Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Memasuki Daerah Buruan...


__ADS_3

"Lakukan lah. Karena jika ingin dikatakan kejam maka lebih kejam manusia manusia itu. Kita hanya menghukum mereka sesuai aturan main kita" Ucap Snowy yang mendorong Baruna agar semakin kejam terhadap musuhnya.


"Persiapkan dirimu besok. Kita akan mulai berburu" Ucap Baruna sambil tersenyum smrik.


.


.


Pagi itu Baruna mengajak Snowy untuk berolahraga bersama. Mereka mengelilingi sekitaran apartement.


Beruntung pagi itu tidak ada manusia manusia pengganggu itu. Baruna bisa berolahraga dengan santai bersama Snowy.


Selepas olahraga mereka kembali ke apartement untuk menikmati sarapan pagi bersama juga untuk membahas rencana menjebak Ronaldi.


Baruna juga sudah meminta bantuan Hilman Paris -pengacara ternama sekaligus sahabat Papa Avisa untuk mencari tahu seluruh informasi tentang Ronaldi. Baruna beralasan bahwa salah satu bisnis Papa Avisa ada kaitan dengan Ronaldi namun dia merasa ada sesuatu yang ganjil. Baruna tidak ingin melanjutkan kerja sama jika ada hal melanggar hukum dan aturan yang dilakukan Ronaldi agar todak berimbas pada usaha peninggalan Papa Avisa.


Tentunya Hilman Paris percaya dan merasa tindakan Baruna tepat mengingat putri sahabatnya itu baru mulai meneruskan usaha Papanya, tehtu dia akan berhati-hati karena belum paham benar dunia bisnis.


"Aku akan mulai menyamar. Kau ingin aku memasuki rumahnya atau panti asuhan kenalannya?" Tanya Snowy sambil mengunyah roti bakar.


"Terserah. Lebih baik jika panti asuhannya bisa kau masuki. Cari tahu apa yang dia lakukan pada anak-anak di sana" Ucap Baruna.


"Terus kau akan melakukan apa? Kalau dia benar melakukan pelecehan pada anak di bawah umur pasti dia akan waspada dengan anak baru juga" Ucap Snowy heran.


"Dia tertarik pada sosok Avisa. Tentu aku akan memanfaatkan itu agar dia tidak waspada dengan masuknya anak baru di tempat itu" Ucap Baruna yang sudah tahu kalau Ronaldi berusaha mendekatinya. Bagaimana tidak, sosok Avisa yang cantik sangat mengundang penjahat bajingan seperti Ronaldi.


"Baiklah. Apa aku harus bergerak sekarang?" Tanya Snowy yang tampak siap sedia.


"Silahkan. Jangan memukuli orang. Jika ada apa-apa panggil aku. Aku yang akan mengurusinya" Ucap Baruna.


"Baik Nona Pewaris. Siap laksanakan!" Ucap Snowy yang langsung menghilang menuju lokasi teraman untuk berubah wujud menjadi anak laki-laki yang tampan.


.


Snowy berjalan sendirian dari satu tempat ke tempat lain dengan pakaian lusuh. Tentunitu mengundang perhatian.


Yang pastinya perhatian Ronaldi juga terusik melihat anak laki-laki yang tampan itu. Hanya saja tampak lusuh dan kotor seperti sudah berminggu-minggu tidak mandi.


Ronaldi yang kebetulan melewati jalan tempat Snowy duduk meringkuk langsung berhenti dan menyapa Snowy.


"Halo adik kecil. Ini om ada roti. Untuk kamu" Ucap Ronaldi menunjukkan senyuman khasnya yang ramah.


Snowy menatap wajah Ronaldi dengan tatapan penuh kesedihan.


Melihat wajah tampan anak laki-laki dihadapannya itu membuat Ronaldi ingin sekali menerkamnya.


"Ayo diambil. Jangan takut" Ucap Ronaldi. Tentu tindakan baiknya direkam orang-orang dan di sebarkan sebagai kekaguman pada orang baik seperti Ronaldi dan keluarganya.


"Makasih Om" Jawab Snowy dengan membuat suara lirih.


