
Ethan membawa Rico ke sebuah tempat makan yang menyajikan olahan seafood yang segar. Tempat yang terletak bersebelahan dengan tebing yang di bawahnya adalah lautan luas.
Tempat itu begitu asri dan damai, namun jika malam cukup horor juga karena tidak ada bangunan lain di sekitar warung itu. Bahkan kendaraan juga tidak terlihat lalu lalang. hanya tiga mobil termasuk mobil Ethan yang terparkir di sana.
Tentu itu mobil dari para tamu tempat makan itu. Entah dari mana asal mereka yang juga bisa tiba di tempat itu untuk menikmati pemandangan lautan yang luas dari rumah makan. Juga karena masakan di sana memang segar dan enak.
"Pesan saja apa yang ingin kau makan" Ucap Ethan begitu mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengan jendela terbuka yang menghadap ke laut luas.
Melihat laut membuat Ethan mengingat Baruna. Kekasihnya yang merupakan pewaris kerajaan lautan yang luas itu.
"Aku ikut saja apa yang kau pesan" Ucap Rico yang bingung harus memesan apa.
"Baiklah. Aku pesan paket makan untuk dua orang saja" Ucap Ethan pada pelayan di sana.
"Baik Tuan" Jawab si pelayan lalu segera kembali ke dapur untuk memberitahu koki mereka akan pesanan Ethan dan Rico.
Keduanya tampak terdiam dan menikmati keindahan laut di hadapan mereka. Warna laut kebiruan yang bersinar itu seolah lukisan dan tak nyata.
"Kau bilang ada hal penting?" Tanya Rico memulai membuka pembicaraan dengan Ethan.
"Ya. Sebelumnya kau bilang aku memiliki aura? Apa itu benar?" Tanya Ethan yang terdengar serius.
Rico cukup terkejut Ethan bertanya hal itu dengan serius. Padahal selama ini Ethan menyangkal.
"Sejujurnya gossip jika aku adalah cenayang itu benar. Dan aku bisa melihat aura seseorang. Itu kemampuan alami ku sejak kecil" Jelas Rico pada Ethan yang terdengar serius juga.
"Begitu kah? Apa yang kau lihat dari ku?" Tanya Ethan yang terdengar penasaran dengan penglihatan Rico.
Hal itu membuat Rico tersenyum senang. Seolah merasa Ethan sudah percaya dan akan mengikuti perkataannya nanti.
__ADS_1
"Aura mu sangat kuat meski aku tidak bisa melihat apa yang melindungi mu. Kau itu memiliki aura yang istimewa dan itu satu banding satu juta manusia yang memilikinya" Ucap Rico sambil tersenyum.
Ethan tampak mengangguk mendengar penjelasan Rico. Ethan sebenarnya tidak terlalu percaya dan tidak peduli dengan hal itu. Dia hanya ingin membuat Rico berfokus padanya dan melupakan keadaan Frans hari ini.
"Terus apa itu bisa di kendalikan,. Maksud ku bukannya hal sejenis itu ada yang baik dan buruk?" Tanya Ethan lagi.
"Kau kenapa begitu penasaran? Biasa kau sangat skeptis dan menjauh dari pembicaraan seperti ini?" Tanya Rico yang heran dengan perubahan Ethan.
Ya Ethan yang mereka kenal adalah pria yang tidak percaya dengan hal gaib, maupun pembacaan ramalan dan aura tubuh.
"Itu. AKu~"
Ethan bingung harus menjawab apa. Dari raut wajahnya terlihat jelas dia bingung dan cemas.
"Kau bermimpi aneh belakangan? Mimpi buruk? Atau mimpi hal yang tidak masuk di akal?" Tanya Rico mencoba menerka kerisauan Ethan.
"Coba ceritakan. Mimpi seperti apa?" Tanya Rico yang semakin serius dan tertarik dengan pembicaraannya bersama Ethan.
Kini dia senang karena semakin memiliki celah mendekati Ethan secara tidak langsung. Dengan membantu Ethan pasti Ethan akan berterima kasih dan berhutang budi padanya.
Namun pembicaraan mereka harus terhenti karena makanan yang mereka pesan sudah siap dan di hidangkan.
"Ayo makan dulu. Kita lanjut setelah makan" Ucap Ethan.
"Oke" Rico tampak mengikuti saja. Waktu mereka sangat panjang hari ini.
.
.
__ADS_1
.
Baruna yang mengemudikan mobil dengan snowy di dalamnya tampak memasuki perumahan yang di huni oleh Frans. Dia sudah mendapat informasi dari burung - burung yang berpatroli atas suruhannya jika Frans ada di rumah.
Baruna memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Frans.
"Aku akan turunn. Begitu aku masuk ke dalam rumahnya. Langsung taburkan benda itu" Ucap Baruna mengingatkan Snowy.
"Baik. Aku mengerti" Jawab Snowy dengan sigap.
Baruna terlihat turun dengan wujudnya sebagai Avisa. Dia mulai berjalan melihat satu persatu rumah di sana dan berpura - pura bingung sambil melihat - lihat sekeliling.
"Loh? Avisa? Kau kah itu?" Suara Frans terdengar dari belakang Baruna.
"Loh? Frans?" Ucap Baruna berpura - pura terkejut.
"Ah ternyata benar kau. Sedang apa di sini?" Tanya Frans yang terkejut juga senang melihat kehadiran sosok Avisa di kompleks perumahan tempat dia tinggal.
"Ah sedang melihat - lihat apa ada rumah kosong yang di jual. Kau sendiri sedang apa di sini?" Tanya Baruna berpura - pura tentunya.
"Oh ini rumah ku. Kau mau singgah? Akan aku buatkan teh yang enak untuk mu" Ucap Frans sambil tersenyum mencurigakan.
Baruna sudah hafal sekali dengan tindak tanduk Frans dan dia tidak mungkin terjebak kedua kalinya. Namun untuk menjebak kembali pria itu maka Baruna harus berpura - pura masuk dalam permainan pria mesum itu.
"Iya boleh juga" Ucap Baruna sambil tersenyum dan mengikuti Frans masuk ke dalam rumahnya.
.
.
__ADS_1