
Sesuai dengan janji Ethan dan Baruna. Siang itu Baruna menuju kantor Ethan untuk menemuinya.
Dan seperti yang bisa di duga, semua mata menatap kehadiran sosok Avisa bersama husky putihnya yang masuk ke gedung perusahaan milik Tuan Christian -Papa Ethan.
Baruna langsung di arahkan menuju lantai tempat ruangan Ethan berada karena Ethan sudah memberi tahu kepada satpam dan resepsionis untuk membiarkannya masuk bersama Snowy.
Baruna tiba di depan ruangan Ethan dan mengetuk pintu ruangan itu.
Tok.. Tok.. Tok..
Baruna membuka perlahan pintu ruangan, terlihat Ethan sedang duduk di kursi kebesarannya langsung berdiri menyambut Baruna.
"Ayo masuk" Ucap Ethan.
Baruna pun melangkah masuk bersama Snowy.
"Duduk lah. Snowy duduk saja di atas sofa. Tidak masalah" Ucap Ethan pada Snowy yang sedang berwujud anjing Husky itu.
"Aku sudah datang jadi apa yang ingin kau rencanakan?" Tanya Baruna tanpa basa basi.
Ethan segera menuju mejanya dan mengambil beberapa berkas untuk di tunjukkan pada Baruna.
"Apa ini?" Tanya Baruna melihat beberapa sketsa bangunan di kertas itu.
"Itu rencana pembangunan showroom ku yang baru. Apa kau masih memiliki aset tanah kosong atau ruko luas? Mungkin kita bisa memulai dari itu agar tampak nyata kalau kita bekerja sama" Jelas Ethan.
"Showroom?" Tanya Baruna heran.
"Iya. Aku memiliki usaha sendiri. Perusahaan ini milik Papa ku. Sedangkan aku mengembangkan usaha showroom dan bengkel sendiri. Jika kau punya tanah kosong atau ruko kosong mungkin bisa disewakan kepada ku. Tapi nanti aku akan katakan kita bekerja sama membuka cabang baru, bukan menyewa tanah milikmu" Ucap Ethan.
Ethan memang berencana menyewa tanah milik Baruna. Dia tidak akan menggunalan tanah itu dengan gratis. Sedangkan di publik hanya kamuflase mengatakan Baruna bekerja sama dan membiarkan tanahnya di bangun showroom.
"Kau yakin? Bukan kah itu merugikan mu?" Tanya Baruna heran.
"Tidak masalah bagiku" Jawab Ethan tersenyum.
"Tapi itu masalah untukku" Ucap Baruna yang membuat Ethan terkejut.
Baruna bukan typikal yang akan menerima kebaikan itu secara cuma-cuma.
"Gunakan saja tanah yang aku punya di kota B. Tidak perlu bayar sewa. Anggap aku bekerja sama dengan mu dan itu imbalan atas bantuan mu untuk menghancurkan Frans" Ucap Baruna tegas.
"Tidak. Aku tidak perlu" Ucap Ethan.
"Lakukan atau tidak sama sekali?" Tanya Baruna.
Ethan terkejut mendengar perkataan Baruna.
"Mungkin semua manusia akan senang di bantu seperti yang kau lakukan. Tapi aku berbeda. Aku bukan manusia. Aku setengah mahluk lain. Dan bagi kami tidak bisa menerima bantuan secara cuma-cuma. Aku tidak mau berhutang apapun padamu" Ucap Baruna tegas.
Ethan akhirnya paham. Mahluk seperti mereka tidak bisa menerima kebaikan tanpa membalas kebaikan.
"Maaf aku menyinggung mu. Aku tidak berniat seperti itu" Jelas Ethan.
"Ya. Jika kau mengerti maka lakukan saja. Akan aku kirimkan lolasi tanah kosong yang masih ada. Kau atur sendiri saja" Ucap Baruna dengan santai.
"Iya aku mengerti. Kau sudah makan siang?" Tanya Ethan.
"Belum" Jawab Baruna singkat.
__ADS_1
"Mau makan bersama?" Tanya Ethan.
"Apa kau tidak lihat Snowy bersama ku?" Tanya Baruna dingin.
"Bagaimana jika aku delivery makanan ke ruangan ini saja. Snowy bebas makan di dalam ruangan ini" Ucap Ethan memberi ide.
"Ya sudah. Terserah saja" Ucap Baruna.
Ethan segera menelepon asistennya untuk memesankan makan siang berupa daging wagyu di restoran steak ternama. Menu kesukaan Snowy. Juga tak lupa dia meminta di belikan salad dan buah kesukaan Baruna.
Sekitar 40 menit kemudian Asistennya masuk keruangan dengan membawakan pesanan Ethan.
"Terima kasih" Ucap Ethan pada asistennya itu.
"Baik Tuan Muda. Saya permisi" Ucap asisten itu lalu meninggalkan ruangan Ethan.
Ethan membuka satu persatu makanan dan menyakiti nya di atas meja.
