
Pagi harinya berita mengenai pria dan wanita yang bukan pasangan suami istri ribut di perbincangkan bahkan oleh banyak akun media sosial hingga berita di televisi.
Baruna tersenyum mendapati berita itu. Dirinya tersenyum puas untuk awalan hal itu. Baruna menungggu berita tentang investasi yang dicurigai merupakan investasi bodong. Dirinya mendapat kabar Huston dan Merry menanamkan hampir seluruh uang mereka di investasi itu karena memiliki laba atau keuntungan yang besar setiap minggunya.
.
Dirumah milik Huston dan Merry, keduanya bertengkar hebat hingga Huston khilaf memukuki Merry.
"Kau menampar ku??!!" Bentak Merry tidak terima Huston menamparnya.
"Karena mulut kau benar-benar berbisa! Jaga ucapan mu itu!" Bentak Huston balik tanpa takut.
"Dasar pria bajingan! Kau pengkhianat!" Ucap Merry dengan nada tinggi.
"Hei! Jaga ucapanmu! Jangan berani menyebutku pengkhianat jika kau sendiri pengkhianat!" Ucap Huston tak kalah tinggi suaranya.
"Kau yang pengkhianat! " Ucap Merry tidak terima.
"Hei apa kau lupa? Kau yang memalsukan tanda tangan Baruna! Kau juga yang merencanakan pencurian semua dana itu dan membuat Baruna menjadi kambing hitamnya!" Ucap Huston sambil tersenyum mengejek.
"Sialan! Kau juga yang menyuruhku melakukan itu! Kau bilang lebih baik kita berdiri sendiri dengan uang-uang itu!" Ucap Merry emosi.
"Aku kan hanya bilang jauh lebih baik jika punya bisnis sendiri yang bersantai tinggal invest dan banyak penghasilan seperti yang sudah kita investasikan setengah tahun ini. Tanpa kerja profit bagi hasil nya bagus kan" Ucap Huston membela diri.
Keduanya terus bertengkar tanpa menyadari bahwa investasi mereka sudah mulai bermasalah. Kehancuran sedang menunggu kedua pengkhianat itu.
Huston tampak emosi dan meninggalkan rumah. Hingga malam Huston belum juga kembali.
Tak ada yang tahu Huston di cegat oleh orang tak dikenal dan dipukuli hingga babak belur. Tulangnya banyak yang retak akibat pukulan benda keras.
Huston di serang oleh suami dari wanita yang dia tiduri kemarin. Dia telah menyentuh wanita yang salah bahkan aktivitas ranjang mereka menjadi konsumsi publik.
Huston di larikan ke rumah sakit. Merry terkejut mendengar suaminya di serang kelompok penjahat yang kemungkinan ingin merampoknya. Kondisi Huston sangat buruk hingga dokter memberi diagnosa bahwa Huston akan kehilangan kemampuan berjalannya.
"Enggak mungkin Dok. Maksud dokter suami saya akan lumpuh??" Tanya Merry tidak percaya.
"Maafkan kami, Bu. untuk diagnosa sementara seperti itu. Kami akan berusaha sebaik mungkin membantu Pak Huston untuk kembali sembuh seperti sedia kala" Ucap Dokter itu lalu pamit meninggalkan Merry dan Huston di ruang rawat itu.
"Sayang. Huston pasti sembuh. Kita bisa mencari dokter terbaik" Ucap Mama Huston yang juga datang ke rumah sakit karena terkejut dengan berita buruk itu.
"Iya Ma. Ini Merry mau tarik sedikit modal ingestasi kami untuk pengobatan Bang Huston" Ucap Merry. Semua uang mereka ada pada investasi itu. Di rekening Huston maupun Merry hanya sisa 15juta saja. Itu juga sisa profit yang mereka dapatkan minggu itu.
"Iya lebih baik begitu" Ucap Mama Huston yang tidak tahu menahu perbuatan anak menantunya dan hanya terus menunggu (memaksa) Huston menghasilkan banyak uang untuk bisa di berikan pada mereka. Typikal orang tua jaman bahula yang menganggap anak sebagai sumber dana masa tua yang pasti dan wajib.
__ADS_1
Merry tampak sibuk menghubungi salah satu teman mereka yang mengajak mereka untuk melakukan investasi itu. Anehnya telepon Merry tidak di angkat.
"Mungkin sibuk kali ya. Ah sudahlah nanti baru aku telepon lagi" Ucap Merry berpikiran positif.
Dua hari berlalu, Huston masih dirawat. Biaya rumah sakit tentu semakin tinggi karena Huston memilih kamar khusus VVIP untuk perawatannya. Tentu biaya akan lebih mahal. Belum lagi kebutuhan sehari-hari mereka.
"Sial kenapa enggak bisa di hubungi sih!!" Keluh Merry kesal karena masih belum bisa menghubungi pihak yang mengurus pencairan investasi mereka.
Ponsel Merry berbunyi. Panggilan masuk dari Shinta.
"Ya ada pa, Ta?" Tanya Merry langsung saat mengangkat telepon itu.
"Kau sudah lihat berita? Investasi kita itu ternyata bodong! Orangnya kabur!!! Duit kita gimana ituu!! " Seru Shinta di ujung telepon.
