
Hari ini waktu persidangan dari kasus Ronaldi berserta kelompoknya. Mereka di dakwa atas tuntutan perdagangan anak anak di bawah umur, pelecehan anak di bawah umur, juga perdagangan obat terlarang.
Ronaldi dan kelompoknya juga menjalani tes urine dan darah karena diduga turut mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu. Namun yang tidak Ronaldi ketahui, dirinya sudah dinyatakan positif terjangkit virus HIV.
Baruna turut hadir di persidangan bersama dengan pria muda yang sangat membenci Ronaldi. Pria itu pula yang menularkan virus dan penyakit itu pada Ronaldi dengan sengaja. Karena Ronaldi jugalah dia harus kehilangan kekasih, terjerumus dalam kehidupan melenceng, bahkan tertular HIV karena melayani klien Ronaldi.
"Kau puas?" Tanya Baruna setengah berbisik pada pria muda itu.
Pria nuda itu mengenakan masker dan menjaga jarak dari orang-orang. Dia hanya ingin datang melihat penderitaan dan kehancuran Ronaldi.
"Belum. Aku ingin melihatnya meminta kematian datang secepatnya" Ucap pria muda itu dengan tatapan membunuh pada Ronaldi yang tengah di sidang itu.
Selesai sidang pertama Ronaldi kembali di bawa menuju ruangan khusus karena saat ini statushya sudah menjadi tersangka dan akan di tahan di rutan.
Baruna dan pria muda itu mendekati Ronaldi. Baruna meminta ijin kepada pihak kepolisian yang menjaga Ronaldi di ruangan khusus.
"Silahkan. Hanya 5 menit ya Nona" Ucap Polisi itu dengan sopan.
"Terima kasih Pak. Itu sudah cukup" Ucap Baruna.
Terlihat Ronaldi tertunduk lesu. Penampilannya tidak terawat sangat berbeda dengan biasanya. Tak tampak juga satu pun keluarganya atau sang istri tercinta yang menghadiri persidangan.
"Bagaimana rasanya hidup di ambang kehancuran dan tidak ada yang memperdulikan mu Ronaldi?" Ucap pria muda itu sambil terkekeh.
"Kau.. Jadi semua ini ulah mu?" Tanya Ronaldi dengan kesal menatap pria muda itu lalu beralih melihat sosok Avisa.
"Ini baru permulaan Ronaldi. Kau sudah membunuh Jessica ku. Kau juga menghancurkan hidupku!" Ucap pria muda itu penuh amarah.
"Sialan kau!!!" Ronaldi tampak tidak senang ingin menyerang pria muda itu. Baruna langsung memukul telak perut Ronaldi hingga dia jatuh tersungkur di lantai.
"Oh ya. Coba tanya polisi dan dokter yang memeriksa urine dan darah mu. Ku pastikan kau tertulas virus HIV karena aku sengaja menularkannya pada mu! Karena kau yang membuatku menderita penyakit laknat itu!" Ucap pria muda itu dengan ketus.
Ronaldi terdiam, wajahnya memucat mendengar perkataan pria muda dihadapannya.
"H-HIV?? Kau pasti berbohong!!" Ucap Ronaldi menolak kenyataan.
"Tanya saja kalau kau tau percaya. Toh aku tidak peduli kau percaya atau tidak" Ucap pria muda itu dengan santai.
Ronaldi menangis, dia memegang perutnya yang sakit karena dipukuli Baruna.
Baruna mendekati Ronaldi dan berbicara dengan suara sepelan mungkin yang hanya bisa fi dengar oleh Ronaldi.
"Dan aku membawakan hadiah lain untuk mu. Mulai hari ini kau akan merasakan sakit yang teramat di seluruh alat vital mu. Itu hadiah dari Baruna yang sudah kau hancurkan!" Ucap Baruna penuh penekanan dan tatapan tajam membunuh.
