
Lukisan Kaimana tiba - tiba bercahaya jingga keemasan. Hal itu membuat Ethan dan Baruna terkejut.
Cahaya itu muncul beberapa detik lalu menghilang. Bersamaan dengan itu muncul tulisan Teratai Lembah Pelangi Kematian.
Baruna dan Ethan menatap heran pada tulisan yang muncul tiba - tiba itu.
"Apa kita harus ke sana lagi?"
Tanya Ethan pada Baruna.
Baruna tampak berpikir dan menghela nafas perlahan.
"Setelah semua urusan ku selesai baru kita ke sana lagi. Aku harus fokus dengan tujuan utama ku"
Ucap Baruna pada Ethan.
Ethan tampak mengangguk setuju pada perkataan Baruna.
Keduanya tampak menyimpan kembali lukisan itu dengan baik lalu Ethan mengajak Baruna mengelilingi rumah besar itu. Lalu berhenti tepat di taman belakang.
Di sana terlihat ada sebuah kolam yang penuh teratai.
Baruna menatap kagum karena di antara semua bunga yang palingĀ banyak dan tampak indah adalah kolam yang penuh teratai.
"Indah sekali"
Ucap Baruna.
"Iya. Itu dulu Ethan yang tanam"
Tiba - tiba Nyonya Christian sudah ada di belakang mereka.
"Aku?"
Tanya Ethan bingung, dia tidak ingat tentang pernah menanam bunga - bunga itu.
"Iya. Itu kejadian saat kau masih kecil sayang. Saat kau berusia 12 tahun. Tiba - tiba saat memasuki umur 13 tahun tubuh mu panas dan setiap mendengar suara petir kau menjerit kesakitan dan entah bagaimana kau langsung melupakan banyak hal bahkan 90% masa hidupmu tidak kau ingat sayang"
Jelas Nyonya Christian tampak jujur juga serius.
__ADS_1
Baruna dan Ethan saling berpandangan.
"Kalau tidak salah itu setelah Papa mu membawa mu bermain ke rumah leluhur kalian. Itu Mama tidak ikut karena ada acara keluarga Mama. Pulangnya Kau langsung sakit begitu. Sejak itu Papa tidak berani membawa mu ke sana lagi. Apalagi banyak yang mengatakan kau mirip sekali dengan leluhur mu dulu. Katanya ada banyak foto leluhur mu dan para pegawai yang menjaga rumah itu juga terkejut melihat kemiripanmu. Mama sendiri belum pernah ke sana dan melihat langsung"
Ucap Nyonya Christian menjelaskan apa yang pernah terjadi pada Ethan.
"Kau banyak berubah. Dulu kau sangat ceria. Suka sekali dengan bunga teratai, Suka dengan ikan bahkan melarang merusak kehidupan laut. Kau juga sangat percaya naga itu ada. Tapi sejak sembuh dari sakit kau jadi lebih pendiam dan berubah banyak melamun"
"Saat di tanya kau bilang tidak paham apa yang kau lamunkan. Karena itu Papa mengajari mu berbisnis dan tentang perusahaan. Padahal sebelumnya kau sangat tidak tertarik malah ingin pindah tinggal di dekat hutan"
"Kau semakin berubah sayang setelah di kecewakan mantan kekasih mu. Dan Mama bersyukur bisa melihatmu yang kembali melembut sekarang dan banyak tersenyum tulus. Terima kasih Avisa, kau sudah mengembalikan Ethan kami yang dulu"
Ucap Nyonya Christian tampak menghela nafas seolah begitu banyak beban yang ada di pikirannya.
Ketiganya tampak berbincang. Baruna hanya diam mendengarkan tentang masa kecil dan kebiasaan aneh Ethan.
Ethan yang mendengar penjelasan Mamanya tentu sangat terkejut. Dia memang melupakan banyak hal dan tidak ingat sama sekali.
Hingga waktu menjelang malam. Tuan Christian sudah pulang dan mengajak mereka semua makan bersama.