"Nama kamu siapa? Kenapa disini? Orang tua kamu dimana?" Tanya Ronaldi sambil mengelus rambut Snowy.


"Saya Made Om. Saya tidak punya orang tua. Saya di usir keluarga karena katanya saya memberatkan mereka" Ucap Snowy berpura-pura sedih dan menangis.


"Aduh anak manis jangan sedih. Ya sudah ayo ikut Om. Om akan berikan kamu tempat tinggal sementaram Berbahaya anak sekecil kamu tinggal di jalanan begini" Jelas Ronaldi lalu membawa Snowy masuk kedalam mobilnya.


'Hah. Dasar mesum! Benar kata Baruna, laki-laki ini pedofil. Celananya sampai mengembung begitu' Batin Snowy yang sempat melirik celana Ronaldi yang sudah mengembung bak balon ditiup.


Didalam mobil Ronaldi terus mengelus pundak Snowy. Meskipun risih Snowy tetap berpura-pura seperti anak polos yang tidak mengerti apa-apa.


Mereka tiba di sebuah panti asuhan yang ramai dengan anak-anak berusia 6 tahun sampai 12 tahun. Hanya beberapa anak yang terlihat berusia 12 tahun ke atas.


Ronaldi turun dari mobil membawa Snowy. Tampak anak anak disana takut melihat Ronaldi.


Snowy mengunakan kesempatan ini berpura-pura bertanya kepada Ronaldi tentang anak anak di sana.


"Om. Mereka siapa?" Tanya Snowy dengan polosnya.


"Ah mereka teman teman Made mulai saat ini. Jadi Made tidak akan kesepian lagi" Ucap Ronaldi sambil tersenyum.


"Baik Om" Jawab Snowy.


Ronaldi membawa Snowy menuju sebuah ruangan kantor. Terlihat dua orang pria duduk disana. Satu pria muda dan satu lagi tampak seusia Ronaldi. Pria yang seusia Ronaldi tampak mengenakan baju dinas seragam salah satu abdi negara.


"Hei Bro! Dari mana saja? Udah lama enggak kemari. Siapa tuh?" Tanya pria yang mengenakan baju dinas itu.

__ADS_1


"Ah ini anak kecil. Yatim piatu. Kasihan di jalanan bahaya" Ucap Ronaldi sambil tersenyum memandang Snowy.


"Oh. Ya sudah. Biar aku suruh Bima membantunya membersihkan badan dan membawanya ke kamar kosong" Ucap pria muda yang mungkin oengurus di sana.


Tak lama anak yang tampak berusia 17 tahunan masuk kedalam ruangan kantor itu.


Tampak anak itu menunduk takut takut.


"Bima. Bawa adik kecil ini untuk membersihkan tubuh. Sekalian bawa dia ke kamar yang masih ada tpat tidur kosong" Ucap pria muda itu dengan tersenyum ramah.


"Ba-Baik Pak" Ucap anak bernama Bima itu takut takut.


"Ingat ya. Jangan teledor" Ucap pria muda itu lagi dengan lembut namun Snowy bisa merasakan penekanan kata katanya sebagai ancaman bagi Bima.


"Baik Pak" Jawab Bima lalu mengajak Snowy keluar.


Snowy mengikuti anak bernama Bima itu melewati beberapa anak kecil disana yang tampak menatap kasihan pada Snowy.


'Benar ada yang tidak beres' Batin Snowy yang paham sorot mata takut dan iba dari anak-anak disana.


Didalam kamar mandi Bima tampak ingin memandikan Snowy. Reflek Snowy menolak untuk mandi sendiri.


"Yakin bisa?" Tanya Bima memastikan.


"Bisa Kak" Ucap Snowy.


"Kalau begitu kamu mandi dan tunggu disini jangan kemana-mana. Aku mau ambil baju ganti untukmu" Ucap Bima mengingatkan.


Snowy hanya mengangguk. Bima meninggalkan Snowy sendirian di kamar mandi. Dengan cepat Snowy menggunakan mata batinnya melesat masuk kembali kedalam ruang kantor itu.