__ADS_1
Ronaldi terkejut sosok cantik Avisa di hadapnya menyebut nama Baruna. Gadis yang tidak bisa di raih Ronaldi dan akhirnya berujung di fitnah oleh Ronaldi karena tidak terima penolakan dari Baruna.
"Ba-Baruna.. Baruna masih hidup?" Tanya Ronaldi setengah menangis. Dia ketakutan karena tidak asa lagi orang yang mau membantunya. Keluarga istrinya lepas tangan. Sang Istri bahkan menggugat cerai dirinya akibat pengkhianatan dan rasa malu terhadap keluarga besarnya.
"Aku... Akan melihat setiap detik kematianmu. Seperti saat kau menghancurkan dan mempermalukanku" Ucap Baruna di telinga Ronaldi lalu bangkit menjauhi pria bejat itu.
Baruna melepaskan seekor ular gaib berukuran kecil yang tak tampak wujudnya. Ular itu melilit organ vital Ronaldi yang membuat Ronaldi kesakitan.
"Akhh... Arghhh... Sakit!!!!" Teriak Ronaldi.
Beberapa polisi masuk dan memeriksa apa yang terjadi.
"Ada apa?" Tanya polisi salah satu polisi.
"Kami tidak tahu. Tiba-tiba dia berdiri mau menyerang kami tapi malah jatuh sendiri dan kesakitan" Ucap Baruna berpura-pura sedih dan takut.
Polisi polisi itu tentu percaya dengan sosok Avisa. Apalagi dialah yang membantu mendapatkan bukti kejahatan Ronaldi.
Baruna melihat ke sudut ruangan, dengan matanya dia merusak CCTV yang ada di ruangan itu hingga tentunya merusak keseluruhan memori didalam.
"Maaf Nona Avisa. Lebih baik anda meninggalkan ruangan ini. Biar kami bisa meminta tenaga media mengurus tersangka ini" Ucap salah satu polisi disana dengan sopan.
"Baik. Terima kasih Pak" Ucap Baruna lalu mengajak pria muda itu keluar.
"Apa yang kau katakan padanya?" Tanya pria muda itu penasaran.
"Aku hanya bilang selamat menderita dan terima lah karmanya" Ucap Baruna berbohong.
"Pantas wajahnya pucat. Dia pasti akan merasa stress dan semakin terpuruk" Ucap pria muda itu terkekeh.
"Kau berobat lah. Selagi virus itu bisa di kendalikan maka kau akan baik baik saja. Setidaknya jika kau bertahan hidup kau bisa melakukan hal yang lebih baik lagi" Ucap Baruna menasehati.
"Terima kasih. Tapi aku cukup puas meskipun harus mati saat ini. Akhirnya aku bisa membalaskan perbuatan manusia bejat itu" Ucap pria itu terdengar senang.
"Aku berharap kau tetap hidup dan banyak melakukan kebaikan" Ujar Baruna serius.
"Akan aku usahakan. Mulai sekarang anggap kita tidak pernah saling mengenal. Tidak ada untungnya kau mengenal mantan pel@cur gay seperti ku yang sedang terkena penyakit laknat" Ucap pria muda itu terdengar miris.
"Aku tidak peduli. Penyakit mu tidak akan bisa mengerogotiku. Ya sudah aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi lain hari" Ucap Baruna lalu menuju mobilnya yang terparkir. Didalam tampak Snowy duduk dengan manis
Snowy juga masuk kedalam ruangan sidang namun dengan wujud tak terlihat. Dia juga tahu apanyang di lakukan Baruna kepada Ronaldi di ruangan khusus tadi.
"Kau terlalu baik. Kenapa harus ular kecil? Harusnya kau berikan saja ular besar yang melilit sekligus mematahkan miliknya itu. Lagi pula dia menggunakannya untuk melakukan hal bejad selama ini" Ucap Snowy protes.
