Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Ingin Seperti Arvie dan Kaimana


__ADS_3

Di apartemen Baruna, terlihat Baruna sedang duduk bersemadi. Dia mencoba menembus penglihatan gaibnya tentang kejadian yang terjadi pada Ratu Duyung, berbekal sisik ikan yang dia temukan itu.


Samar - samar Baruna bisa melihat Ratu Duyung mendatangi gubuk itu, dia tampak berbicara dengan seseorang. Sayangnya Baruna tidak bisa mendengar suara orang itu dan tidak jelas sosoknya yang tampak berbayang.


Baruna juga tidak tau apa yang sedang di perdebatkan Ratu Duyung dengan orang itu namun seketika Baruna melihat Ratu Duyung memuntahkan darah.


Ratu Duyung di racuni sebelum di bunuh. Dan yang mengejutkan Baruna adalah Mutiara Bulan tidak di ambil paksa melainkan Ratu Duyung yang menyerahkannya dengan sukarela.


Baruna melihat bibir Ratu Duyung yang berucap, "Lepaskan Dia dan ambil ini, Ku mohon".


Baruna terkejut, apa sebenarnya yang sedang berusaha di lindungi Ratu Duyung sampai dia begitu pasrah dan melepas mustika itu dari tubuhnya.


Lalu terlihat Ratu Duyung yang terpental dan terluka parah. Baruna memekik terkejut dan terbangun dari semadinya.


Dia melihat sekeliling. Masih tidak bisa Baruna percayai, Ratu Duyung yang menyerahkan benda itu dengan suka rela dan sang Ratu meninggal terbunuh setelah melepas Mutiara Bulan itu dari tubuhnya.


Pantas saja, karena Baruna tau jika Mutiara Bulan itu masih melekat di tubuh Ratu Duyung maka dia tidak mungkin Ratu Duyung akan meninggal. Mutiara Bulan selalu melindungi siapa pun pemiliknya baik itu yang baik mau pun yang jahat.


Orang yang memiliki benda itu tidak akan bisa terbunuh. walaupun terluka parah orang yang menjadi Tuan dari Mutiara Bulan akan selalu sembuh dengan sendirinya meski membutuhkan waktu.


"Kenapa Aku tidak bisa melihat wajah orang itu. Siapa sebenarnya orang itu. Manusia atau makhluk halus lainnya. Dan kenapa Ratu Duyung harus memohon padanya?" Gumam Baruna yang masih sangat penasaran.


Dia tidak bisa mendapatkan jawaban dari hal itu. Entah mengapa dia benar - benar bingung. Ingin bertanya pada siapa juga dia tidak bisa. Karena saksi mata pun tidak ada.


Seolah hal itu sudah di atur dengan baik dan membuat Baruna kesulitan mencari jejak si orang misterius itu.


Terdengar suara pintu apartemen terbuka. Baruna melirik jam yang menunjukkan pukul 11 malam. Pasti Ethan sudah kembali pikirnya.


Baruna segera keluar dari kamarnya, dan benar saja Ethan yang masuk ke dalam apartemen. Tubuhnya beraroma Alkohol dan rokok yang kuat.


"Aku mau membersihkan tubuh dulu"  Ucap Ethan pada Baruna.

__ADS_1


Baruna hanya mengangguk dan membiarkan Ethan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu di kamar mandi dekat dapur.


Sembari menunggu Ethan selesai membersihkan diri, Baruna membuatkan air jeruk untuk Ethan. Agar bisa menetralkan kadar Alkohol berlebih dalam tubuh Ethan.


15 menit kemudian Ethan keluar dengan handuk di kepalanya. Dia mencuci rambutnya karena tidak mau aroma rokok dan alkohol masih tercium.


Dengan berpakaian tidur Ethan mendekati Baruna dan memeluknya dari belakang.


"Aku merindukanmu" Ucap Ethan sambil memeluk mesra Baruna.


"Duduklah. Aku bantu keringkan rambut mu" Ucap Baruna menuntun Ethan ke arah sofa.


