
"Di sini ada makhluk sejenis palasik. Mereka berbahaya kalau di biarkan. Tau kan apa itu palasik?"
Ucap salah satu warga di sana.
Hal itu membuat Baruna dan yang lain terkejut. Sebagian tau apa itu Palasik. Sebagian lagi tidak paham jenis makhluk apa itu.
"Palasik? Apa itu?"
Tanya Rina Runissa yang memang tidak paham apa yang di maksud.
Baruna tau jenis makhluk apa yang di maksud oleh warga di desa Wanjiru. namun dia tidak bisa menjelaskannya karena Avisa di kenal sebagai gadis kota yang tidak paham dan tidak percaya hal bersifat astral.
Akan sangat aneh jika Baruna yang sedang memakai sosok Avisa itu menjelaskan tentang makhluk astral dan sejenisnya.
Salah satu warga tampak menjelaskan pada mereka tentang apa itu Palasik.
"Palasik itu sejenih mahluk dari ilmu hitam yang di pelajari seseorang dan mereka suka memakan manusia"
Ucap salah seorang warga menjelaskan.
"Hah? Zombie?"
Rey yang juga ikut tampak terkejut mendengar tentang sejenis mahluk itu.
"Loe kate ini film luar gitu ada zombie-zombiean?"
Ucap Ariel pada Rey.
"Kuyang maksudnya, Pak?"
Tanya Nessie yang juga ikut di acara itu.
"Ya mirip sejenis kuyang begitulah mbak"
Jawab warga itu lagi.
Ya, Palasik sering di samakan dengan kuyang padahal mereka berbeda.
Memang baik Palasik atau pun kuyang sama - sama jenis makhluk yang tercipta karena seseorang mempelajari ilmu hitam.
Namun ada perbedaannya. Palasik selalu memangsa korban yang merupakan bayi baik dalam kandungan maupun yang sudah terlahir hingga balita.
Mereka tidak memangsanya dengan terang - terangan meskipun bisa. Palasik akan memilih memakan mangsanya secara Ghaib dengan menyesap seluruh energi dan darah anak - anak itu.
Jika dengan bayi dalam kandungan maka si palasik akan menghisap darahnya melalui jalan lahir si ibu hingga bayi itu tidak bisa berkembang sempurna di dalam rahim si ibu.
Sedangkan untuk anak - anak yang sudah lahir maka anak itu akan meninggal dengan kondisi perut yang cekung ke dalam dan juga ubun - ubun kepala yang cekung ke dalam.
Dan jika di periksa dokter hanya akan diketahui si anak mengalami kekurangan gizi. Dan secara medis itu di anggap sebagai kondisi karena gangguan gizi juga cacing pita pada tubuh anak - anak.
Pantas saja sejak tadi Baruna tidak melihat anak - anak yang bermain di sana setelah magrib menjelang. Ternyata ini alasannya.
"Se-berbahaya itu?"
Tanya Deni Margo yang penasaran.
__ADS_1
"Iya benar. Dan mereka sangat berbahaya tentunya. Kalian tidak ada yang sedang hamil kan? Kalau sedang hamil kita tidak sarankan berada di tempat ini terlalu lama atau jika ada maka kami sarankan menggunakan jimat"
Jelas warga di sana.
"Jimat?"
Deni dan yang lainnya kebingungan.
"Iya. Jimat itu terbuat dari dasun (bawang putih tunggal), jerangau, merica (lado ketek), timah hitam yang dituliskan dengan tulisan Al-Qur'an lalu di bungkus dengan kain hitam. Kepercayaan kami di sini itu bisa menangkal Palasik. Anak - anak dan ibu hamil di sini selalu mengenakan jimat itu ke mana saja"
Jelas warga lagi.
Setelah perbincangan yang panjang itu mereka memutuskan membahas hal lain karena beberapa wanita tampak mulai ketakutan dengan kisah itu.
Terkecuali Baruna tentunya. Dia tidak takut dengan makhluk sejenis itu. Dia malah lebih mengerikan dari makhluk yang hanya memakan anak kecil itu.
'Beraninya cuman sama anak kecil dan wanita hamil yang lemah. Sangat tidak class kalian bestie' Ucap Baruna dalam batin tentunya.
Malam mulai semakin larut. Semua team bansos mulai lelah dan tidur menggunakan sleeping bag yang di sediaan di dalam aula desa.
