
"Untuk apa dia telepon malam malam begini" Ucap Baruna saat melihat Ethan meneleponnya.
Baruna tetap mengangkat telepon itu untuk sekedar sopan santun.
"Hallo" Sapa Baruna.
"Avisa. Apa aku menganggumu?" Tanya Ethan disebrang telepon.
"Tidak. Aku baru selesai olahraga" Jawab Baruna.
"Apa besok kau ada waktu?"
"Kenapa?"
"Aku ingin mengajak mu berjalan-jalan"
"Kemana? Katakan saja aku akan menjumpaimu"
"Biar aku menjemputmu saja"
"Tidak usah, aku selalu bersama Snowy"
"Tidak masalah bagiku jika Snowy naik mobilku. Aku juga memelihara anjing dirumah"
"Baiklah. Jemput aku di apartement Shilla. Jika sudah sampai katakan saja"
"Baiklah. Besok jam 8 pagi aku akan menjemputmu"
Panggilan itu terputus. Baruna menghela nafas. Sepertinya pesona cantik seorang Avisa mampu membuat orang-orang langsung mendekatinya.
Semua laki-laki tampak tertarik dan ingin menjalani hubungan dengan sosok Avisa.
Baruna berpikir mungkin Ethan salah satunya.
Baruna membiarkan Ethan mendekat untuk memanfaatkannya sebagai jalur menemui Frans -Orang yang memberi luka besar pada diri Baruna.
Malam itu Baruna tertidur dengan lelap. Tubuhnya masih merasa lelah akibat hukuman yang harus dia hadapi.
.
Pagi itu Baruna terbangun lebih cepat dan membuatkan sarapan untuknya juga Snowy.
Snowy melihat Baruna berpakaian rapi seperti hendak keluar.
"Kau mau kemana? Sudah ku katakan jangan kemana-mana. Kekuatan mu belum pulih sepenuhnya" Ucap Snowy kesal.
"Ethan mengajak ku jalan jalan. Kau juga ikut. Kau kan bisa menggunakan tenaga mu melindungi ku sementara" Ucap Baruna dengan santai sambil melahap roti bakar yang dia buat.
"Astaga kau ini. Memangnya mau kemana?" Tanya Snowy yang turut memakan roti bakar dan segelas susu putih.
"Entah.Tapi aku sudah bilang akan membawa mu. Jadi biarkan dia pikirkan sendiri tempat apa yang cocok bisa membawa mu ikut" Jawab Baruna dengan santai.
"Kau mau kencan kenapa harus ajak aku?" Ledek Snowy.
"Aku tidak kencan" Jawab Baruna.
__ADS_1
"Tapi kau membiarkan dia mengajak mu jalan berdua" Ledek Snowy lagi.
"Astaga kau ini. Aku memanfaatkan dia yang tampak menyukai sosok Avisa. Aku harus mencari kesempatan mendekati bajingan itu dan menghancurkannya hingga dia meminta kematian" Ucap Baruna serius.
"Oh pantas saja. Kalau memang begitu aku akan mendukung mu" Ucap Snowy.
Selesai sarapan, ponsel Baruna berbunyi. Tampak pesan masuk.
'Aku sudah sampai. Dilantai berapa tempat tinggalmu?' -Ethan-
'Aku segera turun' -balas Baruna-
"Ayo. Dia sudah tiba" Ucap Baruna lalu menyambar tas selempang kecilnya.
Snowy langsung merubah wujud menjadi seekor Husky dan mengikuti Baruna.
Mereka turun ke bawah. Tampak Ethan sedang berdiri menunggu didepan apartement itu.
"Maaf lama" Ucap Baruna saat melihat Ethan menunggu.
"Tidak masalah. Aku juga baru tiba" Jawab Ethan sambil tersenyum manis.
Ethan membukakan pintu mobil untum Snowy juga Baruna.
"Kita akan kemana?" Tanya Baruna penasaran.
"Pantai. Agak jauh sih di ujung timur. Tapi pemandangannya sangat indah. Kau pasti akan suka terlebih saat sunset" Jelas Ethan.
Batin Baruna berkecamuk, Jika ujung timur kemungkinan itu adalah tebing saat tubuh dia dibuang oleh orang-orang itu.
Mereka tiba di pesisir pantai dekat tebing yang sangat dikenali Baruna. Ya tebing tempat tubuhnya dibuang oleh orang-orang itu.
Sejenak tubuh Baruna membeku. Kakinya terasa lemah, bayangan rasa sakit malam itu menusuk kembali di dada dan kepalanya.
Baruna terjatuh diatas pasir. Melihat itu Ethan langsung terburu-buru mendekati Baruna.
"Avisa. Kau kenapa?" Tanya Ethan khawatir.
"Tidak apa apa. Aku mungkin kelelahan" Ucap Baruna.
Snowy yang melihat hal itu paham Baruna teringat masa lalunya.
Tanpa aba-aba Ethan langsung menggendong Baruna ala bridal style dan membawanya menuju kursi yang tersedia di bibir pantai.