__ADS_1
"Tidak usah. Jika dia langsung mati dan hanya merasakan sakit sekali saja itu tidak menyenangkan. Dia akan merasakan sakit terus menerus hingga alat vitalnya itu membusuk. Itu lebih cocok untuk manusia sepertinya" Ucap Baruna sambil tersenyum smrik.
"Wow. Betul juga. Kau keren!" Ucap Snowy senang.
"Ah ya. Kau semalam kemana bersama Ethan?" Tanya Baruna penasaran.
"Kenapa? Kau takut aku membunuh kekasihmu?" Tanya Snowy mengejek.
"Sialan! Aku serius! Dia bukan kekasihku! Cam kan itu!" Ucap Baruna tidak suka Snowy selalu meledeknya merupakan kekasih Ethan.
"Aku mengajaknya ke tempat penampungan hewan. Dia tampak menyukai hewan hewan itu bahkan bersedia setiap pulang kantor akan ke sana. Dia sampai meminta karyawannya membangun satu ruangan khusus lagi untuk binatang yang butuh oenanganan khusus" Jelas Snowy.
Ethan yang kemarin dia culik harus membantunya mengurus banyaknya hewan terlantar sekaligus memandikan anjing anjing dan kucing kucing itu. Snowy sengaja melakukan itu untuk mengetahui kesabaran Ethan sampai dimana.
Seorang manusia dapat diukur tingkat kesabaran dan cinta kasihnya saat direpotkan mengurus binatang-binatang tak terawat. Itu yang Snowy pahami. Sifat asli manusia akan keluar jika berada diantar hewan hewan yang tak terurus.
Jika memang benar Ethan memiliki sifat yang baik tentu dia akan merawat binatang-binatang itu dengan senang hati tanpa mengeluhm Hal itu terlihat di wajah Ethan saat Snowy memperhatikan tingkah lakunya bersama anjing anjing di sana.
Ethan tak tampak mengeluh maupun jijik. Malah dengan sabar membersihkan tubuh para anjing itu hingga bersih dan membersihkan tempat penampungan yang cukup luas itu bersama Snowy.
"Dia tidak buruk. Aku bisa melihat dia manusia yang terbaik dalam memperlakukan hewan. Banyak manusia yang baik dengan heran peliharaan yang bersih, tapi belum tentu baik pada hewan terlantar yang tampak kotor" Ucap Snowy jujur menilai sikap Ethan.
"Tapi belum tentu dia baik pada manusia juga" Ucap Baruna.
"Mungkin ada satu dan lain hal yang terjadi membuatnya seperti itu" Ucap Snowy lagi.
"Hei! Perasaan kau menasehati ku jangan menyukai manusia dan jangan lembut pada manusia! Malah kau yang tampak menyukai Ethan saat ini!" Ucap Baruna kesal.
"Entahlah. Aku merasa dia berbeda. Baunya tidak sepenuhnya bau manusia. Yah setidaknya dia saat ini tidak berbahaya. Tapi kalau dia berbahaya tentu akan aku bunuh tanpa ijin darimu!" Ucap Snowy jujur.
Baruna terdiam. Dia ingat perkataan Naga Qiulong jika Ethan dulunya merupakan keturunan Raja Elang. Entah apakah di masa kini masih sama atau berbeda. Baruna tidak tahu itu.
Seekor burung elang bermata merah tampak mengamati mobil Baruna Burung itu tidak mencoba mendekat. Dia hanya menatap saja.
"Kau semakin kuat dibanding dahulu. Apa kalian akan kembali saling membunuh?" Gumam burung elang jadi jadian itu.
.
.
.
Disclaimer : SEMUA CERITA-TOKOH-TEMPAT-KEADAAN HANYALAH FIKSI BELAKA. TANPA MENGURANGI RASA HORMAT KEPADA SIAPAPUN SEMOGA KARYA INI DAPAT MENGHIBUR TEMAN-TEMAN SEKALIAN.
__ADS_1
-linalim-