Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Masakan Mama...


__ADS_3

" Ayo dimakan ini Nak Ethan. Jangan sungkan"


Ucap Bu Duma yang begitu ramah sambil terus menyendokkan berbagai lauk pauk di piring Ethan.


Ethan begitu terharu di perlakukan seperti keluarga sendiri oleh keluarga Baruna.


"Di makan yang banyak aja Et. Nih ayam goreng spesial buatan Mama. Biasa Baruna suka sekali ayam ini" Ucap Robert mengingat kesukaan adik perempuan satu-satunya itu.


"Baruna selalu suka apapun yang di masak sama Mama. Dia enggak pemilih dan selalu bersyukur" Ucap Dickson menimpali perkataan Robert.


"Entah dimana sekarang gadis bodoh itu" Ucap Robert terdengar sedih.


"Dia pasti baik-baik saja. Baruna sangat kuat. Lebih bagus dia bisa pergi jauh agar orang-orang itu tidak bisa menangkap atau mencelakai nya lagi" Ucap Pak Mustofa yang selalu yakin Baruna masih hidup di suatu tempat.


Benar sekali feeling sang Ayah. Baruna memang masih hidup dengan nyaman namun dia kini hidup dengan menyimpan dendam dan menjadi mahluk setengah manusia setengah gaib.


"Dia baik-baik saja. Pasti baik-baik saja" Ucap Bu Duma sambil menyeka air matanya yang turun membasahi pipi-nya.


Ethan tampak ikut merasa sedih melihat air mata Bu Duma.


"Baruna orang yang baik. Dan dia pasti akan baik-baik saja" Ucap Ethan berusaha menghibur Bu Duma.


Bu Duma tersenyum tipis menanggapi perkataan Ethan yang tampak mencoba menghibur nya.


"Sudah. Ayo makan. Nanti dingin lauknya" Ucap Pak Mustofa menghentikan pembicaraan yang akan membuat mereka bersedih terus menerus.


Mereka kemudian menikmati makan malam bersama hingga semua lauk yang terhidang habis tak bersisa.


Memang sungguh nikmat masakan Bu Duma. Selesai makan malam bersama dan berbincang ringan dengan Pak Mustofa beserta Robert dan Dickson, Ethan lalu berpamitan kembali pulang karena hari semakin larut.


"Pa - Ma. Ethan balik dulu ya" Ucap Ethan berpamitan.


"Iya hati-hati di jalan sudah malam" Ucap Pak Mustofa sambil menepuk pundak Ethan.


"Apa boleh Ethan minta di siapkan makan siang lain kali sama Mama? Nanti Ethan suruh orang untuk datang ambil" Ucap Ethan menatap Bu Duma.


"Ah. Nak Ethan mau Mama masakkan untuk makan siang? Boleh tentu boleh. Nak Ethan beritahu saja apa yang Nak Ethan suka. Nanti Mama masakkan" Ucap Bu Duma yang tampak senang Ethan menyukai masakannya.


"Masaka apa saja tetap Ethan suka. Nanti Ethan kabari ya dari telepon kapan Ethan mau" Ucap Ethan tersenyum senang.


Begitu banyak rencana Ethan untuk membuat Baruna tersenyum saat Baruna selesai melakukan tugasnya di dunia lain.


"Boleh tentu boleh. Mama senang sekali jika Nak Ethan suka. Mau tiap hari juga boleh. Mama pasti masakkan" Ucap Bu Duma yang memang sangat senang dan menyayangi Ethan seperti bagian dari keluarganya sendiri.


"Terima kasih Ma" Ucap Ethan.

__ADS_1


Ethan berpamitan kepada Pak Mustofa, Bu Duma, Robert juga Dickson.


Semuanya tampak bahagia dan senang bertemu dengan Ethan.


Ethan segera kembali ke rumahnya sendiri dengan melajukan mobilnya segera. Sang Mama pasti sedang menunggunya yang belum pulang.


Tiba di rumah seperti dugaannya Sang Mama menunggu Ethan dengan senyuman hangat.


"Kau sudah makan sayang?" Tanya Nyonya Christian.


"Sudah Ma. Ethan duluan ke kamar ya" Ucap Ethan.


"Ya. Pergilah beristirahat" Ucap Nyonya Christian sambil membelai lembut punggung Ethan.


Ethan segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan segera beristirahat.


