Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Patroli Malam.


__ADS_3

Malam itu Baruna melakukan patroli sendirian. Sekaligus mencoba peruntungan bisa menemukan lokasi keberadaan Mutiara Bulan yang sedang mereka cari itu.


menyusuri satu persatu jalanan. Mulai dari jalanan kota hingga daerah pinggiran.


Memastikan tidak ada mahluk aneh yang membuat masalah di setiap daerah. seperti itulah keguatan Baruna sebulan sekali. terkadang seminggu sekali jika dia merasa bosan dan tidak banyak kegiatan.


Baruna hanya memastikan semua kehidupan saling tumpang tindih secara sadar ataupun tidak sadar.


Dengan santai namun dia tetap fokus karena sembari mencari Mutiara Bulan yang hilang tanpa jejak itu.


Baruna dengan santai mencari dan menikmati angin malam. Dia melewati rumah Frans. Dia cukup syok melihat rumah Frans yang di jaga beberapa mahluk dan ada 4 mahluk yang paling kuat menjadi tiang rumah itu.


Mungkin ini sebabnya banyak perempuan yang merasa takut dan tidak berani melawan Frans.


Tidak hilang akal ataupun kesempatan, Baruna memanggil seekor burung yang sering ada di sana.


Dari burung kecil itu dia mendapatkan informasi tentang mahluk-mahluk terkuat itu.


"Oh jadi setiap rabu legi mereka akan pergi ke gua mereka untuk makan dan tidak bisa berjaga?"


ucap Baruna sambil tersenyum memikirkan rencana yang bagus untuk bisa menghancurkan Frans.


"Terima kasih. awasi dia lagi. jika ada yang kau ketahui jangan lupa memberi laporan pada ku. paham?" Ucap Baruna pada burung kecil itu.


burung itu mengangguk paham dan segera terbang ke tempat lain.


Baruna memutuskan untuk pulang ke apartemen dan mikirkan rencana untuk malam rabu legi.


Dia harus menjauhkan Rico dari Frans agar bisa menembus daerah Frans. Karena Baruna yakin Rico akan menjaga Frans jika mahluk yang di peliharanya sedang tidak ada di tempat.


"Ethan. Aku harus mengabarinya besok"


Gumam Baruna lalu membersihkan tubuhnya dan segera tidur.


.

__ADS_1


.


Di rumah Ethan, pria itu juga sedang memikirkan sesuatu. Dia cukup penasaran dengan cara membawa Rico menjauh dari Frans seperti permintaan Baruna.


"Besok Aku harus menemui Baruna"


Gumam Ethan yang kemudian mulai merebahkan diri untuk tidur.


.


.


.


Pagi tiba~


Seperti pagi - pagi sebelumnya. Aktivitas Baruna dan Snowy juga Kitty selalu makan bersama sebelum mengerjakan kegiatan masing-masing.


"Aku harus menemui Ethan. Kau mau ikut? "


"Kenapa? Ada masalah? " Tanya Snowy heran.


"Tidak. Aku dapat petunjuk. Rumah Frans di jaga 4 mahluk besar. Dan mahluk itu akan selalu berjaga kecuali malam rabu legi. Jadi aku ingin Ethan menjauhkan si Cenayang dari Frans saat Rabu legi itu"


Ucap Baruna pada Snowy.


Snowy tersenyum dan mengangguk. dia senang karena akhirnya sudah ada waktu untuk melakukan tindakan pembalasan terhadap pria bernama Frans itu.


Pria yang sangat meresahkan karena bukan hanya Baruna seorang korbannya. Tapi banyak gadis lain yang menjadi korban Frans. Terlepas dari para gadis itu melakukan terpaksa karena di bawah ancaman atau memang dengan suka rela dan berbagi hasil dengan Frans.


"Kalau sudah mau bertindak kabari. Aku sudah tidak sabar untuk menghancurkan pria laknat itu. Ingin sekali aku mencabik seluruh organ dalam tubuhnya" Ucap Snowy mengomentari.


"Ya. Kita akan menghukumnya secara dunia manusia agar semua kebejatan nya di ketahui publik dan dia tidak punya kesempatan untuk berbuat buruk lagi. Dan orang tidak akan peduli jika nanti kita menggunakan hukum dunia kita untuk membalas setiap luka yang dia torehkan padaku" Baruna kini tampak membara jika membicarakan luka baik psikis maupun fisik yang di sebabkan Frans selama dia terjebak dalam hidup pria laknat itu.


"Lakukan lah. Aku akan mendukungmu" Ucap Snowy yang juga begitu serius.

__ADS_1


Keduanya saling berpandangan lalu kembali menghabiskan sarapan bersama.


Selesainya Snowy yang membersihkan semua bekas makan sebelum membawa Kitty bersamanya untuk ke Shelter menjenguk binatang yang sudah dia selamatkan.


Sedangkan Baruna menuju ke parkiran untuk mengendarai mobilnya ke perusahaan Ethan tanpa menghubungi pria itu terlebih dahulu.


Jalanan pagi itu tidak terlalu ramai. Baruna dengan cepat tiba di parkiran perusahaan milik Ethan.


Dia yang sudah di kenali resepsionis dan satpam di sana langsung di ijinkan menuju ke lantai ruangan Ethan.


Asisten Ethan juga menyambutnya dengan ramah. Asisten Ethan tau jika sosok Avisa itu adalah wanita yang sedang dekat dengan Tuan Mudanya dan memiliki kepentingan bisnis.


Baruna di persilahkan masuk ke ruangan Ethan dan menunggu di sana.


"Silakan Nona. Mohon tunggu sebentar. Tuan muda sedang ada rapat dadakan. Sebentar lagi akan selesai. Saya akan mengabari Tuan" Ucap Asisten Ethan dengan sopan.


"Take it easy. Aku bisa menunggu" Ucap Baruna dengan senyuman ramahnya.


Bagai tersihir Asisten Ethan terpukau dengan sosok Avisa yang di gadang - gadang sebagai wanita yang cantik dan berkelas. Itu ternyata vukan bualan belaka. Senyumannya begitu indah untuk di lihat.


"Ah. Baik Nona. Saya akan suruh OB antarkan teh untuk Nona. Saya permisi dulu" Ucap Asisten Ethan lalu keluar dari ruangan itu.


Baruna yang tinggal sendiri di dalam ruangan tampak mengamati sekeliling. Dia cukup terpukau dengan design ruangan itu.


Tanpa sadar dia melihat sisi dekat meja kerja Ethan. Sebuah lukisan teratai yang indah.


Baruna kembali teringat hubungan antara dia, Ethan, Kaimana dan Pangeran Arvie


Baruna menghela nafas perlahan. Begitu rumit kisah hidup mereka. Entah di masa kini ataupun masa lalu. Baruna tidak paham apa sebenarnya yang terjadi kini. Semua begitu aneh dan mendadak.


Dia hanya menghela nafas perlahan dan kembali duduk di sofa sembari menunggu si pemilik perusahaan itu selesai rapat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2