
"Duduk lah. Aku akan menyajikan teh untuk Nona" Ucap pertapa itu.
"Tidak usah repot pertapa suci" Ucap Baruna.
"Nona adalah tamu, jadi sudah sepatutnya di sambut dengan baik" Ucap Pertapa suci itu sambil tersenyum.
Baruna hanya bisa membiarkan si pertapa suci sibuk menyediakan teh untuknya juga camilan ringan.
Camilan yang tentunya berupa kue dari buah - buahan dan sayur - sayuran. Si pertapa suci itu memang seorang vegetarian.
"Silakan di minum tehnya, Nona" Ucap Pertapa itu.
Baruna menerima segelas teh dari si Pertapa dan dengan perlahan menegak teh itu.
"Jika Nona ingin menenangkan diri silakan. Tempat ini bisa menjadi tempat Nona beristirahat" Ucap Pertapa suci itu.
"Tempat apa ini?" Tanya Baruna yang baru sadar jika mereka berada di pinggiran sebuah sungai yang mengalir jernih.
__ADS_1
"Ini sungai kehidupan. Di sini tempat yang cocok jika ingin menenangkan diri dan melihat kembali apa yang terjadi. Nona mungkin belum menyelesaikan apa yang Nona lihat. Saran ku lebih baik Nona melihat semuanya dengan seluruh sebelum semua terlambat. Takdir Nona dan Pangeran Arvie masih terikat satu sama lain"
Ucap Pertapa suci itu menasihati. Baruna hanya bisa diam dan mencerna apa yang di katakan si pertapa.
"Silakan Nona bermalam dan beristirahat di sini. Jika membutuhkanku maka lempar saja batu ke arah sungai sebanyak 3 kali dan aku akan segera datang"
Ucap Pertapa Suci itu lalu berjalan meninggalkan Baruna. Sangat cepat langkah si pertapa tua itu yang langsung menghilang dari pandangan Baruna.
Baruna menghela nafas berat. Pikirannya kacau. Rasa cinta dan sakit hati nya timbul bersamaan. Entah mengapa dia sedikit menyesal mencari tau apa yang terjadi pada Kaimana dulu.
Jika dia abai dan tidak berusaha untuk tau mungkin dia tidak akan bimbang atau merasa tersakiti saat ini. Cara kematian Kaimana membuat Baruna syok dan tidak bisa menerimanya. Apalagi tidak adil bagi Kaimana yang tulus pada Pangeran Arvie.
.
.
.
__ADS_1
Pagi pun tiba. Ethan dan Snowy juga Kitty tampak bersiap kembali ke kota tanpa Baruna.
"Dia pasti menenangkan diri terlebih dahulu. Dia juga tentu syok dengan kisah kalian di masa dulu. Lebih baik kita kembali dan pikirkan cara mengurus si Rico sebelum dia berulah lebih berbahaya lagi" Ucap Snowy memberikan saran pada Ethan.
Ethan hanya bisa mengangguk setuju. Mereka tidak mungkin terus ada di lembah pelangi untuk menunggu Baruna yang tidak jelas sedang kemana.
Semalam Snowy sudah menuju Goa mereka di pantai timur dan tidak menemukan Baruna. Jadi sudah pasti Baruna tidak ingin di temukan atau di ganggu saat ini.
Ethan memasukkan pedang Kaimana ke dalam mobil. Mobilnya mulai melaju dengan stabil kembali ke apartemen Baruna. Di setiap perjalanan Ethan terus berdoa agar dia dan Baruna masih bisa bertemu meski itu merupakan hari terakhir Ethan bernafas.
"Aku berharap di saat terakhirku pun masih ada kesempatanku melihat wajahnya dan meminta maaf dengan layak" Ucap Ethan lirih.
Snowy hanya bisa menghela nafas. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk Baruna ataupun Ethan. Sudah garis tadir mereka untuk melewati hukuman di kehidupan mereka ini. Snowy hanya berharap Rico benar bisa di hentikan dan di binasakan agar jiwa iblis itu tidak bisa mencari inang baru lagi.
.
.
__ADS_1
.