Ingin sekali dia menelepon Baruna, namun di dunia lain tidak bisa menerima panggilan telepon seperti layaknya dunia manusia.


Ingin memanggil Baruna dengan cara menyakiti diri sendiri pasti akan berujung kekesalan dari Baruna yang mengamuk karena Baruna sudah me wanti-wanti Ethan agar tidak melakukan hal itu.


"Aku rindu pada mu. Baruna kau sedang apa. Apa kau baik-baik saja kah? " Gumam Ethan sambil menatap keluar balkon kamarnya.


Dia benar-benar merindukan Baruna dan memikirkan gadisnya itu apakah baik-baik saja.


"Kau pasti baik-baik saja kan? " Gumam Ethan lagi.


Ethan belum tau saja jika Baruna lebih kuat dari yang di pikirkan nya. Dia bahkan bisa menghancurkan se-isi kota tempat tinggal mereka dalam sekali hentakan kaki.


.


.


.


Beberapa hari telah berlalu. Ethan menyempatkan diri menuju ke lokasi kantor yang di minta Baruna.


Betapa terkejut Ethan melihat kantor itu sudah beraktivitas layaknya kantor pada umumnya.


Namun hal yang berbeda adalah para karyawannya itu bukan lah manusia. Mereka memang berwujud manusia dan tampak bekerja seperti manusia.


Tapi kenyataannya bahwa mereka adalah mahluk dari dunia lain. Ethan bisa tau itu karena melihat tanda bunga teratai di kening mereka.


Ethan tidak tau jika Baruna lebih cepat dari perkiraan nya kembali ke dunia manusia. Itu juga Baruna sudah bermalam di gua (baca : goa -red)selama dua malam untuk bersantai serta bersemedi di dalam kolam teratainya.


Tiba-tiba saja siang itu Baruna muncul di kantor Ethan.

__ADS_1


"Una... " Ucap Ethan terkejut melihat kehadiran Baruna di kantornya.


"Semua baik-baik saja? " Tanya Baruna tanpa bada basi.


"Tentu. Kau tenang saja. Semua sudah aku urus. Bagaimana dengan masalah di sana? " Tanya Ethan lalu menarik Baruna untuk duduk di sofa.


Ethan segera menekan mesin pembuat kopi otomatis di ruangannya.


"Sudah selesai. Ternyata tidak sulit memburu pengacau itu" Ucap Baruna dengan santai.


Ethan menyajikan segelas kopi untuk Baruna.


"Begitukah? Baguslah. Tapi dimana Snowy kenapa tidak ikut? " Tanya Ethan heran.


"Dia pergi bermain menemui sesamanya di tempat penampungan" Ucap Baruna menjelaskan.


Snowy merindukan sesama anjing dan kucing yang dia selamatkan dan tempatkan di tempat penampungan.


"Tentu saja sudah beberapa hati. Tapi dia seharusnya tidak usah khawatir. Aku juga menyempatkan diri memantau kondisi anjing-anjing dan kucing-kucing itu" Ucap Ethan.


Sepertinya Ethan sudah memiliki kebiasaan Baruna mengunjungi animal shelter nya Snowy juga keluarga Baruna. Hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja.


"Kau sudah makan? " Tanya Ethan.


"Sudah. Kenapa? Kau belum makan?" Tanya Baruna heran. Sudah cukup telat untuk jam makan siang.


"Besok datanglah. Kita makan siang bersama" Ucap Ethan sambil tersenyum penuh arti.


"Okey" Baruna menerima ajakan itu karena dia juga berniat membicarakan hal selanjutnya untuk menjebak Zaky dan menarik perhatian Frans tanpa melibatkan Rico si cenayang aneh itu.


Ethan tersenyum, dia sudah merencanakan sesuatu untuk memberi kejutan bagi Baruna.


"Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? " Tanya Baruna yang memperhatikan wajah Ethan yang tampak senang.


"Tidak apa-apa. Aku cuman bahagia Kau baik-baik saja" Ucap Ethan berbohong.


"Ck! Kau aneh! " Ucap Baruna lalu sibuk dengan ponselnya..


Banyak sekali orang yang mencari Baruna sejak kepergian nya beberapa hari lalu. Baruna harus menyesuaikan segala sesuatu agar tidak menimbulkan kekacauan dan tanda tanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2