aja akan gw sebar tindakan lo! Papa Mama. Tolongin Cindy!!" Ucap Gadis menor yang ternyata bernama Cindy itu sambil meminta pertolongan orang tuanya.


"Astaga. Nona Avisa! Apa yang anda lakukan pada anak saya??!! " Teriak Mama Cindy yang hendak turun dari kursi penonton menghampiri Baruna di atas panggung pentas.


"Silahkan duduk dan jangan coba coba ikut campur! " Ucap Baruna tegas tak terbantahkan.


Orang-orang yang tadinya bergunjing langsung terdiam mendengar suara tegas Baruna. Semua seolah tersihir dengan aura Baruna yang tegas dan tak terbantahkan itu.


Baruna menatap tajam pada gadis bernama Cindy itu lalu tersenyum smirk.


Tanpa berbicara apapun, Baruna mendekati meja staff yang bertugas memutar video di layar kiri kanan aula itu. Baruna menyambungkan ponselnya dan memutar video pembullyan yang di lakukan gadis bernama Cindy itu.


Semua orang terkejut. Cindy dikenal anak orang kaya yang baik dan ramah juga santun. Bahkan di mata semua guru juga dia anak yang baik.


Tak ada yang menyangka Cindy yang di anggap baik itu dan tidak mau berpacaran ternyata diam diam memiliki pacar bahkan tega membully teman sekolahnya hanya karena cemburu.

__ADS_1


Orang tua Cindy tampak sangat malu. Setiap perkataan kasar dan tindakan kasar Cindy terekam jelas. Cindy pun tidak bisa mengelak juga turut malu karena fakta tentangnya di umbar di depan umum.


"Mau tanya kenapa aku bisa tahu? Mau tanya kenapa aku menyiram kepala mu? Apa masih mau berusaha menjadi seperti aku?" Tanya Baruna pada Cindy dengan nada santai namun terasa mencekam bagi siapapun.


"Kau tidak akan bisa. Aku tidak pernah merudung siapapun. Aku bahkan memilih diam dan tidak banyak bicara jika itu bukan urusanku. Aku juga tidak sembarang berteman dengan siapapun. Ahh. Aku bahkan tidak paham kata j@lang yang kau sebutkan tadi. Sepertinya kau sangat paham kata itu karena kau juga j@lang bukan?"


"Prinsip ku selalu sama. Aku tidak akan menganggung jika aku tidak di ganggu. Dan ingatlah, mata dibayar mata. Apa yang kau lakukan akan berbalik padamu cepat atau lambat!" Ucap Baruna tegas menatap Cindy yang kini tubuhnya bergetar. Antara rasa marah-malu-takut bercampur menjadi satu bagi Cindy.


"Dan untuk kalian semua. Jika saat ini kalian bangga kalian memiliki segala sesuatu di banding orang lain, lebih baik kalian buang jauh jauh pemahaman itu karena tidak ada yang tau kapan roda itu diatas dan kapan itu di bawah. Apa yang kalian miliki akan dengan mudah di cabut oleh Tuhan. Baik itu Harta ataupun nyawa!" Ucap Baruna.


Semua orang terdiam dan merenung. Perkataan Baruna terasa menusuk di hati mereka semua. Banyak orang yang selalu memandang remeh orang lain secara tidak langsung.


Baruna menatap gadis yang sudah di tolongnya tadi dengan senyum yang ramah.


"Kau belajar yang baik. Ini kartu nama ku. Jika kau sudah lukus hubungi aku. Aku akan memberikan pekerjaan untuk mu dan kau bisa sambil kuliah" Ucap Baruna memberikan kartu nama Avisa Belenda kepada gadis itu.


"Terima kasih Kak. Ah maaf. Maksud saya Bu Avisa" Ucap gadis itu setelah menyadari Baruna merupakan donaturnya selama ini.


"Ingat! Jika tidak bisa menjadi orang baik. Jangan pernah menjadi orang yang jahat pada orang lain. Paham?" Ucap Baruna.


Gadis itu mengangguk. Dia tampak bahagia dan sangat berterima kasih. Tanpa sosok Avisa, dia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah dengan baik karena Ayahnya sudah meninggal dan Ibunya yang sakit sakitan.


Baruna meninggalkan ruangan aula itu tanpa berpamitan. Dia merasa jengah, selama ini semua yayasan dan staff sekolah sama saja. Tidak pernah benar-benar melihat apakah ada anak murid yang mengalami perudungan. Padahal kasus perudungan merupakan salah satu kejahatan berbahaya yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa.


Mobil Baruna melesat kembali ke apartementnya. Dia memilih pulang dan berendam air hangat.


.


.


"Anda siapa? Ada perlu apa mencari Baruna?" Tanya Bu Duma -Mama Baruna.


"Maaf. Saya teman Baruna. Saya sudah lama tidka bertemu Baruna. Kemarin saya mencari Baruna di rumah lamanya tapi katanya Baruna sudah pindah Bu" Ucap Ethan sesopan mungkin. Meskipun dia berbohong kalau dia teman Baruna setidaknya dia memang benar selama ini mencari keberadaan Baruna.


"Ah. Begitu. Ayo masuk. Kita bicara didalam saja" Ucap Pak Mustofa mempersilahkan Ethan masuk kedalam rumah kecil itu.


Ethan mengikuti keduanya masuk kedalam dan duduk di kursi kayu yang tersedia. Runah yang benar-benar sederhana. Lantai yang hanya di semen. Peralatan rumah yang sangat sederhana jauh dari kata mewah. Sangat berbeda dengan apa yang di miliki Ethan selama ini.


"Mau minum apa. Ah. Nak??? " Tanya Bu Duma yang belum mengetahui nama Ethan.


"Ethan. Nama saya Ethan Bu. Panggil saja Et. Dan tidak usah repot-repot. Saya hanya sebentar mau menyerahkan ini" Ucap Ethan menyerahkan sebuah amplop coklat besar yang cukup tebal.


Pak Mustofa dan Bu Duma saling berpandangan. Keduanya menerima amplop itu dan membukanya. Mata keduanya terkejut melihat isi di dalam amplop itu. Uang pecahan 100 ribu-an sejumlah 100 juta rupiah.


"I-ini maksudnya apa?" Tanya Pak Mustofa yang masih terkejut.


.


.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-linalim-


__ADS_2