
Baruna melihat sebuah taman bunga yang luas. Terlihat banyak sekali bunga Dandelion si sekelilingnya.
Bunga Dandelion merupakan tumbuhan liar yang banyak hidup di daratan Eropa dan Asia.
Bunga yang membentuk bulatan tampak indah dan menarik perhatian mata.
"Dimana aku? " Ucap Baruna heran.
"Pakaian apa ini? " Tanya Baruna pada diri sendiri.
Baruna kebingungan dengan pakaiannya yang seperti putri-putri jaman kerajaan tiongkok dulu.
Baruna berkeliling melihat-lihat tanaman yang indah itu hingga tiba di sebuah air terjun yang indah dan masih alami. Terlihat beberapa bunga teratai yang bermunculan di sekeliling air terjun itu.
"Kai... Kaimana... Kau dimana? "
Terdengar suara seseorang memanggil nama Kaimana.
Seorang pria muncul mendekati Baruna.
"Kaimana. Kau disini rupanya" Ucap Pria itu lalu memegang tangan Baruna.
Baruna terdiam. Dia terkejut. Pria itu berwajah Ethan.
"Ethan? " Ucap Baruna heran.
"Siapa Ethan? " Pria berwajah Ethan itu malah bingung melihat Baruna.
" Tentu saja kau. Kau Ethan" Ucap Baruna yang semakin bingung.
"Aku bukan Ethan. Aku Arvie. Apa kau sedang sakit? " Tanya Pria yang berwajah Ethan itu.
Baruna semakin kebingungan, Dia yakin pria di hadapannya ini adalah Ethan. Tapi kenapa pria itu mengatakan dia bernama Arvie.
"Maafkan Aku. Aku bersalah padamu. Jangan lagi menjauhi ku. Aku bisa gila Kaimana. Aku benar-benar bisa gila" Ucap pria bernama Arvie itu.
"Siapa Kaimana? " Tanya Baruna lagi semakin kebingungan.
" Kau Kaimana. Apa yang terjadi pada mu? Kau sepertinya benar-benar sakit. Ayo kembali ke istana. Akan aku panggilkan Tabib memeriksa mu" Ucap Pria itu.
"Tunggu. Istana? Aku dimana? " Tanya Baruna semakin heran.
Dia yakin dia sedang bermimpi, tapi kenapa mimpi ini begitu nyata dan dia bisa berbicara dengan pria di hadapannya ini.
Bukan hanya berbicara, dia bahkan bisa bersentuhan tangan dan merasakan hangatnya tangan pria di hadapannya itu.
"Kita sedang di dekat hutan Mozzat. Jika kau marah jangan lagi kabur sendirian. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Sebentar lagi pesta pernikahan kita, jika Baginda tau dia bisa marah besar" Ucap Pria itu tersenyum lembut.
Mata Baruna terbelalak. Menikah? Baginda? Baruna berharap dia segera bangun dari mimpi gila itu.
"Argh!!! " Baruna memegang kepalanya.
Baruna merasakan sakit yang sangat amat pada kepalanya.
"Kaimana... Kai.... " Suara pria itu perlahan menghilang.
Baruna merasa pandangannya gelap.
"Hah... Ha.... Aku... Ah.... " Baruna terbangun.
Baruna berada di kamarnya sendiri. Tubuhnya terasa penuh keringat.
__ADS_1
"Kaimana"
Baruna teringat pria yang memanggilnya itu lagi.
"Siapa Kaimana dan Arvie?" Tanya Baruna pada diri sendiri.
Jantung Baruna terasa sakit. Dia menangis, dia merasa seolah hatinya tercabik-cabik. Entah apa yang membuatnya begitu sedih.
"Kenapa. Kenapa begini sakit. Ada apa ini? " Ucap Baruna pada dirinya sendiri. Dia masih tidak mengerti. Rasanya sangat menyakitkan.
.
.
Di tempat berbeda, Ethan juga berada dalam mimpinya.
Dirinya bermimpi berada di sebuah hutan. Ethan berjalan perlahan.
"Tempat apa ini" Ucap Ethan pada dirinya sendiri.
Hutan yang cukup lebat dan masih asri. Benar-benar sangat seger udara di sana.
Ethan mendengar gemericik suara air terjun. Ethan berjalan mengikuti arah suara air itu.
Mata Ethan berbinar melihat pemandangan indah di air terjun itu.
"Indah sekali" Gumam Ethan tanpa sadar.
Ethan mendengar suara teriakan kesakitan seorang perempuan. Dirinya berlari menuju arah suara itu.
