
Baruna kembali ke apartemennya dan merenungkan kejadian yang baru dia lihat. Manusia apa seputus asa itu hingga tega mengorbankan nyawa pasangan dan calon bakal anaknya sendiri.
"Benar-benar menjijikkan. Siapa manusia keji itu?" Gumam Baruna yang masih merasa kesal.
Baruna meniupkan siul hingga seekor burung pipit hinggap di jendela kamarnya.
"Lihat mataku. Cari orang yang menjadi suami wanita itu" Ucap Baruna yang memberi ingatan tentang si Wanita pada burung pipit.
Burung itu mengangguk paham dan segera terbang entah ke mana mencari suami bajingan yang tega menumbalkan istrinya sendiri.
"Akan aku habisi kau yang sudah tega membunuh darah daging mu sendiri. Manusia seperti mu tak pantas hidup dan membuat korban lainnya berjatuhan" Gumam Baruna penuh amarah.
Malam itu Baruna tidaklah tidur. Dia duduk bersemedi untuk memulihkan tenaganya.
Dalam semedi nya dia mendapat penglihatan yang semakin jelas.
Akibat darah dari wanita hamil yang mengenai tangan Baruna, dia bisa melihat kehidupan wanita itu.
Wanita yang awalnya hidup penuh kebahagiaan. Wanita bernama Sukiyem itu lahir di keluarga sederhana dan berkecukupan.
Suami dari wanita itu bernama Utomo. Seorang buruh pabrik tekstil di daerahnya.
Mereka menikah dan penuh kebahagiaan. Hingga suatu saat Utomo di phk secara paksa dari pabrik karena pabrik sedang mengalami kemunduran usaha.
Kala itu Utomo merasa sangat frustasi dan sangat merasa rendah.
Banyaknya nyinyiran tetangga karena Sukiyem dan keluarga lah yang harus membiayai kehidupan Utomo.
__ADS_1
Sukiyem dan Utomo juga harus keluar dari kontrakan mereka dan tinggal bersama orang tua Sukiyem.
Semakin hari uang tabungan Utomo kian menipis. Tabungan Sukiyem juga harus di pakai, berikut juga sedikit perhiasan yang dia miliki harus di jual sedikit demi sedikit.
Meskipun hidup di rumah orang tua Sukiyem dan di tanggung uang biaya makan. Mereka tentu merasa segan pada orang tua yang sudah seharusnya beristirahat tanpa membiayai anaknya.
Dan tiba di suatu hari, keluarga besar orang tua Sukiyem sedang berkumpul.
Tentu Sukiyem dan Utomo harus hadir dalam kumpul keluarga itu.
Awalnya semua baik-baik saja. Perbincangan hangat dan ringan di bahas.
Hingga salah satu paman Sukiyem bertanya pada Utomo tentang pekerjaannya.
"Gimana kerjaan mu? Sudah dapat yang baru?"
"Belum paman. Masih coba lamar di tempat lain"
"Kurang, paman"
Utomo menjawab begitu sopan dan berhati-hati.
Ya Utomo bukan tidak mencoba dan tidak berusaha. Dia pada dasarnya baik dan rajin.
Namun nasibnya saja kurang mujur. Sudah di PHK. Bayaran juga di potong. Di tambah usaha tanam jual buah juga tidak berjalan baik dan bisa di bilang dia harus nombok.
Rasanya Utomo benar-benar malu. Apa lagi kini beberapa saudara Sukiyem menatap sinis dan merendahkan Utomo.
__ADS_1
Jika di perlakukan begitu oleh tetangga lain, Utomo masih bisa menerimanya. Namun jika di lakukan oleh keluarga Sukiyem. Tentu Utomo akan sangat malu dan lama kelamaan menjadi benci.
Hari berganti Bulan. Sudah setengah tahun lebih Utomo menganggur. Hingga sang Mertua laki-laki atau Ayah Sukiyem mulai bertanya tentang Utomo.
Utomo mulai merasa marah kesal. Dia menjadi gelap mata.
Malam itu Utomo menemui salah satu teman lamanya di sekolah. Mereka bertemu dan mengobrol sambil berbagi keluh kesah.
"Wes pusing iki. Mau gimana lagi aku Jon. Gak ada pekerjaan yang mau nerima aku"
"Sabar Tomo. Atau kau mau coba langkah akhir ini? Tapi resiko pasti ada"
"Cara apa Tom? "
"Dukun! "
Ide dari Jono seketika membuat Utomo terdiam. Dia takut jika berurusan dengan dunia perdukunan. Namun dia juga tidak memungkiri dia butuh itu agar lepas dari masalahnya.
"Boleh Jon. Kapan ke sana? "
"Lusa. Lusa tak antarkan"
"Perlu bawa apa Jon? "
"Wes gak usah. Nanti di sana di kasih tau butuh apa! "
Utomo mengangguk menerima ajakan dari Jono. Dia sudah gerlalu buntu dan gelap mata.
__ADS_1
Semoga ini jalan terbaik yang bisa dia tempuh. Pikirnya.
Bersambung...