"Barang bagus nih. Kau selalu pintar mencari barang bagus Ron!" Ucap pria berbaju dinas itu.


"Haha. Hal paling mudah bukan. Lagi pula orang-orang mengenaliku sebagai sosok yang baik dermawan dan sayang anak anak" Ucap Ronaldi sambil tertawa.


"Jadi boleh aku yang menggunakannya pertama kali? Belum pernah aku mendapat lubang yang masih virgin" Ucap pria muda itu.


Snowy merasa jengah mendengar percakapan pria-pria itu. Dia harus kembali kedalam tubuh perwujudannya di kamar mandi sebelum Bima kembali mencarinya.


Tok. Tok. Tok.


Pintu kamar mandi di ketuk tepat sesaat Snowy kembali ke raga penyamarannya.


"Sudah Kak. Tinggal pakai baju" Ucap Snowy. Tanpa mandi juga dia bisa mengubah tubuh penyamarannya menjadi bersih.


Bima membuka pintu kamar mandi perlahan dan menyerahkan baju ganti untuk Snowy yang tampak hanya membalut tubuhnya dengan handuk.


Bima tampak gusar. Sesekali dia melihat keluar kalau kalau ada yang lewat atau mengikuti dia dan Snowy.


"Ada apa kak?" Tanya Snowy berpura-pura heran.


"Sttt. Kecilkan suara mu. Sebentar" Bima bersuara dengan sangat pelan lalu mengunci pintu dan menyalakan keran air agar suara mereka terendam.


Snowy menatap heran pada tindakan Bima itu.


"Tenang aku tidak mau melakukan apa apa.. Kamu kenapa bisa bertemu Ronaldi? Apa kamu punya keluarga diluar sana yang bisa membawa mu segera pergi dari sini?" Tanya Bima dengan suara yang sangat pelan.


"Tidak ada Kak. Kenapa?" Tanya Snowy.


"Disini berbahaya untuk kamu. Kamu harus bisa pergi sebelum terjadi sesuatu. Kalau sampai sudah terjadi kamu tidak bisa kemana-mana lagi" Ucap Bima gusar.


"Memangnya kenapa kak?" Tanya Snowy lagi.


"Ah itu--"


Belum sempat Bima menyelesaikan perkataannya, pintu sudah diketuk dari luar.


"Bima! Apa kalian masih lama?" Suara pria berbaju dinas itu terdengar di luar.


Bima tampak agak panik buru-buru memakaikan baju Snowy.


"Sebentar Pak. Sedang pakai baju" Sahut Bima agak keras.


Bima lalu menatap Snowy lalu berbisik di telinganya.


"Jangan katakan apapun pada mereka. Nanti di kamar bekap muka mu dengan handuk panas. Lakukan apapun agar tubuhmu seperti demam. Aku akan bilang kamu demam dan tidak bisa diganggu" Ucap Bima berbisik.

__ADS_1


Snowy menganggukkan kepalanya tanda paham.


Setelah itu Bima membawa Snowy keluar dari kamar mandi.


"Kenapa lama?" Tanya pria berpakaian dinas itu.


"Maaf Pak. Tadi saya membersihkan seluruhnya. Pak Ronaldi tidak suka ada yang kotor kotor" Jawab Bima masih takut takut pada pria dihadapannya itu.


"Oh. Bagus. Kau semakin pintar. Ya sudah bawa dia ke kamar untuk istirahat dulu. Malam nanti aku akan menemui adik kecil ini untuk menanyakan tentang keluarganya yang masih bisa di hubungi" Ucap pria itu lalu meninggalkan Bima dan Snowy.


Bima tahu itu hanya alasan pria itu untuk bisa menggunakan anak kecil yang baru tiba di panti itu sebagai pemuas nafsu gilanya.


"Ingat perkataan ku tadi ya" Ucap Bima mengasihani Snowy. Dia yakin Snowy pasti akan menjadi pengganti anak bernama Yosua. Anak paling tampan sebelum Snowy datang.


Anak itu kini sedang sakit karena hampir setiap hari dirudapaksa oleh teman teman Ronaldi yang sama gilanya. Yosua bahkan tidak berani makan karena saat dia membuang air besar akan terasa sakit pada tubuh belakangnya.


