
Baruna tampak sedang bersemadi di atas batu. Dia mencari penglihatan akan keberadaan Paman Rico yang sudah berani mengganggu ketenangan para calon naga sebelumnya.
Namun yang Baruna dapatkan malah dia terbawa kembali ke penglihatan masa lalunya. Dia terkejut melihat sekelilingnya. Sebuah ruangan gelap yang entah di mana.
Tiba - tiba pintu di belakangnya terbuka. Seseorang membawakan pencahayaan masuk ke dalam ruangan. Pelayan itu menyalakan satu persatu lentera di setiap sudut ruangan.
Ya dia terbawa ke zaman di mana listrik belum ada. Semua memanfaatkan cahaya matahari ataupun lentera di saat malam hari.
"Aku kenapa ke zaman ini lagi?" Gumam Baruna yang bingung.
Dia mencari cara untuk kembali namun jiwanya sedang terperangkap di sana.
Setelah ruangan terang karena cahaya lentera barulah Baruna bisa melihat jika dia sedang berada di ruangan khusus milik Pangeran Arvie.
"Tuan. Makanlah dulu" Ucap Pelayan itu pada seseorang di meja di ujung ruangan.
Pria itu hanya terdiam tidak bersuara sedikit pun dan hanya menggerakkan tangannya pertanda agar pelayan itu keluar dari ruangan.
Pelayan itu mengundurkan diri dan keluar dari ruangan serta menutup kembali pintu ruangan itu.
Baruna melangkah mendekati meja pria itu. Dia melihat sosok pangeran Arvie sedang duduk melukis wajah Kaimana.
"Kai... Maafkan Aku. Kau benar, Kau bahkan terus melindungiku. Aku sudah membunuh Ryu untukmu. Dia dalang semua ini. Maafkan Aku sayang"
Ucap Pangeran Arvie sambil meneteskan air matanya dengan pandangan yang begitu menyakitkan.
Baruna terenyuh melihat Pangeran Arvie yang tampak kacau, dia benar - benar terlihat kacau.
"Uhuk... Uhukk... Uhukk"
Suara batuk Pangeran Arvie terdengar, terlihat Pangeran Arvie mengeluarkan darah saat batuk.
Baruna terkejut melihatnya. Namun Pangeran Arvie hanya tersenyum menatap lukisan Kaimana yang dia buat.
__ADS_1
"Aku akan menyusulmu setelah lukisan terbaikmu selesai Kaimana" Ucap Pangeran Arvie yang menatap sup obat di sampingnya.
Tidak sedikit pun Pangeran Arvie menyentuh sup obat miliknya. Dia hanya fokus dengan lukisan yang dia buat. Bahkan dia tidak peduli dengan urusan negara yang sudah kehilangan raja dan ratu. Dan seharusnya Pangeran Arvie lah yang melanjutkan takhta namun Pangeran Arvie tidak melakukan tugasnya.
Hidup dan pikirannya kini hanya tertuju pada Kaimana. Dia benar - benar sudah mati secara kehidupan dan bersiap mengikuti Kaimana.
Melihat sikap Pangeran Arvie yang seperti mayat hidup tentu menyakitkan hati Baruna. Dia tau jika Pangeran Arvie di masa lalu juga begitu tersiksa.
Tiba - tiba sekeliling Baruna berubah. Dia berada di Lembah Pelangi. Di sana berdiri pangeran Arvie dengan pakaiannya yang acak - acakan. Dia memegang pedang Kaimana yang penuh lumuran darah. Entah apa yang sudah Pangeran Arvie lakukan.
"Setelah kematian ku, Kau harus kembali ke tuanmu" Ucap Pangeran Arvie sambil menatap pedang Kaimana.
Tanpa ragu Pangeran Arvie menusuk perutnya dengan pedang Kaimana. Lalu mencabut pedang itu, membungkusnya dengan kain putih lalu melemparnya ke dalam kolam teratai milik Kaimana.
Pangeran Arvie melakukan semua itu dengan sisa - sisa tenaganya. Perutnya terus mengeluarkan darah. Dengan terengah - engah dia melepas cakra Elang dari tubuhnya hingga cakra itu terbang ke langit dan mengeringkan seluruh tempat di lembah pelangi itu.
Lembah itu langsung menjadi semakin tandus di banding setelah kematian Kaimana.
"Aku siap di hukum, tapi Aku mohon biarkan Aku lahir di kehidupan Kaimana dan melindunginya. Biarkan Aku menebus kesalahanku" Ucap Pangeran Arvie sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Langit bergemuruh, hujan badai menerpa, tubuh pangeran Arvie tertutupi debu tanah di tempat itu.
Sekejap kemudian Baruna kembali tersadar dari semadinya. Dia menangis. Hatinya menangis terluka. Dia menangis Bukan itu yang dia harapkan. Dia ingin pangeran Arvie tetap hidup dalam penyesalannya. Bukan menyusulnya dengan cara seperti itu.
"Kenapa... Takdir gila macam apa ini..." Ucap Baruna di sela - sela tangisnya.
Sakit sekali hatinya melihat kematian Pangeran Arvie dengan cara begitu. Baruna benar - benar terluka melihat semua itu.
"Aku harus bagaimana" Ucap Baruna yang semakin bingung.
.
.
__ADS_1
.
Di sisi lain Snowy sedang melatih dirinya sendiri agar semakin kuat. Dia sudah memantapkan diri untuk berkorban demi menyelamatkan Baruna dan Ethan.
Karena Ethan juga sudah memutuskan akan melawan sendiri Rico.
Ethan yang sedang bersama Rico terlihat diam dan menikmati makanan seraya membahas hal lain. Ethan berusaha agar bisa mendapatkan Mutiara Bulan dari Rico. Namun sesuai perkiraan Rico tidak semudah itu menyerahkan benda lain pada Ethan.
Malah Rico menawarkannya bantuan setelah malam purnama penuh. Karena menurut Rico setelah itu dia akan lebih baik dalam membantu Ethan.
"Kapan itu?" Tanya Ethan berpura - pura tidak paham maksud Rico.
"Dua hari lagi aku akan mulai bertapa. Berarti tiga hari lagi kita bisa bertemu" Ucap Rico pada Ethan.
"Kau bertapa? Memangnya kau melakukan itu? Bukannya itu sudah kemampuan alamimu?" Tanya Ethan pada Rico.
"Biar lebih baik dalam melindungi orang lemah" Ucap Rico beralasan.
"Memangnya ada tempat bertapa begitu di jaman modern begini?" Tanya Ethan lagi.
"Ada. Aku akan melakukannya di Pantai Barat. Pokoknya tiga hari lagi setelah hari ini akan aku hubungi kau" Ucap Rico pada Ethan.
"Baiklah" Jawab Ethan.
Dia sudah tau kapan Rico akan memulai bertapa dan dimana lokasinya.
Kini Ethan mengantar Rico pulang. Dan dia sendiri kembali ke apartemen Baruna untuk menemui Snowy dan menceritakan informasi yang dia punya sekaligus menanyakan benda yang dia temukan di rumah Rico.
.
.
.
__ADS_1