Terlihat air jeruk di meja dan Ethan langsung meneguknya. Dia tau itu di buat oleh Baruna untuknya. Dia sangat senang dan berterima kasih tentunya.


Dengan lembut Baruna membantu mengeringkan rambut Ethan perlahan. Hal itu begitu menyenangkan untuk Ethan. Dia bahkan berharap waktu berhenti sejenak agar dia bisa terus menikmati kebersamaannya dengan Baruna.


"Bagaimana tadi?"  Tanya Baruna memecah keheningan di antara mereka.


"Dia bisa merasakan aura tubuhku berbeda makanya dia masih penasaran dan ingin sekali memastikannya sendiri. Tapi aku selalu menjaga jarak dan menutupi aura ku dengan aura yang lainnya. Kau harus hati - hati. Bagaimana pun dia cenayang dan bisa menggerakkan jin suruhannya"  Ucap Baruna memperingatkan Ethan agar jangan lengah di dekat Rico.


Meskipun Rico adalah manusia biasa namun dia cenayang yang mempelajari ilmu gaib. Dia tentu bisa menyuruh dan menggerakkan jin lainnya untuk melukai musuh.


"Bailah. Aku mengerti. Sudah cukup rambut ku sudah tidak terlalu basah lagi" Ucap Ethan sambil meraih tangan Baruna yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.


"Tunggu dulu. Nanti kepala mu sakit jika masih lembab dan di bawa tidur" Ucap Baruna terdengar kesal dan menepuk pelan tangan Ethan.


Ethan tersenyum dan hanya membiarkan Baruna melakukan apa yang ingin dia lakukan pada Ethan.


"Mungkin ini rasa bahagia Pangeran Arvie saat bersama Kaimana" Ucap Ethan tiba - tiba.


Hal itu membuat Baruna menghentikan kegiatannya. Dia juga merasakan kebahagiaan yang sama setiap bersama Ethan meskipun sesekali dia merasa sakit di dadanya.

__ADS_1


Tapi itu tidak bisa di banding dengan rasa nyaman dan bahagianya.


"Mungkin sebesar ini juga rasa percaya Kaimana pada Pangeran Arvie. Aku bahkan tidak bisa meragukan mu sejak awal padahal kita bertemu dengan kondisi tidak baik" Ucap Baruna jujur.


Sejak awal Ethan berkata akan menolongnya lepas dari Frans meskipun saat itu Ethan terlambat karena Baruna di ambang hidup dan mati.  Tetap saja Baruna yakin Ethan tulus dan akan membantunya.


Kini Ethan juga benar - benar membantunya membalaskan semua dendamnya hingga tuntas, padahal itu tidak ada kaitannya dengan Ethan.


Ethan juga mungkin akan terkena karma karena turut andil dalam melakukan hal buruk. Jika Baruna tidak akan mengalami apa pun lagi karena dia sendiri terus di hukum setiap bulan purnama penuh sebagai efek dari dendamnya yang terus dia balas tanpa peduli apa pun.


"Walah harus menyeberangi api neraka pun akan aku lakukan demi mu. Aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi. Percayalah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukai mu. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mu"


Ucap Ethan sambil menyentuh wajah Baruna. Ucapan yang begitu tulus yang merupakan ungkapan hati dan penyesalan terdalam Ethan dan Pangeran Arvie yang gagal melindungi gadis yang dia cintai.


"Apa kau membutuhkan sesuatu lagi?" Tanya Ethan.


"Iya" Ucap Baruna sambil tersenyum.


"Apa?" Tanya Ethan dengan sigap.


"Peluk dan cium aku seperti yang pangeran Arvie lakukan pada Kaimana" Ucap Baruna sambil menatap Ethan.


"Dengan senang hati" Ucap Ethan yang mendekatkan tubuhnya pada Baruna.


Ethan meraih dagu Baruna dan mencium bibirnya perlahan. Tangan Baruna juga di lingkarkan ke belakang leher Ethan. Keduanya begitu intim dan dekat hingga tanpa mereka sadari cuaca di luar mendadak hujan gerimis.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2