"Ayo di makan. Ah aku kunci pintu dulu. Snowy silahkan berwujud senyaman mu. Ruangan ini tidak bisa di intip dari luar juga tidak ada CCTV" Ucap Ethan.
Dia yakin Snowy akan lebih sennag berwujud manusia untuk mencicipi makan siang yang ada.
Tak butuh waktu lama, Snowy langsung merubah wujud menjadi manusia.
"Wah, kau sangat paham kakak ipar" Ucap Snowy dengan sengaja meledek.
"Kakak ipar?" Tanya Ethan heran.
"Kau dan Baruna kan akan menikah. Maka aku harus bersiap memanggil mu kakak ipar" Ledek Snowy.
Baruna menatap tajam pada Snowy tanda dia tidak suka dengan perkataan Snowy.
"Jangan sampai kau ku tendang kembali ke langit!" Tegas Baruna pada Snowy.
"Ah. Aku mau dong! Jadi kalau aku di marahi raja langit, aku tinggal bilang kalau Baruna yang menendang ku kembali kelangit" Ucap Snowy dengan nada mengejek.
"Sialan!" Ucap Baruna kesal.
Ethan hanya tersenyum dan tidak mau ikuit mengomentari. Jika salah berbicara pasti Baruna akan marah.
"Ayo dimakan sebelum dingin steaknya" Ucap Ethan menengahi pembicaraan Baruna dan Snowy.
Ketiganya menikmati makan siang itu dengan lahap. Setelahnya Ethan membuatkan kopi dengan mesin kopi yang tersedia di dalam ruangan itu.
"Kau mau kopi juga Snowy?" Tanya Ethan pada Snowy yang masih dalam wujud manusia.
"Boleh juga" Jawab Snowy.
Ethan segera menyajikan tiga gelas kopi yang terpisah dengan gulanya.
"Kapan acara Frans yang kau katakan itu?" Tanya Baruna.
"Minggu depan akan ada acara kecil. Kau mau ikut?" Tanya Ethan sambil menatap Baruna.
"Tentu. Aku harus lebih dekat dengannya" Ucap Baruna sambil tersenyum smrik.
"Kau jika dekat dengannya. Apa kau akan berpacaran dengannya?" Tanya Ethan dengan nada suara yang terdengar berat.
"Tidak. Aku hanya ingin mendekatinya untuk membuatnya penasaran dan hilang fokus. Dia akan kehilangan fokus jika tergoda dengan sosok wanita yang membuatnya penasaran" Ucap Baruna yang paham sifat buruk Frans sejak dia di jadikan budak.
__ADS_1
"Baiklah. Jadi biarkan aku membuatnya merasa tidak tenang juga karena aku pasti akan menghalanginya terlalu mendekatimu" Ucap Ethan jujur.
Bukan hanya karena takut sesuatu yang buruk dilakukan Frans. Tapi juga tentu karena Ethan tidak rela juga cemburu dengan hal itu.
"Silahkan saja" Ucap Baruna yang cuek itu.
Ketiganya menikmati kopi sambil berbicara santai. Ponsel Ethan berbunyi. Dia menatap nama yang tertera dan langsung menangkat telepon itu.
"Halo"
"... "
"Baik Tante tenang dulu. Aku akan segera ke sana"
"... "
"Baik Tante. Aku tutup panggilan ini ya"
Ucap Ethan lalu menutup telepon itu.
Baruna dan Snowy menatap heran pada Ethan yang agak pucat setelah menerima telepon.
"Una... Papa mu masuk rumah sakit" Ucap Ethan ragu-ragu.
Mata Baruna membulat terkejut. Wajahnya seketika berubah panik.
"Jangan panik. Kita kerumah sakit segera. Ayo" Ucap Ethan mengajak Baruna.
Namun Baruna tidak bergeming. Ethan merasa heran dan menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Ethan.
" Aku tidak berani. Aku takut lepas kendali saat bertemu mereka" Ucap Baruna jujur.
"Kau cukup melihat dari jauh. Setidaknya kau harus melihat kondisi sebenarnya" Ucap Ethan menenangkan Baruna.
Baruna masih berdiri membeku.
"Percaya lah. Aku sudah bilang aku akan melindungi mu. Aku akan menjadi alarm mu jika kau sampai kelepasan bertindak" Ucap Ethan membuat Baruna menatapnya dalam.
Baruna akhirnya setuju ikut ke rumah sakit. Dia memang khawatir dengan kondisi sang Papa. Semoga semua baik baik saja.
Mereka menaiki mobil di antar oleh supir Ethan agar kepanikan Ethan dan Baruna tidak membuat mereka celaka di jalan.
Snowy yang sudah kembali berubah menjadi anjing husky menatap Baruna dan berbicara melalui batin.
'Tenang. Papa mu pasti baik-baik saja.' ucap Snowy.
Baruna menatap Snowy dengan tatapan bingung dan khawatir. Baruna hanya mampu menghela nafas panjang.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-
__ADS_1