"Duduk disini. Aku akan pesankan kelapa muda untuk mu" Ucap Ethan sambil tersenyum.
"Boleh pesankan untuk Snowy? Dia suka air kelapa" Ucap Baruna.
"Baiklah" Ethan begitu lembut memperlakukan sosok Avisa itu.
Tak lama Ethan kembali membawa tiga buah kelapa. Satu kelapa tampak terbuka lebih lebar untuk memudahkan snowy meminumnya.
"Kau suka tempat ini?" Tanya Ethan sambil menatap Baruna.
"Aku suka air. Tentu aku suka pantai" Jawab Baruna.
__ADS_1
"Tempat ini jarang didatangi orang. Jadi lebih nyaman untuk duduk dan berbincang. Tidak masalah kan aku membawa mu kemari?" Tanya Ethan.
'Sangat masalah. Kau membuatku teringat luka ku disaat aku tidak siap!' Batin Baruna.
"Tidak masalah. Aku tidak suka tempat terlalu ramai" Jawab Baruna.
"Untung lah. Snowy tampak nya benar benar suka air kelapa ya" Ucap Ethan sambil memperhatikan Snowy yang asik mengecap air kelapanya.
"Iya. Dia suka apapun yang aku suka" Jawab Baruna. Dirinya tidak berbohong. Snowy memang sangat menyukai apapun makanan yang disukai Baruna.
"Lain kali aku ingin mengajak mu dan Snowy bermain dengan anjingku. Jenis Husky juga tapi warnanya hitam putih" Ucap Ethan.
"Kita lihat nanti" Jawab Baruna lalu menyesap air kelapa menggunakan sedotan.
Keduanya bercerita dan bercanda gurau.
Mata Baruna melihat sekeliling. Tak sadar dia menemukan sesuatu yang membuat amarahnya naik.
Seketika suasana pantai menjadi buruk. Ombak tiba-tiba menderu kencang seolah hendak menhancurkan apapun yang ada di dekatnya.
'Hei! Kendalikan dirimu!' Tegur Snowy melalui batin.
Sadar dirinya sudah membuat alam ikut marah, Baruna kembali menetralkan emosinya. Dia menggunakan kekuatannya menandai tubuh dua orang yang tak jauh dari mereka.
Dua sosok yang menjadi salah satu penyebab Baruna menderita, Huston dan Merry. Sepasang kekasih yang merupakan teman bahkan bisa dibilang sahabat Baruna sejak kecil. Mereka bertiga sangat kompak dan membangun usaha bersama hingga memiliki banyak investor berkat kemampuan Baruna yang baik dalam berbicara dan menyita perhatian banyak kalangan.
Hanya semua pupus saat Huston dan Merry berubah menjadi tamak. Mereka tidak puas dengan keuntungan proyek mereka hingga uang investor pun di ambil dan di bawa lari. Proyek menjadi tersedat bahkan hancur akibat perbuatan Huston dan Merry.
Investor yang memang hanya mengenal Baruna pun terus membayangi dan meminta pertanggung jawaban Baruna. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Uang Baruna juga dilarikan oleh Huston dan Merry tanpa sisa sepeser pun. Baruna dilaporkan ke pihak berwajib oleh para investor. Dia harus menjalani pemeriksaan yang membuatnya lelah belum lagi dia juga harus tersiksa oleh perbuatan Frans yang menjajakan dirinya pada pria hidung belang ataupun kolega bisnisnya.
"Ada apa?" Tanya Ethan sambil melihat kearah mata Baruna memandang. Ethan melihat sepasang kekasih yang tampak tak asing. Sepertinya dia pernah mengenali sepasang kekasih itu.
"Tidak apa apa. Tadi kau bilang ulang tahun. Ulang tahun siapa?" Tanya Baruna memastikan karena dia tidak fokus setelah melihat dua manusia pengkhianat itu.
"Ulang tahun ku. Kau mau hadir kan?" Tanya Ethan seperti memohon pada Baruna.
"Baiklah. Kalau aku ada di negara ini pasti aku hadir" Ucap Baruna sambil tersenyum.
"Memang kau mau kemana? Ah. Kau harus bolak balik luar negeri ya menggurus kepemilikan orang tua mu. Aku baru ingat" Ucap Ethan yang lupa perkataan Baruna jika dia kadang sulit dihubungi karena harus pergi keluar negeri. Bisnis kedua orang tuanya harus dia pantau sesekali meski dia tidak menjalankannya. Sekalian dia juga memberi bantuan untuk orang yang membutuhkan saat dia ada di tempat itu.
"Iya. Aku akan hadir jika bisa. Aku janji" Ucap Baruna sambil tersenyum.
Lagi lagi Ethan merasa melihat wajah Baruna pada sosok Avisa dihadapannya itu.
Baruna kembali melihat ke arah pasangan pengkhianat itu. Dia akan mulai memburu satu persatu musuh dan pengkhianat yang sudah menghancurkannya.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
-linalim-
__ADS_1