Terlihat seorang pria berpakaian kerajaan jaman dahulu dengan sebuah pedang di tangannya.
Pedang itu terlihat meneteskan darah segar.
Ethan berusaha mendekat ke arah kedua orang itu dengan perlahan.
"Arvie.... "
Suara seorang perempuan terdengar lirih.
"Maafkan aku"
Lanjut perempuan itu.
Deg!
Jantung Ethan terasa berdegub kencang. Dia seperti mengenal suara perempuan itu meskipun sangat lirih.
Pria yang memegang pedang itu tampak berbalik ke arah Ethan.
Ethan sangat terkejut hampir berteriak.
"Kau!!! Eh.. Aku??? " Ucap Ethan kebingungan.
Pria yang memegang pedang itu berwajah persis dengan Ethan. Mereka bak pinang di belah sembarang.
Pria itu berjalan menuju arah Ethan. Tubuh Ethan membeku terpaku. Bukan hanya karena takut dengan pria yang memegang pedang penuh darah itu. Tapi juga karena wajah mereka sangat mirip. Bahkan ekspresi kemarahan di wajah pria itu persis dengan wajah Ethan.
Pria itu semakin dekat dengan Ethan. Anehnya tubuh pria itu berjalan menembus Ethan.
"Eh?? " Ethan tersadar dia sedang bermimpi.
__ADS_1
Namun mimpinya sangat nyata Dia bisa menyentuh dedaunan, bunga, air. Bahkan dia bisa mendengar suara pria dan perempuan itu dengan jelas.
"Tadi ada yang menyebutnya Arvie. Siapa dia kenapa sangat mirip dengan ku" Gumam Ethan.
Ethan yang masih bingung melihat ke arah seorang perempuan yang tergeletak di dekat batu besar berdekatan dengan air terjun itu.
Ethan memberanikan diri berjalan mendekat. Terlihat darah mengalir di sekeliling perempuan itu. Hal yang aneh dari percikan darah perempuan itu tampak bermunculan bunga teratai yang indah dan harum.
"Uhukk.. Uhuk... "
Perempuan itu terbatuk dan memuntahkan sedikit darah segar.
"Maaf. Arvie. Hah.. Hah... Aku gagal "
Kini suara perempuan itu lebih jelas di telinga Ethan. Suara yang sangat Ethan kenali.
Ethan semakin bingung bercampur penasaran. Dia setengah berlari mendekati perempuan itu hingga jarak mereka hanya 10 langkah.
Hati Ethan seolah tersambar petir. Ethan terkejut. Wajah perempuan yang dicintainya berada di hadapannya kini dengan tubuh penuh darah dan luka tusukan di perutnya.
"Baruna.. " Ucap Ethan lirih.
Ethan benar-benar terkejut. Dia melihat sosok Baruna berpakaian seperti putri di jaman Tiongkok. Baaruna berpakaian biru muda yang indah.
Wajah Baruna yang dia lihat itu tersenyum meskipun dia terluka parah.
"Aku harap kau tidak terlalu membenciku. Aku pergi"
Ucap perempuan berwajah Baruna itu lalu menutup matanya perlahan.
"Baruna.. Una!!!! "
Teriak Ethan yang menangis sedih melihat Baruna di hadapannya yang terluka penuh darah.
Ethan berusaha berlari menyongsong tubuh Baruna yang dia lihat.
Namun di saat itu juga Ethan terbangun dari mimpinya.
"Una!!!! "
Teriak Ethan lagi hingga dia sadar dia sedang berada di kamarnya.
Ethan menyentuh pipinya. Dia menangis dalam tidurnya.
"Baruna.... " Ucap Ethan lirih mengingat perempuan berwajah Baruna yang terluka itu.
Yang lebih menyakitkan, Ethan melihat dirinya yang sudah membunuh Baruna.
"Apa arti mimpi itu. Apa itu nyata? Apa aku pernah melukai Baruna? " Gumam Ethan sambil menahan sakit di dadanya.
Ethan merasa sangat sedih dan terus menangis.
" Maafkan aku, Arvie. Maaf aku gagal. Jangan membenciku "
Suara perempuan dalam mimpinya terus terngiang-ngiang di telinga Ethan.
Ethan bingung. Apa dia hanya bermimpi, atau itu sebuah pertanda. Rasanya sangat menyakitkan dan menakutkan bagi dirinya.
"Maafkan aku, Una. Maaf" Ucap Ethan lirih.
.
__ADS_1
.
.