"Semoga kamu bisa selamat dari sini" Gumam Bima khawatir pada Snowy.


Sesuai perkataan Bima. Snowy membuat tubuhnya panas seperti benar-benar demam tinggi. Tidak butuh handuk panas atau apapun , Snowy tinggal menggunakan kekuatannya.


Malam itu Bima melaporkan bahwa Snowy sakit demam.


"Apa? Made demam?" Tanya pria muda itu menelisik.


"I-iya Pak" Jawab Bima takut takut.


"Kau tidak bohong kan?" Tanya pria berbaju dinas itu. Dia masih ada disana menunggu malam untuk mencicipi anak laki-laki yang baru masuk di panti itu.


"Tidak Pak" Jawab Bima.


Pria muda dan pria berbaju dinas itu segera menuju kamar tempat Snowy berada dan mengecek kondisinya.


"Ah sial benar-benar memang demam tinggi. Kok bisa??" Tanya pria berbaju dinas itu.


"Kali aja udah lama enggak mandi dan makan jadi badan nya terkejut. Sudah kau tahan dulu. Akan aku suruh Bima memberinya obat agar cepat sembuh" Ucap pria muda itu lalu keluar dari kamar.


Sepeninggalan mereka, Bima masuk sesuai perintah pria muda itu agar merawat Snowy hingga sembuh.


"Kau benar-benar demam?" Tanya Bima berbisik pelan. Takut ada yang mendengarkan.


Snowy memastikan semua krang tidak ada disana menggunakan mata batinnya. Dia menutup demua celah agar tidak ada yang bisa mendengarkan nya berbicara dengan Bima.


"Tenang Bima. Aku tidak apa-apa" Ucap Snowy dengan santai.


"Hei kecilkan suara mu nanti ada yang dengar" Ucap Bima takut takut.


"Tidak akan bisa mereka mendengarkan pembicaraan kita tanpa seijinku. Dengarkan aku. Kau anak yang baik sudah mau menolongku. Sekarang ceritakan apa yang terjadi di panti ini. Semuanya" Ucap Snowy yang terdengar dewasa saat itu.


Bima terkejut, suara Snowy berubah menjadi suara pria dewasa.


"Ka-kau siapa? Apa kau hantu? Jin? Atau kau seperti film film barat itu yang menyamar jadi anak anak??" Tanya Bima takut takut. Bayangan film Orphan muncul di pikirannya.


"Aku bahkan lebih dari yang kau pikirkan. Jika kau ingin aku menolong mu dan yang lainnya dari cengkraman manusia laknat itu. Maka ceritakan semuanya!" Tegas Snowy.


Bima merasa sosok anak laki-laki kecil di hadapannya itu bersinar. Mungkin ini jawaban dari setiap doanya tiap sepertiga malam. Mungkin Tuhan mengirimkan malaikat untuk menolongnya dan anak-anak malang di sana.


"Ba-Baik. Aku akan ceritakan Aku juga tidak tahu harus bercerita dari mana. Tapi aku akan menceritakan pengalaman ku saat aku masuk ke sini hingga saat ini" Ucap Bima.


Tampak Bima meneteskan air matanya dan menghela nafas panjang.


"Panti asuhan ini bukan panti asuhan. Kami hanya anak anak yang dikumpulkan sebagai bahan pemuas pria pedofil itu. Tidak peduli anak laki-laki ataupun perempuan yang masuk disini. Kami akan dipaksa melayani hingga kami tidak berguna dan mati disini" Ucap Bima lirih. Dia mengingat bagaimana saat melihat beberapa anak yang sudah meninggal akibat tidak tahan di siksa secara fisik di tempat itu.


"Mati? Apa sudah ada yang mati disini?" Tanya Snowy terkejut.


Bima menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Snowy.


"Lanjutkan... " Ucap Snowy meminta Bima melanjutkan ceritanya tentang apapun yang Bima ketahui.


"Kami juga di berikan pil haram... "


.


.


.

__ADS_1


Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.


-Linalim-


__ADS_2