Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Kaimana dalam Baruna


__ADS_3

Baruna yang sedang ada di apartemen menerima pesan dari Ethan. Pria itu selalu mengabari semua kegiatannya.


Dia dan Baruna semakin dekat apalagi Baruna juga mempercayainya untuk membantu mengurusi masalah Baruna.


"Baguslah. Papa dan Mama sehat - sehat saja"


Gumam Baruna saat melihat foto yang di kirimkan oleh Ethan untuknya.


Baruna merasa lega saat tahu kedua orang tuanya sehat - sehat saja. Bahkan keduanya bisa tertawa dengan bahagia bersama Ethan.


Hal itu membuat hati Baruna sedikit menghangat dan meskipun dia harus memendam rindu yang begitu kuat terhadap orang tuanya juga kakak - kakaknya.


Baruna meletakkan ponselnya dan menuju ruang makan untuk makan bersama Snowy dan Kitty.


.


.


Di rumah orang tua Baruna~


Ethan sudah duduk di meja makan bersama kedua orang tua Baruna juga Kakak - kakaknya Baruna.


"Ayo di makan Et"


Dickson tampak mengambilkan lauk ke atas piring Ethan.


"Terima kasih Kak"


Ethan tersenyum menerima lauk dari Dickson. Dia merasa senang karena di rumah dia anak tunggal. Sedangkan saat bersama keluarga Baruna dia seperti mendapat dua orang Kakak laki - laki yang sangat baik padanya.


Bukan Ethan mau mengatakan kalau keluarganya buruk. Sama sekali bukan. Dia senang dengan orang tuanya yang sangat support padanya dan benar - benar sangat menyayanginya. Hanya saja Ethan sering kesepian karena tidak memiliki teman di rumah.


Jika di rumah Baruna, Ethan selalu memiliki teman bercanda yaitu kedua kakak Baruna. Keduanya juga sering mengajak Ethan berkeliling desa tempat mereka tinggal bersama.


Mereka makan dengan tenang bersama dan sesekali membahas Baruna saat masih kecil. Gadis yang sangat mencintai laut itu menjadi bahan pembicaraan kedua kakaknya bersama Ethan.

__ADS_1


.


.


"Hatchiii!!!"


Baruna tampak bersin. Snowy dan Kitty langsung menoleh pada Baruna yang sangat kuat bersinnya itu.


"Kenapa?"


Tanya Snowy heran. Tidak biasanya Baruna akan bersin. Dia bukan lagi manusia seutuhnya jadi tidak akan bisa jatuh sakit apalagi flu.


"Entahlah. Hanya hidungku tiba - tiba gatal"


Baruna tampak meraih selembar tissue dan menyeka hidungnya yang gatal mendadak itu.


"Kalau versi manusia itu artinya ada yang sedang membicarakan mu"


Ucap Snowy mengejek Baruna.


"Sial. Siapa yang berani membicarakan ku? Ck!"


"Itu kan kata manusia. Mana Aku tau benar atau tidaknya"


Jelas Snowy acuh tak acuh.


Baruna menyudahi pembicaraan absurd mereka karena terasa begitu tidak penting.


Dia kembali memikirkan di mana Mutiara Bulan yang mereka cari. Dia tidak mungkin menerobos rumah orang. Terlalu berisiko hal tersebut.


Sesulit itukah mencari sebuah benda sedangkan Baruna merupakan salah satu makhluk terkuat meskipun dia belum sempurna. Namun sudah di pastikan semua makhluk akan hancur di tangannya.


"Aku mau tidur dulu"


Ucap Baruna pada Snowy lalu menuju kamarnya untuk istirahat.

__ADS_1


entah mengapa dia merasa ingin menutup matanya terus menerus padahal selama ini dia tidak pernah merasa mengantuk sedikit pun.


Tapi tanpa mau memikirkan sebabnya dia memilih untuk langsung tidur karena tidak mau merusak tubuh kasar Avisa. Dia sadar dirinya masih setengah makhluk gaib.


Hidup di antara dua dunia memang begitu sulit. Itu yang sedang Baruna hadapi sekarang. Mau protes? Tidak mungkin. Justru karena itulah dia masih bisa membalaskan orang - orang yang sudah semena - mena pada dirinya dan keluarganya. Dan dia bisa melihat keluarganya kembali hidup dengan nyaman setelah semua yang terjadi.


Baru saja memejamkan mata Baruna secepat itu masuk dalam dunia mimpi. Dia bermimpi berada di sebuah kerajaan kecil. Penuh dengan bunga teratai dan tampak indah. Dia melihat sosok wanita yang persis dirinya sedang bersama dengan seorang kakek tua.


"Nona. Lebih baik urungkan niat Nona menikah dengan pangeran Arvie. Kalian tidak akan bisa bersama. Keluarganya masih bagian dari Raja Elang. Belum pernah makhluk darat dan makhluk laut bisa bersama"


Ucap Kakek itu menasihati.


"Aku sangat mencintai Arvie. Dia satu - satunya manusia yang sangat tulus pada ku. Dia bahkan rela mati untukku"


Ucap perempuan yang Baruna yakini itu adalah Kaimana.


"Tapi ramalan mengatakan akan ada bencana besar jika Nona masih bersikeras bersama dengannya. Lautan dan daratan akan mengalami bencana buruk"


Jelas kakek itu lagi berusaha membujuk Kaimana saat itu.


"Maaf Orpan. Aku sudah yakin dengan hal ini. Apa pun yang terjadi aku akan bersama Arvie sekalipun Raja elang akan membuat masalah untukku. Arvie sudah melawan Raja Elang dan keluarganya sendiri demi ku. Tidak mungkin Aku meninggalkan pria itu sendirian"


Kaimana tampak sangat kekeh dengan pendiriannya. Dia tidak bisa di bujuk kakek tua yang di panggil Orpan itu.


Si Kakek juga tampak sudah pasrah dan tidak berdebat dengan Kaimana lagi. Gadis itu tiba - tiba tersenyum dan berlari ke sebuah arah. Baruna mengikutinya dan melihat di sana sosok Pangeran Arvie sedang menunggunya. Senyuman itu begitu hangat persis senyuman Ethan.


Kaimana juga tampak sangat bahagia saat itu. Kedua nya bergandengan tangan dan berjalan bersama.


Sedetik kemudian Baruna terbangun. Meskipun mimpi itu begitu indah entah mengapa dadanya begitu sakit. Seolah sesuatu yang terlihat indah itu menyimpan banyak luka baginya.


"apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa aku merasa sakit dan menangis tanpa sebab"


Gumam Baruna yang tampak terus menangis tanpa bisa di hentikan. Dia merasa sangat sedih entah kenapa. Yang dia tau dia sangat ingin menangis dan terus menangis tanpa henti.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2