Sang Pewaris Lautan

Sang Pewaris Lautan
Frans - Rico


__ADS_3

Waktu berlalu. Hari Rabu Legi pun tiba. Hari di mana Baruna akan menghancurkan kehidupan Frans hingga jatuh ke titik terendahnya.


Baruna sudah menyiapkan segala sesuatunya hingga para jin yang di pelihara Frans akan lepas dan pergi dengan sendirinya karena ulah Frans. Tentu tanpa sepengetahuan Rico jika itu ulah Baruna.


Pagi - pagi Baruna sudah membersihkan diri, menikmati sarapan bersama Snowy yang juga sudah bersiap.


"Jadi Kau mau masuk sendiri ke dalam rumahnya? Aku cukup memantau dari luar jika akan ada pengganggu bukan?"


Tanya Snowy memastikan rencana dari Baruna.


Baruna mengganggu membenarkan perkataan Snowy. Baruna menyediakan sekantung garam laut yang sudah dia mantrai.


"Taburkan benda ini di sekeliling rumahnya begitu Aku berhasil masuk ke dalam" Ucap Baruna pada Snowy.


"Baik. Aku paham" Ucap Snowy dengan penuh senyuman menerima sekantung garam laut dari tangan Baruna.


Dia memang sudah tidak sabar melihat hati kehancuran pria bernama Frans itu. Dia malah ingin sekali langsung menariknya ke alam lain dan menghukumnya dengan berat.


"Apa tidak bisa kita langsung membunuhnya saja?" Tanya Snowy yang sangat tidak sabar ingin menginjak wajah Frans.


"Tidak. Dia harus mengalami kehancuran di dunia manusia. Dia harus mendapat kecaman dan hukuman dari dunia manusia agar semua orang tau betapa buruknya dia dan semua korbannya dulu bisa menuntutnya juga" Ucap Baruna.


Dia memang ingin sekali menghancurkan bisnis dan citra baik Frans selama ini. Karena bagaimana pun pasti ada juga korban yang seperti kondisi Baruna dulu.


Tidak bisa melawan dan tidak bisa juga berbuat apa pun. Maka ini adalah waktu yang tempat untuk menghancurkan Frans dan membuatnya mengalami rasa sakit agar para korbannya bisa merasa puas dan terbalaskan juga.


"Kitty tinggal di rumah ya. Santai dulu. Kakak akan pergi sebentar. Mengerti?"  Ucap Snowy pada Kitty yang di balas dengan suara mengeong tanda setuju dari kucing lucu itu.

__ADS_1


Selesai makan dan ber-beres semua keperluan. Baruna dan Snowy turun ke parkiran dan langsung menaiki mobil menuju ke arah kompleks perumahan yang di huni oleh Frans.


Sembari mengemudi Baruna menyempatkan diri mengabari Ethan jika dia sudah menuju ke rumah Frans dan akan memulai rencananya.


.


.


Di kantor perusahaan Christian~


Ethan terlihat sedang membaca beberapa laporan sebelum menemui Rico. Dia sudah berjanji akan menjemput Rico untuk pergi ke suatu tempat yang lebih privasi bagi mereka.


Ponsel Ethan berbunyi dan terlihat pesan masuk dari Baruna.


Ya kekasihnya itu mengirimkan kabar jika dia akan segera menuju ke rumah Frans.


Pasti jika ada sinyal bahaya dari Frans akan terabaikan oleh Rico. Mengingat pria itu sangat antusias dan berharap bisa mendekati Ethan sekian lama. Tentu jika Ethan yang meminta maka cenayang muda itu akan mengikutinya agar bisa mendapat kepercayaan Ethan terlebih dahulu.


"Sudah semua? Aku ada urusan penting. Tolong gantikan aku. Jika urgent kabari saja dulu" Ucap Ethan pada Asisten pribadinya.


"Baik Tuan Muda" Jawab si Asisten dengan patuh.


Sepertinya alam sedang mendukungnya, Tidak ada hal penting dan genting yang harus di urus oleh Ethan secara langsung. Semua hal di perusahaan maupun bengkelnya itu berjalan dengan lancar tanpa gangguan.


Dia merasa cukup tenang bisa meninggalkan kantor untuk mengurus Rico terlebih dahulu. Begitu turun dari lift, Ethan segera memasuki mobilnya dan menuju sebuah cafe tempat Rico berjanji dengannya untuk bertemu. Di sana pula Ethan akan menjemput pria itu.


Ethan akan membawa mereka menuju tempat sejauh mungkin agar Rico sulit untuk kembali ke tengah kota jika di butuh kan oleh Frans.

__ADS_1


Begitu tiba di cafe tempat mereka berjanji temu. Rico langsung menyambut Ethan dengan ramah.


"Maaf Aku terlambat " Ucap Ethan dengan sopan.


"Oh tidak masalah. Aku juga baru sampai. Mau minum apa?" Tanya Rico pada Ethan dengan penuh senyuman.


"Tidak usah. Kita minum di tempat lain saja" Ucap Ethan sambil tersenyum.


Mendengar itu Rico hanya manut saja akan keinginan Ethan. Meskipun dia tidak tau mereka akan ke mana namun setidaknya Rico tau jika Ethan ingin berbicara berdua saja karena privasi.


"Baiklah. Kita akan ke mana?" Tanya Rico penasaran.


"Tempat yang lebih tenang dan privasi untuk berbicara" Jawab Ethan sambil tersenyum.


Rico pun mengikuti langkah Ethan keluar dari cafe itu dan memasuki mobil Ethan.


Mobil kini melaju menuju ke arah ujung kota yang lebih sepi dan sulit di jangkau tanpa kendaraan pribadi. Tempat yang hampir tidak ada kendaraan umum selain ojek yang mangkal di beberapa warung di daerah itu.


"Di sana ada sebuah tempat makan yang cukup enak. Kita makan di sana saja sambil berbincang" Ucap Ethan memberi tahu Rico yang tampak heran namun tidak curiga.


"Baiklah" Ucap Rico yang mempercayai Ethan. Dia cukup kagum dengan pemandangan selama perjalanan yang begitu asri.


Mereka pun akhirnya tiba di sebuah warung makan yang berdiri kokoh bersebelahan dengan tebing dan lautan luas.


"Ayo" Ucap Ethan mengajak Rico untuk turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya dengan baik.


.

__ADS_1


.


__ADS_2