
Baruna menuju ke sebuah rumah gubuk di pinggir kota.
Dia menyusuri rumah terbengkalai itu. Bau kayu lapuk tercium dengan kuat.
Baruna melihat beberapa bekas aroma laut ada di sana.
"Apa dia sempat di bawa ke sini sebelum di bunuh?" Gumam Baruna penasaran.
Warna tanah di sekitar rumah gubuk itu terlihat masih basah aroma lautan. Baruna yang mengelilingi rumah menemukan beberapa sisik ikan yang berukuran cukup besar.
Baruna paham itu artinya benar jika ratu duyung sempat di bawa ke dalam gubuk itu. Tapi oleh siapa dan dengan tujuan apa belum bisa dia ketahui.
"Apa yang diinginkan orang itu? Kenapa bisa dia mengalahkan dan membunuh Ratu Duyung. Aneh" Gumam Baruna lagi.
Baruna mengumpulkan sisik yang dia temukan dan di bungkus dengan kain bersih yang dia bawa. Lalu Baruna menuju ke mobilnya dan segera kembali ke apartemen.
Dia ingin mencoba untuk menelusuri asal muasal sisik itu dengan penglihatan gaibnya.
Tanpa Baruna sadari sejak tadi dia di ikuti oleh seekor burung Elang yang terus memantaunya dari perusahaan milik Ethan, menuju ke ujung kota dan kembali ke apartemennya.
.
.
Pukul 15.00 sore~
Di Kantor Ethan mulai mencoba memantau pergerakan Frans dan siapa lagi calon korban serta bisnis apa yang sedang di incar Ethan.
Sembari dia mulai berpura - pura sedang bosan dan ingin mencari hiburan di club. Obrolannya tentu di baca dna di response oleh Rico yang ada di dalam group juga.
Ethan senang karena pancingannya terhadap Rico berhasil di lakukan.
__ADS_1
Pintu ruangan kerja Ethan di ketuk dari luar. Asistennya masuk dan menyerahkan laporan untuknya.
"Tuan ini laporan bulan ini"
"Apa masih ada yang harus aku urus?"
"Sudah tidak ada Tuan"
"Kalau begitu aku akan pulang dulu. Kabari jika ada hal penting"
"Baik Tuan"
Setelahnya Ethan langsung menyambar jas dan kunci mobilnya. Dia segera melajukan mobil menuju rumah untuk mengambil pakaian ganti dan mengabari sang Mama jika dia ada urusan di luar dan tidak akan pulang lagi malam itu.
Sehabis mengambil keperluannya, Ethan menuju ke apartemen Baruna. Kini ikatan batin keduanya semakin kuat. Tanpa saling mengabari mereka bisa yakin akan bertemu kapan mereka inginkan.
Begitu tiba di apartemen Baruna, Ethan memarkirkan mobil di basement dan naik ke unit apartemen Baruna menggunakan lift.
"Hai"
Ucap Ethan sambil tersenyum hangat pada Baruna.
"Hai. Ayo masuk"
Ucap Baruna mempersilahkan Ethan untuk masuk ke dalam apartemen.
Ethan memperhatikan sekeliling, tidak ada Snowy di sana.
"Snowy mana?"
Tanya Ethan heran. Tidak biasanya dia tidak bertemu si anj1ng langit itu saat datang ke sana.
__ADS_1
"sedang bawa Kitty jalan - jalan sebentar di taman bawah. Duduklah aku sedang masak untuk makan malam" Ucap Baruna.
"Ah aku malam ini akan ke Club. Frans dan Rico ada di sana. Aku ingin mencoba mendekati Rico dengan perlahan agar dia tidak curiga"
Jelas Ethan tentang rencananya pada Baruna. Baruna mengangguk paham dan setuju. Rico tidak mungkin mencelakakan Ethan untuk saat ini. Jadi Baruna bisa lebih tenang.
"Aku tidak bisa ikut hari ini" Ucap Baruna pada Ethan. Dia sudah berencana melakukan semedhi dalam untuk mencari penglihatan tentang sisik yang dia temukan tadi.
"Tidak masalah. Justru aku tidak ingin kau ikut agar aku bisa mendekati Rico dengan tenang" Jelas Ethan yang memang tidak mau Baruna terlalu dekat dengan Rico.
"Kau akan kembali ke sini setelah dari Club?" Tanya Baruna menerka niat Ethan.
"Tentu saja. Apa aku tidak di ijin kan?" Tanya Ethan dengan senyum menggoda Baruna.
"Bukan begitu. Malam nanti aku akan bertapa untuk mencari tau tentang kejadian Mutiara Bulan yang hilang" Jelas Baruna.
"Sudah tau di mana benda itu?" Tanya Ethan yang terkejut dan mengira Baruna sudah menemukan lokasi benda itu berada.
"Belum. Hanya petunjuk kecil. jadi aku harus menggunakan kekuatan untuk bisa menembus ruang waktu dan melihat apa yang terjadi" Jelas Baruna pada Ethan.
Ethan hanya bisa mengangguk walau dia tidak begitu paham maksud Baruna.
"Kalau kau tiba masuk saja sendiri. Kodenya 100111" Lanjut Baruna lagi.
Hal itu membuat Ethan terkejut. Baruna memberinya kode dari password kunci unit apartemen. Sepertinya Baruna sudah sepenuhnya percaya pada Ethan.
"Baiklah. Ah boleh aku membantu mu memasak?" Tanya Ethan pada Baruna yang di jawab dengan anggukan kepala dari Baruna.
Tentu dia senang Ethan mau membantunya memasak. Jarang sekali bukan ada pria tampan dan berkelas mau memasak di dapur.
"Ayo" Ajak Baruna sambil menarik pelan tangan Ethan menuju ke dapur.
__ADS_1