
"Aku harus mencari tau apa yang terjadi antara Pangeran dan Kaimana" Gumam Ethan lalu mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk baginya.
Dan berhasil. Ethan menemukan pakaian Pangeran Arvie yang memiliki bercak darah. Entah darah siapa yang ada di pakaian Pangeran Arvie.
Ethan juga menemukan beberapa kertas yang tersusun rapi. Sepertinya itu adalah kisah kerajaan yang di tulis di jaman dulu sebagai warisan data silsilah dan penulisan apa yang terjadi selama di kerajaan.
Ethan membaca isi dari kertas - kertas kuno yang tampak di buku kan itu. Mirip seperti buku diary tapi yang menulisnya bukan si pelaku melainkan para abdi negara yang bertugas menceritakan dengan detail kejadian di kerajaan itu.
Satu persatu halaman di buka Ethan. Mulai dari kisah kenaikan Raja yang merupakan ayah kandung Pangeran Arvie hingga Pangeran Arvie yang memiliki kekasih dari keturunan Raja Naga juga jelas tertulis di sana.
"Semua tertulis dengan rapi di sini?" Gumam Ethan yang cukup takjub dengan sistem pencatatan yang di lakukan oleh kerajaan.
Setiap detail waktu jam dan nama orang - orang tertulis dengan detail dan jelas.. Rasanya benar - benar dia seperti terbawa ke dunia masa kerajaan dulu.
Sampai di bagian Ethan membaca jika Raja dan Ratu meninggal di tangan Kaimana termasuk Adik laki - laki Pangeran Arvie. Kening Ethan mengernyit. Dia tidak yakin dengan fakta itu. Tidak mungkin Kaimana membunuh orang tua dari Pangeran Arvie.
Ethan menolak percaya dengan tulisan di buku itu. Bahkan dia merasa tidak nyata apa yang tertulis itu.
Tanpa sengaja Ethan menyentuh darah yang ada di baju pangeran Arvie. Tiba - tiba saja pandangan Ethan gelap dan dia di bawa ke masa itu. Ethan melihat bagaimana Kaimana menusuk Adik Pangeran Arvie.
"Kau akan di hukum di neraka paling dalam. Kau berani sekali membunuh kedua orang tua mu dan bersekutu dengan dunia hitam"
__ADS_1
Ucap Kaimana saat mencabut pedang dari tubuh Adik Pangeran Arvie.
Hingga tiba - tiba penglihatannya terbawa ke tempat lain. Lembah Pelangi. Sekali lagi Ethan melihat wajah Pangeran Arvie yang tampak marah pada Kaimana.
"Kenapa Kau membunuh orang tua dan adikku? Kau mengejar Cakra Elang bukan? Cakra itu ada pada ku. Kenapa Kau tidak minta saja padaku atau membunuhku!" Bentak Pangeran Arvie penuh amarah.
Kaimana hanya diam tanpa mau menjawab apa pun. Emosi Pangeran Arvie begitu mengerikan. Pedang milik Kaimana yang tertancap di tanah antara Pangeran Arvie dan Kaimana berdiri tiba - tiba bergerak dan masuk dalam genggaman Pangeran Arvie.
"Darah harus di bayar dengan darah" Ucap Pangeran Arvie yang langsung menusuk Kaimana.
Kaimana hanya diam membiarkan dirinya di serang oleh Pangeran Arvie. Dia benar - benar mencintai Pangeran Arvie, dia rela di bunuh dengan pedangnya sendiri oleh tangan Pangeran Arvie. Tidak sedikit pun dia memukul balik Pangeran Arvie untuk menyelamatkan dirinya.
"Maaf Pangeran. Aku akan melindungi mu meskipun aku tidak ada lagi. Aku tidak akan biarkan iblis itu mendapatkan yang mereka mau" Ucap Kaimana lirih sebelum tubuhnya berubah menjadi serpihan dan terbang ke atas langit.
Tiba - tiba Ethan kembali tertarik ke kamar khusus Pangeran Arvie. Namun dia belum tersadar dari penglihatannya.
Dia melihat pangeran Arvie yang sedang melukis lukisan Kaimana.
"Maafkan Aku. Seharusnya aku percaya jika bukan kau yang membunuh mereka. Kau sudah menyelamatkan kerajaan ku. Kau juga sudah menyelamatkan ku dengan mengorbankan dirimu dan darahmu. Maafkan aku Kaimana. Maaf. Aku akan menyusulmu. Aku akan melindungi mu di kehidupan selanjutnya. Aku berjanji"
Ucap Pangeran Arvie sambil memeluk gulungan lukisan Kaimana.
__ADS_1
Dan kini Ethan benar - benar kembali ke dunia nyata. Dia terbangun dengan salah satu lukisan Kaimana di tangannya.
Padahal saat tertidur tadi dia tidak menyentuh benda itu. Ethan mengusap kasar wajahnya.
Benar - benar dia merasa sedih. Kini apa yang terjadi di lembah pelangi itu kini sudah dia lihat dengan jelas. Dia benar - benar merasa sedih. Takdir yang begitu menyakitkan dengan emosi pangeran Arvie yang begitu besar membuatnya tidak mau mendengar penjelasan Kaimana.
Melihat emosi pangeran Arvie membuat Kaimana sadar jika itu persis dengan sifatnya yang memiliki emosi mengerikan jika sudah marah.
Dan Ethan kini juga tau kenapa nama Lembah Pelangi berubah menjadi Lembah Pelangi Kematian. Tepat itu di namai Lembah Pelangi Kematian karena di tempat itu Kaimana sudah meninggal dunia.
Pangeran Arvie juga yang mencegah orang - orang mengganggu dan masuk ke Lembah itu meskipun Kaimana sudah tiada.
Pangeran Arvie juga sudah melakukan kesalahan besar karena mengabaikan kerajaannya yang kemudian hancur setelah Pangeran Arvie meninggal muda.
Ethan kini paham hidupnya yang tanpa saudara, dia yang selalu di tinggalkan gadis yang pernah dia sukai. Semua adalah karma yang harus dia terima.
Sepanjang malam Ethan terjaga dengan segala pikiran yang membuatnya bingung. Dia sangat takut jika Baruna tau tentang hal itu maka Baruna akan membencinya seumur hidup. Ethan tidak ingin berpisah dari Baruna.
.
.
__ADS_1