Suasana begitu bahagia, bahkan semua pembantu di rumah itu bisa merasakan kebahagiaan di sana. Mereka senang karena Tuan Muda mereka banyak tersenyum tulus dan tampak begitu lembut pada gadis bernama Avisa.
"Kau dan Avisa sangat cocok apa kalian berpacaran, Et?"
"Kami hanya dekat, Pa. Avisa juga berinvestasi di bisnis bengkel ku"
Jelas Ethan yang tidak mau mempersulit Baruna untuk menjawab kedua orang tuanya.
"Ya Papa akan sangat setuju jika kalian bersama. Bukan begitu, Ma?"
Tanya Tuan Christian pada istrinya itu.
"Tentu, Pa"
Jawab Nyonya Christian yang memang sangat mendukung Ethan segera memiliki pasangan hidup, Apalagi seorang gadis cantik yang mampu membuat putranya itu kembali menghangat dan banyak tersenyum.
"Ah ya. Kau sudah ke rumah leluhur kita, Et? Tidak terjadi sesuatu kan?"
Tanya Tuan Christian terdengar serius.
__ADS_1
Nyonya Christian terkejut mendengar Ethan kembali ke rumah leluhurnya lagi. Padahal dia sudah melarang suaminya agar tidak membiarkan Ethan ke sana lagi dalam kondisi apa pun. Dia trauma dengan kejadian saat Ethan kecil.
"Tidak, Kecuali foto yang mirip sekali dengan ku"
Jawab Ethan dengan tenang.
"Ya kau sangat mirip. Dan kau tau nama mu itu Ethan yang berarti Kuat, raja yang terkuat. Itu nama pemberian kakekmu. Katanya karena kau sangat mirip dengan leluhur kita yang konon katanya pangeran yang seharusnya naik takhta menjadi raja. Dia begitu kuat tapi entah lah apa yang membuatnya mengakhiri hidupnya begitu saja"
Jelas Tuan Christian yang membuat Ethan dan Baruna bersamaan menatap Tuan Christian.
Melihat itu Nyonya Christian menegur suaminya agar tidak membahas hal seperti itu saat makan bersama.
"Pa. Kita lagi makan loh. Jangan bahas hal mengerikan ah"
Tegur Nyonya Christian dengan lembut.
"Tidak masalah Ma. Aku juga penasaran kenapa wajah ku dan leluhur kita bisa sama sekali"
Ucap Ethan.
"Entah lah. Nama leluhur kita pangeran Arvie. Dan dia sangat kuat di masanya menjadi pangeran. Dia banyak berperang dan menjaga kedamaian kerajaan masa itu. Makanya dia di katakan sebagai penerus raja sesungguhnya. Dan nama Arvie sendiri berarti raja elang hutan. Cocok sekali dengan karakternya yang tegas dan kuat. Begitu cerita Kakekmu"
Jelas Tuan Christian pada Ethan.
"Kakek kenapa bisa tau itu?"
Tanya Ethan penasaran lagi.
"Itu kisah turun temurun di keluarga kita. Dan masih misteri tentang Pangeran yang memilih mengakhiri hidupnya dan juga masalah ruangan kamar yang tertutup rapat dan tidak bisa di buka siapa pun meski tidak ada kunci yang menguncinya. Kau tau bukan? Ruangan di bagian belakang. Kabarnya di sana berisi semua barang - barang pribadi milik pangeran Arvie. Dan salah satunya adalah lukisan yang kemarin Papa tunjukkan. Aneh juga kenapa hanya lukisan itu yang ada di luar dan mendadak di temukan di ruang santai belakang"
Ucap Tuan Christian yang memang penasaran dengan hal itu.
Ethan dan Baruna saling memandang. Sebuah fakta baru membuat mereka cukup tercengang. Pantas jika Baruna merasa ada yang melindungi rumah ini sejak awal. Dan lukisan elang di ruang tamu itu sangat hidup.
"Sudah lah jangan bicara lagi. Ayo makan. Jangan buat Avisa bingung dengan pembicaraan kalian"
Ucap Nyonya Christian yang membuat mereka semua kembali fokus menikmati makan malam itu.
.
__ADS_1
.
.