"Hah? Mana mungkin! Aku uda jalani itu hampir setahun dan juga jaringan dan kantornya dimana-mana bahkan ada diluar negeri! Jangan ngaco kamu" Ucap Merry kesal. Tak dipungkiri perasaannya kalut mendengar berita itu dari Shinta.
"Aduh Merr. Aku serius! Ngapain aku bohong. Aku baru dari kantor mereka! Tutup kosong melompong!" Ucap Shinta yang membuat hati Merry serasa disambar petir siang bolong.
Merry langsung memutus panggilan itu dan terjatuh di lantai lorong rumah sakit. Dirinya merasa lemas dan menangis meraung-raung memikirkan seluruh uang mereka yang lenyap.
"Ada apa sayang. Astaga kenapa kamu duduk dilantai nduk?" Tanya Mama Merry yang terkejut mendengar suara Merry menangis. Beberapa pasien dan petugas rumah sakit juga menatap heran pada Merry.
"Ma... Gimana ini.... Uang Merry lenyap Ma... Lenyap.... " Ucap Merry menangis meraung-raung.
"Hah? Kok bisa??" Sang Mama yang memang tidak tahu menahu tentang investasi tampak kebingungan.
"Semua?? Semua tabungan kamu di investasi kan?? " Tanya Mama Merry terkejut.
"Iya. Huston juga... " Ucap Merry lirih.
"Astaga Nduk" Mama Merry ikut merasa lemas.
Bagaimana tidak. Rumah tempat Merry dan Hsuton tinggal masih dalam posisi menyicil pada Bank. Termasuk juga rumah kedua orang tua Huston dan Merry. Tentu jika mereka tidak dapat membayar cicilan itu maka mereka harus keluar dari rumah.
Bahkan untuk mengeluarkan Huston dari rumah sakit mereka harus meminjam uang kesana kemari. Pengobatan Huston juga terpaksa di hentikan. Huston yang tidak mendapat perawatan membuatnya hanya bisa terbaring lemah atau duduk diatas kursi roda.
Mereka juga bersiap harus diusir dari rumah mereka saat ini. Semua barang yang bisa mereka jual sudah mereka jual dengan harga yang sangat murah untuk menyambung hidup dan menyewa rumah kecil karena tentunya mereka tidak bisa menggunakannya untuk membayarkan cicilan rumah yang mahal itu.
Baruna menatap penderitaan mereka dengan bahagia. Huston dan Merry yang dari keluarga serba kekurangan, yang selalu dibantu oleh kedua orangtua Baruna untuk bisa tetap melanjutkan sekolah nereka, malah dengan tega menusuk Baruna dari belakang. Kini Baruna membiarkan mereka masih hidup dan kembali merasakan hidup yang serba kekurangan.
"Aku rasa aku tidak perlu membunuh kalian. Kalian pasti akan mati cepat atau lambat karena tidak mampu hidup seperti itu" Ucap Baruna sambil tersenyum melihat kondisi Huston dan Merry. Keluarga itu bahkan tampak sering bertengkar tidak seperti sebelumnya sangat bahagia dan kompak karena uang berbicara.
Baruna membawa mobilnya menuju sebuah mall tempatnya berjanji dengan Oliv Margo dan Rina Runissa serta kedua anak sambungnya. Mereka berjanji untuk berbelanja bersama karena Baruna ingin membeli kado untuk Ethan.
__ADS_1
Mobil Baruna terparkir di parkiran mall, dirinya turun dan menuju ke sebuah restoran tempat mereka berjanji bertemu.
"Avisa. Sini" Oliv Margo melambaikan tangan pada Baruna yang menanyakan tempat duduk yang di booking oleh Oliv Margo.
"Makasih ya mbak" Ucap Baruna berterimakasih pada pelayan yang menyapanya tadi.
Baruna langsung duduk bersama wanita-wanita cantik itu.
"Aku udah pesan banyak. Jangan diet ya hari ini" Ucap Oliv Margo.
"Iya Kak Oliv" Baruna tertawa melihat Oliv Margo yang bersemangat.
"Kau mau beli apa Avisa? Kado buat siapa?" Tanya Rina Runissa.
"Teman. Lusa ulang tahunnya. Aku takut tidak sempat jadi sekalian saja hari ini bareng kalian" Jawab Baruna.
"Oh. Okey okey. habis makan ya kita keliling" Ucap Oliv Margo.
Tanpa Baruna sadari, Ethan juga berada di restoran yang sama dengan temannya.
Ethan melihat ke meja Baruna.
"Avisa... " gumam Ethan menatap gadis cantik itu yang tampak tertawa bersama teman temannya.
"Lihat apa Et??" Tanya Jio teman Ethan. Jio ikut menoleh melihat kearah pandang Ethan.
"Eh itu artis Rina Runissa kan. Itu cewek sebelahnya kayak pernah lihat. Artis juga ya? " Tanya Jio penasaran.
Ethan lalu berdiri untuk mendekati meja Baruna.
"Hei hei. Tungguin. Ikut woi Et!" Seru Jio mengikuti Ethan menuju meja Baruna.
Baruna terkejut melihat Ethan menuju meja mereka.
"Hai Avisa" Sapa Ethan dengan ramah sambil tersenyum juga pada teman teman Baruna.
"Siapa dia?" Tanya Oliv Margo kepada Baruna. Ethan yang tampan dan tinggi itu tentu mengundang perhatian orang-orang di restoran karena menyapa meja Baruna dengan teman artisnya.
.
.
.
__ADS_1
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-