Warga yang melakukan ronda malam juga mulai berkeliling dan menuju pos mereka yang tak jauh dari aula desa.
Baruna juga ikut tidur. Ethan menempatkan diri di samping Baruna. Ingin menjaga wanitanya tentunya.
Hingga waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, sayup - sayup Baruna mendengar suara aneh.
'Palasik!' Batin Baruna.
Dia memperhatikan sekeliling semua sudah tertidur lelap termasuk Ethan. Namun dia tidak bisa membawa tubuhnya pergi, akan menjadi masalah jika warga melihat wujud Avisa berkeliaran di desa untuk menangkap palasik itu.
Baruna melangkah keluar berjalan menyusuri desa dengan santainya. Tidak ada yang bisa melihat wujud Baruna yang hanya roh itu.
Binggo! Baruna menemukan mahluk yang masih bersaudara dengan kuyang dan keluarganya itu.
"Jangan kabur!" Ucap Baruna mengejar mahluk itu.
Mahluk yang sedang tampak mengincar sebuah rumah. Dan terdengar suara jeritan kesakitan seorang wanita di dalam sana.
"Sialan!" Umpat Baruna yang memilih melihat apa yang terjadi terlebih dahulu.
Wanita yang sedang hamil tua tampak menjerit kesakitan. Darah mengalir deras di sela - sela tubuh bagian bawahnya.
Suara keributan di rumah itu tentu membuat tetangganya ikut terbangun karena terkejut.
Merasa bukan itu waktunya untuk menonton kondisi wanita itu, Baruna memilih mengejar palasik yang tadi terlihat mengarah ke hutan.
Dia menembus hutan gelap itu hingga terdengar suara Ethan memanggilnya.
"Una"
Suara itu membuat Baruna menoleh. Benar saja Ethan sedang mencarinya.
"Kau kenapa ke sini?"
Tanya Baruna heran.
__ADS_1
"Aku mencari mu dari tadi"
Ucap Ethan yang tiba - tiba melotot horor ke arah atas Baruna.
"Awas!"
Ucap Ethan yang meraih Baruna dan terguling di tanah.
Palasik itu ternyata menunggu menyerang Baruna saat dia lengah.
"Sial!"
Umpat Baruna yang langsung menarik kepala palasik itu dan membantingnya ke arah pohon hingga terjadi jeritan kesakitan.
Baruna bertarung dengan palasik itu hingga kepala itu hancur. Baruna juga menggunakan mantranya mengikat kepala itu tak lagi bisa bergerak. Jika hingga pagi kepala itu tidak bisa bergerak kembali ke tubuhnya tentu si penganut ilmu akan mati.
"Grrrr!"
Suara geraman dari kepala palasik itu terdengar dan menatap Baruna dengan sinis.
"Aku tidak akan membiarkan kau membunuh lebih banyak lagi bayi tidak bersalah. Nikmati kematian mu hari ini"
Ucap Baruna sambil mengambil sebatang ranting dan meneteskan darah dari tangannya ke arah ranting dan menancapkannya di jantung palasik hingga kepalanya tidak bisa bergerak lagi dan terkunci di dahan pohon.
Mahluk itu masih mengeram geram. Jantungnya masih berdetak. Dia tidak akan mati tapi jika pagi tiba dan sinar matahari mengenai kepala nya itu di pastikan makhluk itu akan mati.
"Ayo pergi"
Ucap Baruna pada Ethan. Terlihat siku Ethan terluka karena terjatuh menyelamatkan baruna. Dengan sedikit usapan dari darah Baruna membuat luak itu bersih seketika.
"Dia di biarkan begitu saja?"
Tanya Ethan penasaran dengan Palasik yang di paku oleh Baruna ke batang pohon.
"Dia akan mati besok saat matahari mengenai kepalanya"
Jelas Baruna dengan santai dan berjalan lebih dulu di depan Ethan.
Sedetik kemudian Baruna tersadar. Dia sedang dalam wujud halus alias Roh.
Bagaimana bisa Ethan melihatnya dan bahkan menyentuhnya.
Baruna berbalik menatap heran pada Ethan.
"Kenapa?"
Tanya Ethan pada Baruna yang terlihat bingung.
"Kau... Kau bisa melihat wujudku sekarang??"
Tanya Baruna dengan rasa tidak percaya.
.
.
__ADS_1
.